Janda Cantik Milik Pak Polisi

Janda Cantik Milik Pak Polisi
S2 - 13


__ADS_3

13


Dengan malu-malu, mentari pagi perlahan muncul dari peraduannya, menggantikan rembulan yang sudah semalaman menemani bumi dengan cahayanya. Jam berbentuk rumah di dinding sudah menunjukkan pukul 06.15 saat sepasang suami istri itu kembali ke rumah, setelah selesai salat subuh mereka keluar jalan-jalan pagi sambil mencari bubur ayam. 


"Aaaa ...." 


Andre dan Irma yang baru saja sampai tiba-tiba dikejutkan oleh teriakan yang terdengar dari kamar Friska. 


"Ba, Friska kenapa?" tanya Irma. 


"Entahlah. Baba lihat dulu." 


Andre yang juga tidak tahu apa yang terjadi langsung menuju kamar Friska dengan terburu-buru, khawatir terjadi sesuatu pada adiknya karena teriakan Friska terdengar sangat histeris. Begitu pun dengan Irma. Ia juga menyusul suaminya untuk melihat keadaan Friska.


"Fris, kamu kenapa?" Andre yang tadinya sangat khawatir malah dibuat mengerutkan kening saat melihat keadaan adik bungsunya. 


Friska tampak sedang jingkrak-jingkrak tidak karuan di atas tempat tidur sambil bernyanyi tidak jelas. Ia juga melempar-lempar bantal layaknya bola, lalu menangkapnya lagi dan memeluk bantal itu seperti sedang memeluk seseorang. 


"Ada apa dengan Friska? Kenapa berteriak-teriak?" tanya Irma yang baru saja sampai. 


"Noh!" Andre menunjuk adiknya yang sedang senyum-senyum sendiri sambil memeluk bantal, tanpa menyadari kehadiran mereka. 


"Dia kenapa?" 


Andre hanya mengedikkan bahu, lalu masuk ke kamar yang sudah berantakan. 

__ADS_1


"Kesambet setan mana kamu, De?" tanya Andre yang berhasil membuat Friska tersentak. 


Gadis itu menyadari kehadiran kakak dan kakak iparnya saat kedua orang itu sudah ada di kamar. "Eh, kakak! Sejak kapan ada di sini?" ujar Friska, nyengir kuda. 


"Sejak kau teriak-teriak gak jelas kemudian senyum-senyum gak jelas kayak orang kesurupan," jawab Andre.


"De, kamu baik-baik saja kan?" tanya Irma kepada Friska. Wanita yang sedang duduk di tepi ranjang Friska tampak sangat mengkhawatirkan adik iparnya itu. 


Bukan tanpa sebab, Irma begitu mengkhawatirkan Friska, sejak pulang dari toko kemarin sikap gadis itu sedikit aneh. Friska yang sering nyerocos seperti saringan bocor, tiba-tiba lebih banyak diam dan bicara seperlunya. Dan, hari ini ia mendengar Friska berteriak histeris, serta menyaksikan kamar yang sudah berantakan dengan penghuni kamar yang sedang senyum-senyum sendiri. 


"Aku baik-baik saja, Kak," jawab Friska dengan seutas senyum. 


"Benar baik-baik saja, kan? Kalau ada masalah cerita sama kakak. Kakak tidak mau kalau nanti mamah dan ayah mengeluh sama kakak karena kami tidak mengurusmu dengan baik." Irma khawatir terjadi sesuatu di tempat magangnya, sehingga membuat Friska tertekan. "Apa terjadi sesuatu di tempat kerjamu?" lanjut Irma. 


Sementara itu, Andre yang tahu tabiat adiknya hanya geleng-geleng kepala. "Sudah, Bu, dia tidak apa-apa. Palingan dia ketemu laki-laki ganteng di tempat magangnya, terus kejebak virus cinta pandangan pertama," jelas Andre. "Mendingan kita bersih-bersih, udah siang! Dia kalau sedang falling in love suka kayak orang stres dadakan." Andre menarik tangan sang istri untuk meninggalkan kamar Friska, masih banyak ritual pagi yang belum mereka kerjakan karena kehebohan adiknya. 


"Kakak, gue gak stress!" protes Friska, yang masih belum bisa konsisten dalam mengucapkan 'aku dan gue'. 


"Memang siapa yang bilang kamu stres? Aku hanya bilang kayak orang stres," jawab Andre sambil berlalu. 


"Sama saja Ferguso!" teriak Friska sambil melempar bantal ke arah Andre, tetapi tidak kena karena lelaki itu lebih dulu menutup pintu kamar Friska. 


"La ... la ... la ... aku senang sekali," ucap Friska dengan nada lagu Doraemon selepas kepergian Irma dan Andre. "Aaa ... gue sangat-sangat-sangat bahagia. Benar-benar pagi yang indah dengan mentari yang cerah, secerah hati gue setelah mendapatkan pesan balasan dari Kak Ryan," tandas Friska sambil mencium tiga kali ponselnya. "Muach ... muach ... muach ...." kemudian beranjak dari tempat tidur untuk segera ke kamar mandi, tentunya dengan senyum yang terus merekah. 


Beberapa saat lalu sebelum Andre dan Irma pulang, lebih tepatnya lagi saat Friska baru saja bangun tidur, gadis itu yang semalaman tidak mengaktifkan ponsel karena merasa mood-nya sedang anjlok pun, mengaktifkan ponselnya kembali. Banyak sekali pesan dan panggilan yang masuk dari teman-teman juga  pesan dari group-group yang diikuti Friska. Hingga matanya tertuju pada pesan salahsatu nama kontak yang juga mengirim pesan kepada Friska, bahkan mencoba menghubunginya. 

__ADS_1


"Ini beneran dia kan?" gumam Friska, tidak percaya. Ia sampai mengucek-ucek matanya, takut hanya sekedar halusinasi karena memikirkan lelaki itu semalaman. "Guardian Angel. Ish ... ini beneran dia." Friska sampai mengeja nama kontak yang tertulis, untuk memastikan. Kemudian, membuka pesan yang dikirim lelaki itu sejak semalam. 


Di isi pesannya, Ryan meminta maaf karena tidak menerima panggilan dan membalas pesannya karena ponsel Ryan tertinggal di rumah, dan baru tahu kalau Friska menghubunginya setelah tiba di rumah. 


Nyawa yang sebelumnya masih sedikit berceceran, langsung terkumpul sempurna begitu membaca pesan dari Ryan. Tanpa pikir panjang lagi, Friska langsung membalas pesan Ryan semalam itu. Dan, baru saja gadis itu mengirimkan pesan, Ryan sudah menjawab lagi. 


"Dia sudah on juga," gumam Friska. 


Mereka pun berbalas pesan sampai beberapa kali, hingga Friska memberanikan diri mengajak Ryan untuk makan bersama dengan alasan sebagai pengganti uang bensin dan coklat yang lelaki itu berikan. Karena beberapa kali Friska mengatakan akan mengganti uang itu, Ryan selalu saja menolak. 


[Kalau uangnya gak mau diterima, bagaimana kalau kita makan bersama? Aku yang traktir, itung-itung gantiin uang kakak yang kemarin.]


[Bagaimana, ya?]


[Ayolah, Kak. Kalau Kakak masih menolak juga, aku nangis, nih!] Friska kembali membalas pesan Ryan dengan emoticon sedang menangis kejer. 


[Ya, sudah, kalau tidak mau juga. Aku transfer saja uang coklat dan bensinnya ke rekening Kakak. Aku bisa tanya norek-nya ke Kak Irma kalau kakak tidak mau memberikan.] Keysa kembali mengirim pesan setelah pesan pertamanya tidak dijawab. 


Sampai beberapa menit, tidak ada lagi jawaban dari kedua pesan yang dikirim Friska, membuat gadis itu kembali uring-uringan dan melemparkan selimut dan guling ke lantai. "Ah, sudahlah! Sepertinya dia tidak akan membalas pesan gue lagi. Mendingan mandi dan siap-siap pergi ke kantor." Friska melempar ponselnya, lalu beringsut hendak turun dari ranjang. 


Namun, sejurus kemudian ponsel kembali berdering. Dengan cepat, Friska pun menyambar kembali ponsel yang sempat dilemparnya. 


[Uang coklatnya gak usah diganti. Kita makan bersama aja, ya. Nanti kamu yang atur waktunya.] Sebuah pesan dari Ryan, akhirnya masuk ke ponsel Friska. 


Pesan itulah yang berhasil membuat gadis itu berteriak histeris dan jingkrak-jingkrak tidak jelas di tempat tidurnya. Pesan yang menjadi moodboster bagi Friska untuk menjalani harinya, meskipun harus dikatai seperti orang stres dadakan oleh Andre.

__ADS_1


__ADS_2