Janda Cantik Milik Pak Polisi

Janda Cantik Milik Pak Polisi
S2 - 1


__ADS_3

1


Semenjak kedatangan kedua orang tua dan adiknya, Andre berubah sangat posesif kepada Irma. Ia yang diceramahi panjang lebar tentang kondisi seorang wanita hamil oleh Rita, langsung tidak pernah mengizinkan Irma melakukan pekerjaan rumah dan hal-hal lainnya meskipun hanya pekerjaan ringan. Ia tidak mau terjadi apa-apa pada istri dan calon bayinya. 


"Ba, aku itu hanya hamil, bukan sedang sakit!" protes Irma yang pergerakan terasa terkekang oleh Andre yang melarang ini dan itu. 


"Aku tahu, Sayang. Karena kamu sedang hamil, makanya kamu jangan bekerja yang berat-berat. Ingat kata mamah kalau ibunya kecapean, anaknya juga pasti kecapean dan itu sangat berpengaruh pada kondisi si twins. Ini semua demi kebaikan kamu dan juga twins." Lelaki yang sedang menggendong wanita dengan perut yang mulai membuncit itu benar-benar tidak ingin dibantah.


"Kalau ibunya stres, anaknya juga pasti ikutan stres, Ba!" protes Irma lagi dengan bibir yang sudah mengerucut. Ia merasa Andre terlalu berlebihan, bahkan untuk sekedar masuk kamar mandi pun lelaki itu tidak pernah mengizinkannya jalan kaki. Andre selalu menggendongnya, seperti yang dilakukan lelaki itu saat ini.


Andre menarik ujung bibirnya melihat Irma yang merajuk, lantas mendudukkan tubuh yang mulai terasa berisi itu ke atas ranjang. Kemudian, menumpuk beberapa bantal di kepala ranjang supaya Irma bisa menyandarkan tubuhnya di sana. 


"Ba, ibu hamil juga harus bergerak, itung-itung olahraga biar ibu dan anaknya sehat," ujar Irma seraya beringsut menyandarkan tubuh di bantal yang sudah disiapkan sang suami.


Lagi-lagi Andre menjawab protes Irma hanya dengan seutas senyum. 


"Senyum mulu, lama-lama giginya rontok semua," ucap Irma yang terkadung kesal. 

__ADS_1


Andre tak menggubris ucapan Irma. Ia pun lantas lantas duduk di samping istrinya yang sedang mendumel. "Bukankah kita juga barusan habis olahraga?" ujar Andre dengan alis yang naik turun, menggoda si istri, yang membuatnya berhasil mendapatkan cubitan di perut. 


"Itu lain lagi." Bibir Irma semakin mengerucut, mengingat olahraga apa yang dimaksud Andre. 


"Sama aja. Sama-sama mengeluarkan keringat," jawab Andre dengan tawa yang mulai pecah. Melihat bibir Irma yang seperti siput itu membuatnya sangat gemas. Ia pun meraih tubuh yang memakai piyama polkadot itu ke dalam dekapannya. 


Bukan tanpa alasan, Andre semakin posesif. Ia pernah tak mengindahkan ucapan Rita karena Irma tidak suka berdiam diri terus di rumah tanpa melakukan apa pun. Hingga, ia mengizinkan sang istri untuk kembali beraktifitas seperti biasa. 


Masih teringat jelas di ingatan Andre, saat dirinya memberikan kebebasan kepada Irma untuk beraktifitas. Irma yang orangnya sangat aktif melakukan semua pekerjaan tanpa mengenal rasa lelah, sampai  melupakan kalau dirinya sedang hamil muda yang sangat beresiko. Ia mengerjakan semua pekerjaan yang menurutnya sangat menyenangkan. Tangannya sudah sangat gatal untuk melakukan ini dan itu. Namun, selang dua hari setelahnya, Irma harus dilarikan ke rumah sakit karena mengalami pendarahan dan hampir saja kehilangan kedua janin yang sangat ditunggu-tunggunya, bahkan juga membahayakan nyawa Irma sendiri. 


Moment itu adalah momen yang paling menakutkan bagi Andre. Jika sesuatu terjadi pada istri dan  juga anak-anaknya, Andre tidak akan memaafkan dirinya sendiri. Karena Irma identiknya adalah seorang istri yang penurut jika dirinya tidak memberi izin, wanita itu tidak akan melakukannya. 


"Tapi, Ba, sekarang aku sudah tidak apa-apa. Bukankah, kemarin dokter sudah bilang aku dan twins baik-baik saja. Biarkan aku beraktifitas kembali. Aku janji tidak akan melakukan hal-hal yang dapat membahayakan aku dan twins." Irma mendongak, menatap sang suami dengan memelas. 


Namun, bukan persetujuan yang didapat melainkan mata Andre hampir keluar semua yang dilihat Irma. Keputusan Andre sudah tidak bisa diganggu gugat, bahkan lelaki itu sudah menyewa asisten rumah tangga semenjak Irma masuk rumah sakit. 


Mengerti akan tatapan sang suami, Irma langsung menunduk. "Setidaknya buang kursi roda itu! Aku sudah tidak perlu melakukannya lagi. Ibu hamil juga harus menggerakkan tubuhnya," ucapnya pelan. 

__ADS_1


Andre tampak terdiam. Ia memperhatikan kursi roda yang selalu dipakai Irma selama sebulan terakhir ini. Irma sudah beberapa kali meminta untuk meninggalkan kursi roda karena sudah baik-baik saja, tetapi Andre selalu melarang. Andre juga mencoba mengingat wejangan-wejangan dari dokter yang memperbolehkan Irma beraktifitas ringan.


"Baiklah. Mulai besok Bubu tidak perlu memakai kursi roda lagi." 


Irma yang mendengar ucapan Andre langsung sumringah. "Benarkah?" tanya Irma, mendongak lagi ke arah sang suami yang sedang tersenyum ke arahnya. 


Andre mengangguk pasti dan langsung mendapatkan hujan ciuman di wajahnya. 


"Terima kasih," ucap Irma, sangat senang. 


"Tapi, jangan pernah mengerjakan apa pun yang—" 


"Iya, aku tahu. Aku tidak akan melakukan apapun, toh udah ada si Bibi juga." Irma memotong ucapan Andre yang hendak berceramah panjang lebar. 


Irma tahu meskipun suaminya sangat posesif, itu adalah bentuk Andre yang begitu mencintai dan menyayanginya. Ia juga sudah berjanji tidak akan mengulangi hal serupa yang bisa membahayakan dirinya beserta kandungannya. 


"Apa ada sesuatu yang Bubu inginkan?"  tanya Andre kemudian. 

__ADS_1


"Tidak ada. Hanya ingin memelukmu saja," jawab Irma sembari mengeratkan dekapannya.


__ADS_2