
34
Keinginan orang yang sedang hamil memang kadang aneh dan diluar nalar, tetapi sepertinya tidak bagi Irma. Wanita itu tidak menginginkan pergi ke Maldives atau pun Cappadocia atau tempaat-tempat lain yang terkenal dengan keindahan keromantisannya. Irma hanya ingin menghabiskan hari mereka di sawah dengan menikmati sejuta pesona ciptaan Tuhan dengan melihat potret kehidupan para petani yang sedang mengolah tanah berlumpur tersebut. Sebuah keinginan yang sangat ramah biaya, bahkan mereka tidak memerlukan karcis untuk menyaksikan semua itu.
Namun, sesuatu yang Irma idam-idamkan beberapa minggu ini bukan hanya sekedar melihat sawah, melainkan ada hal lain yang selalu membuat terbayang dipelupuk matanya.
"Hah?!" pekik Andre saat mendengar keinginan sang istri.
Ia benar-benar terkejut dengan kemauan Irma, hingga Andre berpikir kalau si istri sedang mengerjainya, meskipun Irma terus berkata jika itu adalah keinginan dua bayinya.
"Yang benar saja, Bu! Masa iya, Baba harus bajak sawah. Cara pake traktornya saja, Baba tidak tahu," protes Andre. "Apalagi enggak pake baju. Emang Baba mo jualan roti sobek di bawah matahari. Enggak mau." Andre langsung nyerocos begitu mendengar keinginan Irma.
"Ba ...." Irma langsung memelas begitu Andre menolak keinginannya. "Engga kasihan apa? Nanti anaknya ngences. Bubu-nya aja udah seminggu ini ngences mulu, karena keinginannya yang ini belum terpenuhi," ucapnya dengan wajah sendu karena Andre terus menolak dengan terus menggeleng.
"Yang lain saja, ya!" pinta Andre. Andre keukeuh tidak mau turun ke sawah. Masalahnya bukan hanya dibajak sawahnya saja, kalau masalah bajak sawah lihat sekali pun pasti langsung bisa dipraktekkan. Akan tetapi, ada sesuatu yang membuat polisi satu itu enggan untuk turun ke sawah.
Namun, Irma pun tetap pada pendiriannya. Ia ingin suaminya membajak sawah. Keadaan di mana Andre sedang mengendarai traktor dengan keringat yang membasahi tubuh serta cipratan lumpur-lumpur sawah yang mengenai tubuh tanpa baju itu sudah sering terbayangkan oleh Irma. Dan saat ini, ia tidak ingin hanya membayangkannya saja, tetapi ingin melihatnya secara langsung. Impian yang sangat simple bagi Irma, tetapi berat bagi Andre.
"Mas, tidak bisakah kamu memenuhi impianku itu. Impianku tidak muluk-muluk, aku hanya ingin kamu bajak sawah sambil cariin belut. Kata Mamang di sawah yang ini banyak belutnya," ucap Irma, setelah memaparkan keinginannya yang membuat air liurnya berproduksi lebih banyak.
Dan, seketika Andre ingin kabur dari tempat itu begitu mendengar ucapan terakhir Irma. Hal yang ia takutkan, malah menjadi sesuatu yang diinginkan istrinya.
'Ngidam macam apaan yang kayak gini? Bisa-bisanya ia minta aku cariin belut,' umpat Andre dalam hati, tetapi melihat wajah Irma yang sudah ditekuk karena penolakannya membuat Andre berpikir ulang kembali. Wanitanya memang terlihat sangat memimpikan semua itu.
'This is your dream and disaster for me.'
"Ya sudah tidak apa kalau tidak mau. Aku bisa cari sendiri." Irma kemudian beranjak dari tempat duduknya.
"Kamu mau ke mana?" Dengan segera, Andre mencegah Irma yang hendak turun ke sawah.
"Aku mau nyari belut. Meskipun enggak bisa liat Baba sopirin traktor setidaknya keinginan untuk dapat belut terpenuhi," jawab Irma.
Andre tidak bisa membiarkan Irma kecapean mencari belut di tengah terik matahari yang cukup membakar kulit. Istri dan anaknya lebih penting daripada rasa ketakutannya terhadap belut.
__ADS_1
"Naiklah! Aku akan cariin belutnya." Andre meminta Irma untuk naik ke darat.
Ia akan berusaha melawan ketakutannya terhadap hewan licin yang satu itu. Dan, saat mendengar kesediaan Andre untuk mencari belut, senyum Irma pun kembali tertampil.
Akhirnya, impian Irma terwujud. Ia bisa menyaksikan sang suami mengendarai traktor dengan dibantu oleh pekerja yang sudah ahli. Irma juga mendapatkan banyak belut dari hasil tangkapan Andre dan para pekerja yang juga membantu Andre. Jangan tanya seperti apa reaksi Andre saat menangkap belut tersebut. Keringat dingin tiba-tiba bercucuran saat makhluk super licin itu berada di tangannya, tetapi demi anak dan istrinya ia mencoba melawan semua ketakutan yang menjadi rahasianya itu hingga berhasil mendapatkan satu ember kecil belut.
Setelah, bergelut dengan lumpur dan belut menjelang tengah hari mereka menghentikan pekerjaannya. Kemudian mereka makan bersama menikmati makanan yang dibawa oleh Irma.
"Tambah lagi, Ba!" Irma menambahkan nasi dan lauk pauknya ke piring Andre.
Lelaki itu makan dengan begitu lahap setelah tenaganya terkuras habis di dalam petakan sawah yang luasnya sampai berhektar-hektar.
"Si Neng mah ngidamnya aneh-aneh, kasian Jang Polisi sampe kecapean kayak gitu," ujar si Mamang yang menyaksikan perjuangan Andre demi menyenangkan si istri.
"Tidak apa, Mang. Sekalian belajar jadi petani yang hebat, siapa tahu nanti setelah pensiun bisa jadi juragan tanah seperti Mamang," jawab Andre di sela-sela makannya kepada si Mamang yang merupakan pemilik sawah, tetapi tidak sungkan untuk turun langsung ke lapangan. Sementara itu, Irma hanya tersenyum malu. Sebenarnya ia kasihan juga kepada Andre, tetapi mau bagaimana lagi ia sangat ingin melihat suaminya melakukan semua itu.
"Tapi jadi petani itu perjuangannya sungguh sangat luar biasa, ya, Mang. Baru proses sebelum tanam saja cape sudah alhamdulilah, belum lagi yang lainnya. Tapi, mengapa harga gabah semakin ke sini makin anjlok tidak sebanding dengan perjuangan kita?" lanjut Andre.
Begitu tahu perjuangan di sawah itu sungguh tidak seenak yang dipikirkan, Andre mulai merasa pekerjaan mereka tidak sebanding dengan hasil yang mereka dapat. Belum lagi harga gabah padi yang makin ke sini makin anjlok. Sementara itu, para petani hanya bisa pasrah dan menerima semua kebijakan yang ada.
Puas dengan piknik yang telah mereka laksanakan. Andre dan Irma pun memutuskan untuk pulang.
"Pantas saja kamu tadi bawa banyak bekal. Ternyata oh ternyata terjawablah sudah," ujar Andre saat keduanya berada di dalam mobil.
"Apa, Baba, marah?" Irma melirik lelaki yang seharian ini sudah disusahkannya.
"Kenapa berpikir seperti itu?"
"Karena itu bukan pekerjaan Baba. Belum lagi, Baba harus kotor-kotoran dan panas-panasan," ucap Irma. "Aku jadi istri nyusahin banget, ya!" Setelah semua keinginan terwujud ada rasa sesal karena telah membuat Andre susah.
"Awalnya sih kesel, tapi setelah dijalani baba sangat menikmatinya. Yang tadi itu sangat menyenangkan belajar make traktor, belajar nyangkul, semuanya ilmu baru yang sangat bermanfaat. Makasih, ya, sudah ajak baba piknik, meskipun pikniknya di luar ekpetasi." Andre berujar dengan diakhiri seringai tipis yang menghiasi wajahnya.
"Jadi, Baba enggak marah?" tanya Irma yang dijawab gelengan oleh Andre, membuat Irma bisa bernapas lega.
__ADS_1
Di rumah, tampak Friska sudah menunggu kedatangan mereka sambil menonton tv. Begitu mendengar suara mobil berhenti di depan rumah, gadis itu langsung berlari ke depan menyambut pasangan yang katanya habis piknik.
"Oleh-oleh buatku mana?" Friska langsung menodong keduanya dengan menanyakan oleh-oleh.
"Oleh-oleh apa?" tanya Andre.
"Tadi kakak bilang akan belikan aku oleh-oleh sebagai pengganti karena udah jaga rumah seharian. Sekarang mana oleh-olehnya?" Friska menengadahkan kedua tangannya kepada sang kakak.
"Ada di bagasi. Bentar kakak ambil." Andre mengambil satu ember belut hasil tangkapannya, lalu memberikannya kepada Friska. "Ini, oleh-oleh untukmu!" ucapnya, lalu pergi.
"What??! Belut? Kalian habis piknik dari mana kenapa bawa belut?"
"Kita abis nangkap belut." Irma menjawab pertanyaan Friska.
"What? Nangkap belut? Siapa? Apa Kak Andre nangkap belut?" Friska semakin tidak percaya.
Irma mengangguk pasti dan sejurus kemudian tawa Friska pecah. "Twins, kali ini tante-mu kasih seratus jempol untuk kalian!" Friska mengusap perut Irma. "Sering-seringlah kerjain baba-mu! Apa Kak Andre gak pingsan saat nangkap belut, Kak?" tanya Friska dengan tawa yang masih menggema.
Irma yang tidak tahu apa-apa pun hanya menggeleng.
"Diam kau, Fris! Jangan aneh-aneh!" teriak Andre yang terdengar agak jauh dan malah membuat Friska semakin terpingkal-pingkal.
"Ada apa sih? Apa ada yang aku tidak tahu?" tanya Irma kebingungan.
Friska pun membisikkan sebuah rahasia yang hanya Friska dan Andre yang tahu. Lelaki yang baru saja mendapatkan seember belutnya ternyata sangat takut pada hewan licin itu.
"Apa? Kamu tidak bercanda kan, De?" tanya Irma begitu mendengar ucapan Friska.
Friska pun menggeleng.
"Tapi tadi dia baik-baik saja, tidak seperti orang ketakutan." Irma ingat lelaki itu tampak baik-baik saja saat menangkap belut.
"Berarti cintanya kepada kakak lebih besar daripada rasa takutnya terhadap belut."
__ADS_1
Irma begitu mendengar ucapan Friska. Ia sangat terharu dengan semua yang telah dilakukan suaminya hanya untuk membuatnya senang, bahkan sampai melawan rasa takut.
'Terima kasih sudah mencintaiku dengan begitu besar.' Irma mengejar langkah suaminya yang sudah masuk ke kamar.