
Andre mengendarai motor sportnya, menjauh dari komplek rumah, tanpa tahu ke mana ia akan membawa gadis pujaan hatinya itu pergi. Tak ada percakapan diantara mereka. Semenjak keluar dari rumah, Irma tak mengeluarkan sepatah kata pun. Begitu pun dengan Andre, ia yang berharap Irma memulai percakapan, lebih fokus ke jalanan. Mereka layaknya seorang penumpang dan tukang ojek yang tak saling kenal.
Setelah cukup lama berputar-putar di jalan tak tentu arah, akhirnya Andre menepikan motornya di tempat yang lumayan sepi.
"Kenapa kita berhenti di sini?" Melihat jalanan yang kurang penerangan ditambah lagi tak ada satu pun kendaraan yang berlalulalang, berhasil membuatnya waswas, hingga satu kalimat keluar dari mulut Irma.
"Akhirnya mulut manismu bisa mengeluarkan kata-kata juga." Andre menoleh ke belakang dengan senyum yang tertampil. "Aku pikir setelah menangis suara indahmu tiba-tiba menghilang," lanjutnya, menggoda Irma.
"Apa kau sedang menggodaku?" tanya Irma. "Ini gak lucu, ngapain berhenti di tempat sepi?" Ia mengedarkan pandangannya ke setiap penjuru, benar-benar sepi. Membuatnya sedikit merinding, bukan karena takut makhluk halus, melainkan lebih takut akan orang yang ada di hadapannya. Meskipun ia tahu Andre orang baik, tetapi tetap saja harus waspada. Kadang rayuan setan lebih menggiurkan, hingga melupakan akal sehat. "Kita cari tempat yang agak rame dikit, napa?"
"Kalau ada tempat yang sepi, ngapain nyari yang ramai?" Andre semakin menggoda Irma.
"Nyesel aku ikut sama kamu, Mas." Irma yang memakai masker dan kacamata hitam pun mengerucutkan bibirnya.
"Pasti bibirmu sedang mengerucut seksi minta dicium," tebak Andre. "Andai ... tak tertutup masker."
"Mas!" Irma yang tak suka dengan lelucon Andre langsung menghadiahi lelaki itu pukulan di punggung.
__ADS_1
"Iya, Sayang! Maaf, aku hanya bercanda."
Sayang? Jelas sekali kata itu terdengar di telinga Irma keluar dari mulut lelaki di hadapannya, membuat Irma terbungkam sekaligus. Ia semakin yakin, lelaki itu telah mendengar semuanya. Akan tetapi, jika telah mendengar semuanya, mungkinkah Andre tak mempermasalahkan keadaannya? Hingga, dengan sangat mudah lelaki itu mengucapkan kata 'sayang' kepada Irma.
"Tanganku pegal dari tadi bawa motor gak tentu arah. Kalau kamu gak mau kita berhenti di sini, sekarang kita mau ke mana?" lanjutnya.
"Ke mana saja asal jangan di tempat sepi dan jangan di tempat ramai juga." Dengan keadaannya yang seperti tukang urut dengan kacamata hitam yang bertengger, membuat Irma juga berpikir dua kali untuk pergi ke tempat ramai.
"Sepi salah, ramai juga salah. Wanita memang aneh," ujar Andre seraya menghidupkan motornya lagi.
"Yang tengah-tengah pasti lebih enak, ya?" Andre menoleh lagi ke belakang dengan senyum yang tertampil.
"Ngomong terus, kapan jalannya?" Irma tahu, Andre lagi-lagi menggodanya dengan mengalihkan pembicaraan mereka pada maksud lain.
"Sesuai perintah. Leo, mari kita tancap gas!" ucap Andre kepada motor kesayangannya, seraya menancap gas tanpa aba-aba kepada Irma. Membuat wanita itu spontan memeluk Andre karena kaget.
Senyum tertampil di bibir lelaki yang sedang berbunga-bunga karena telah mendengar pengakuan cinta dari wanita di belakangnya, meskipun secara tidak sengaja. Senyumnya pun semakin lebar saat mendapati kedua tangan halus sang pujaan hati melingkar di pinggangnya.
__ADS_1
Irma sendiri baru tersadar akan tangannya yang tengah memeluk Andre, ketika lelaki itu mengurangi kecepatan motor. Ia pun mengurai pelukkannya, tetapi langsung dicegah oleh si pemilik tubuh.
"Jangan lepaskan pelukannya! Atau aku tambah lagi kecepatan motornya." Tangan kanan Andre meraih tangan yang hendak melepaskan pelukannya. Menggenggam tangan itu, membiarkan jemari Irma untuk tetap berada di depan perutnya.
"Tapi—"
"Tidak ada tapi-tapi, atau aku tancap lagi gasnya." Andre menakut-nakuti Irma, bersiap menarik gas kembali.
"Jangan! Aku tak akan melepaskan pelukannya. Jangan kenceng-kenceng amat!"
"Bagus! Calon istri yang pintar." Andre mencium tangan yang masih digenggamnya, lalu meletakkannya kembali di depan perutnya—menyatukan dua tangan yang melingkar di perut itu.
Irma tak menyahut, meskipun di dalam hatinya dipenuhi seribu tanda tanya. 'Apa yang sebenarnya ada di hatinya? Tadi dia menyebutku sayang sekarang calon istri,. Apa dia hanya mendengar setengah saja?'
'Aku mencintaimu dan Kamu mencintaiku itu sudah cukup bagiku. Kamu tak perlu menakutkan hal lain. Aku mencintaimu apa adanya, selamanya tak akan pernah berubah, sekalipun dunia tak megizinkan. Tetaplah di sisiku, memelukku seperti ini. Kita lewati semuanya bersama-sama sampai tua. Aku tak peduli meskipun nantinya kita tak memiliki keturunan. Asalkan bersamamu, itu sudah cukup bagiku.'
Andre dan Irma menembus jalanan malam dengan pikiran masing-masing sembari merasakan kehangatan dari kedekatan mereka yang menjadi penawar angin malam yang menembus pori.
__ADS_1