Janda Cantik Milik Pak Polisi

Janda Cantik Milik Pak Polisi
S2 - 19


__ADS_3

19


Naura di bawa paksa oleh empat orang berpakaian serba hitam lengkap dengan penutup kepala itu keluar rumah, lalu dipaksa untuk masuk ke mobil hitam yang sudah terparkir di depan rumah.


"Tolong! Tolong! Tolong ada penjahat di rumahku!" teriak Naura.


Tidak seperti biasanya, kediaman tempat tinggal Naura saat ini terlihat sangat sepi bahkan security yang selalu keliling 24 jam pun tidak terlihat sejak pagi. Naura yang diseret orang-orang tak dikenal pun terus berteriak, berharap ada tetangga yang mendengar dan mau menolongnya. Namun, nihil, tidak ada satu orang pun yang peduli padanya. Sekeras apapun Naura berteriak tidak ada yang menghampiri dan menolongnya. Bahkan, sampai mobil yang ditumpangi Naura melesat jauh pun tidak ada orang yang terlihat.


"Tolong keluarkan aku!" Naura menggedor-gedor kaca mobil.


"Diamlah!" ucap salah satu dari mereka.


"Bagaimana aku bisa diam, sedangkan aku tidak tahu aku akan dibawa kemana? Dan, anakku. Anakku di mana?" Naura mencecar mereka dengan pertanyaan.


"Anakmu aman asalkan kau bisa bekerja sama dengan kami." Suara besar dari balik kemudi mengancam Naura. "Jadi diamlah!"


"Kalian tidak bisa lakukan ini padaku. Jangan berani macam-macam dengan anakku! Atau kalian akan tahu akibatnya." Naura balik mengancam mereka. "Apa kalian tahu aku itu istri seorang polisi, jika suamiku tahu kalian berbuat seperti ini padaku akan kupastikan kalian pasti digantungnya hidup-hidup."


"Dan aku tidak peduli," jawab orang itu, sambil mengangkat tangan kirinya memberikan sebuah kode.


"Eh, kalian mau apa?" tanya Naura, melihat dua orang yang duduk mengapitnya mengambil kain panjang. Tanpa bicara apapun dua orang itu mengikat tangan dan menutup kedua mata Naura. "Apa yang kalian lakukan? Lepaskan tanganku! Dan kenapa pula mataku ditutup seperti ini? Lepaskan aku!" teriak Naura.


Sepanjang perjalanan Naura terus berontak dan meminta mereka untuk melepaskannya. Akan tetapi, sampai tenggorokannya terasa seret pun tidak ada yang merespon ucapannya, padahal segala sumpah serapah sudah keluar semua dari mulut wanita itu.


Mobil berhenti di suatu tempat. Dengan segera mereka keluar dari mobil dan menarik Naura keluar juga.


"Kalian mau bawa aku ke mana? Aku tidak mau keluar." Naura memberontak dan tidak mau keluar dari mobil.


Si pengemudi mobil pun memberi kode lagi kepada dua orang yang menarik sandera mereka, meminta mereka untuk pergi. Kemudian, orang itu mendekat dan dengan cepat membopong Naura layaknya karung beras.

__ADS_1


"Hei, kau apa-apaan? Turunkan aku? Kau mau bawa aku kemana?" Naura yang sudah berada di pundak orang itu terus memberontak, memukul-mukul orang itu dengan tangannya yang masih terikat.


"Turunkan aku!"


Sepanjang berada di pundak yang memanggulnya, Naura yang tidak bisa melihat karena matanya ditutupi kain, terus berteriak dan memaki orang tersebut.


"Diamlah! Kita tidak sedang di hutan. Penghuninya tidak perlu kau absen semua," ucap orang itu yang mulai merasa pengang dengan teriakan atau lebih tepatnya dengan makian yang membawa-bawa penghuni hutan.


Deg!


Jantung Naura tiba-tiba terasa ada yang aneh saat orang itu berbicara. Suaranya masih terdengar berat, tetapi sedikit berbeda. Ia kenal dengan suara orang yang sedang membopongnya.


"Kau siapa?"


'Sial, kenapa aku bisa lupa mengubah suaraku dulu," rutuk lelaki itu.


"Kau siapa?" tanya Naura lagi, tetapi tidak ada jawaban dari lawan bicaranya.


"Kau ini siapa? Apa sebenarnya maumu? Berani sekali menculikku dengan tidak hormat seperti ini," cecar Naura sambil membuka penutup matanya dengan kasar.


"Surprise ...." tiba-tiba banyak suara yang menggema di tempat tersebut begitu Naura penutup mata itu terlepas.


"Apa ini?" Suara Naura tercekat, melihat orang-orang yang seharian ini meninggalkannya sendirian sedang berada di ruangan yang sama, bahkan Kayla juga sudah berada bersama mereka dengan mainan yang baru saja dibelinya. "Ada apa ini? Dan di mana ini?" Naura masih mencoba mencerna semua yang terjadi di ruangan yang menurutnya sangat asing, tetapi seperti kamar hotel.


"Sayang, maafkan kami!" Ana berhambur memeluk menantu kesayangannya. "Ini kejutan untukmu! Kami sayang kepadamu. Sangat-sangat yang menyayangimu. Segeralah bersiap-siap, acaranya sebentar lagi akan dimulai," lanjut Anna sambil mendaratkan sebuah kecupan di kening Naura.


"Acara apa? Apa yang kalian rencanakan?"


Anna tidak menjawab. Ia hanya menampilkan seutas senyum dan mengajak semua orang yang ada di sana keluar, meninggalkan Naura dan lelaki yang berpakaian serba hitam, yang tadi membopongnya sampai ke ruangan itu.

__ADS_1


"Semua orang sudah pergi dan menyisakan sejuta pertanyaan setelah seharian aku diabaikan begitu saja. Bisa kau jelaskan ini ada apa? Atau kau akan tetap bungkam sama seperti dengan hari-hari sebelumnya?" Naura menatap lelaki yang masih berdiri di hadapannya menatapnya begitu intens. "Apa kau akan tetap diam? Setelah semua drama ini? Jangan membuatku bingung! Jawab!" Ditatap begitu intens oleh lelaki yang begitu dicintainya, tanpa terasa membuat cairan bening tanpa permisi menetes begitu saja dari mata Naura.


"Ya, sudah. Jika tidak mau bicara, aku akan pergi dan cari jawabannya sendiri." Naura mengusap kasar air matanya, lalu beranjak dari hadapan Dimas.


Namun, langkahnya langsung terhenti saat sepasang tangan memeluk Naura dari belakang.


"Kamu mau ke mana? Aku sangat merindukanmu," ucap Dimas sambil menghirup dalam-dalam aroma sang istri dan mendaratkan sebuah kecupan di tengkuknya.


Naura hanya mematung. Ia juga sangat merindukan suaminya, tetapi semua ini sangat membingungkan. Sementara itu, Dimas yang tidak mendapat respon apa-apa langsung mengurai pelukannya dan menarik tubuh yang mematung itu untuk menghadapnya.


"Kenapa diam saja? Apa istriku yang cantik ini tidak merindukan suaminya?" Dengan senyum yang mengembang, Dimas menggoda Naura. "Sayang, bicaralah! Bukankah dari tadi kau banyak bicara, kenapa sekarang malah diam?" ujar Dimas sambil memegang bahu si istri.


Bukan kata-kata yang keluar dari mulut Naura, melainkan isak tangis dan air mata yang tidak bisa lagi terbendung yang bisa Dimas dengan dan lihat dari wanita di hadapannya.


"Hei, kenapa malah menangis?" Dimas mengusap air mata Naura dan membawa Naura ke dalam pelukannya. Dan, malah membuat tangis Naura semakin menjadi.


"Jahat!" Satu kata yang keluar dari mulit Naura disela-sela tangisnya.


"Aku tidak jahat, Sayang," jawab Dimas, semakin mengeratkan pelukannya.


"Jika bukan jahat, lalu apa namanya yang kau lakukan seminggu ini?" tanya Naura, tanpa memberontak.


"Kejutan."


Mendengar kata kejutan, membuat Naura tesenyum sinis dan langsung melepaskan tangan yang merangkul pinggangnya. "Kejutan apa? Menganggurkan istrinya lebih dari seminggu, mendiamkannya tanpa sebab dan—" Naura yang sedang mengeluarkan segala unek-uneknya tiba-tiba terdiam, suaranya menghilang bersamaan dengan bibir Dimas yang mendarat di bibirnya. Mencium bibir tipis si istri dengan begitu lembut, mengabsen setiap lekuk benda kenyal tersebut. Hingga ciuman lembut itu berubag menjadi ciuman yang menuntut.


"Aku sangat merindukan bibir yang manis ini," ucap Dimas sembari menunjuk benda kenyal yang baru dinikmatinya dengan begitu rakus. "Aku juga merindukan yang lainnya juga, tapi nanti setelah acaranya selesai," lanjut Dimas dengan seutas senyum yang tertampil, kemudian mengambil ponsel dan menghubungi seseorang. "Masuklah!" perintahnya.


"Jadikan istriku, wanita tercantik satu-satunya malam ini!" perintah Dimas kepada dua orang wanita yang sudah masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


Sementara itu, Naura masih bermain teka-teki. Ia belum bisa mendapat jawaban dari semua kebingunganya, yang ada malah tambah bingung saat dua orang itu tanpa permisi me-makeover dirinya.


__ADS_2