Janda Cantik Milik Pak Polisi

Janda Cantik Milik Pak Polisi
13


__ADS_3

Selepas kepergian Dimas, Naura kembali ke dalam rumah. Ia melanjutkan menyantap makanan yang tadi sempat tertunda. Pandangan wanita hamil itu, tak pernah berhenti menatap wanita di seberang meja, berharap ada penjelasan. Namun, Irma masih bersikap tak acuh, ia masih menyibukkan diri dengan isi piring di hadapannya. Kesal dianggurkan oleh sang kakak, Naura pun beranjak mengambil kerupuk di toples. Lalu, berjalan melewati Irma sembari menggigit kasar kerupuk dengan suara kunyahan yang sengaja dikeraskan di dekat telinga sang kakak—mengganggu Irma. Akan tetapi, kakaknya masih saja bergeming, semakin membuat Naura kesal.


"Yang satu otaknya kegeser, yang satu mulutnya kejahit." Naura meninggalkan ruang makan.


Irma tetap diam, seakan-akan tak mendengar ucapan adiknya itu. "Selain mulutnya kejahit, telinganya juga terhalang batu malin kundang kayaknya," lanjut Naura yang sudah berada di dapur.


"Ada apa ngomel-ngomel mulu? Ingat kata suamimu! Jangan marah-marah mulu!" Ranti yang sedang mencuci piring, melirik anak bungsunya yang masih merutuki kelakuan Irma.


Sementara itu di ruang makan, selepas kepergian Naura, Irma menghentikan aktivitas makannya. Sendok yang sudah hampir sampai ke mulut, dengan malas ia menurunkannya kembali ke atas piring, lalu menjauhkan piring itu. Di matanya terlihat sesuatu sudah menggenang, yang sedari tadi ia tahan untuk tidak keluar. Hingga akhirnya, semua tak terbendung lagi, cairan bening luruh dari iris hitam membasahi pipi wanita yang menelungkupkan wajahnya di meja.


Ada rasa sakit yang tiba-tiba hadir, sakit tak berdarah, bahkan tak berbekas. Rasanya sangat sakit, benar-benar sakit dan teramat sakit menusuk ke jantung dan hati wanita itu.


"Kenapa sesakit ini? Padahal dia bukan siapa-siapa aku?" Satu tangan memegang dadanya yang terasa sesak.


Selama mengenal Andre baru kali ini, lelaki itu memperlakukan Irma seperti tadi. Sebagaimanapun Irma tak acuh kepadanya, Andre tak pernah berhenti untuk mendekati. Lelaki itu selalu memiliki seribu cara untuk terus bersama Irma—dan diam-diam Irma menyukai perlakuan Andre yang seperti itu. Namun, mungkin kesabaran seseorang juga ada batasnya. Selepas percakapan terakhir mereka, Andre berubah 180⁰ kepada wanita itu.


"Aku tak suka kamu perlakukan seperti ini," ucapnya, lirih.

__ADS_1


Cukup lama, Irma menyembunyikan wajahnya di atas meja, menetralkan pikiran yang mulai merasa kacau tak karuan. Hingga, terdengar langkah kaki mendekat ke arahnya. Irma pun langsung mengangkat kepalanya. Tak mau keadaannya diketahui ibu dan adiknya, ia segera membersihkan sisa air mata yang masih membasahi pipi. Lalu, menarik kembali piring, bersikap seolah-olah masih belum selesai makan.


"Kak, makannya lama amat? Lapar, apa gimana?" Naura duduk lagi di kursi makan.


Irma memamerkan rentetan gigi putihnya yang sedang menggigit ujung sendok. "Syirik aja, kamu! Kalau masih lapar makan aja lagi, gak usah sungkan-sungkan."


"Ish ... siapa juga yang syirik?" Naura mencebik.


Irma tak menanggapi lagi, ia mendorong kursi yang dipakainya ke belakang dan segera berdiri, menyudahi sarapan yang menyesakkan itu.


"Eh, tunggu deh!" sarkas Naura, saat Irma hendak pergi menyimpan piring bekas makannya.


"Kakak abis nangis, ya?" tanya Naura melihat mata dan hidung sang kakak memerah.


"Semenjak hamil kamu semakin so tahu."


"Bukan, so tahu tapi kenyataan. Itu matamu!" tunjuk Naura ke mata yang sudah tak berani menatap mata dirinya.

__ADS_1


"Aku kelilipan," jawab Irma, singkat, lalu pergi.


Namun, Naura tak percaya begitu saja. Rasa penasaran semakin membuncah, melihat dua orang terdekatnya bersikap aneh. Ibu hamil itu pun mengekori Irma yang sedang membersihkan piring kotor yang dibawa.


"Apa Kakak tak ingin berbagi cerita denganku?" tanya Naura, kemudian.


Irma melihat sekilas wajah Naura yang berdiri di sampingnya. "Cerita apa? Tak ada yang perlu diceritakan," ujarnya sambil memutar kran, membasuh piring yang sudah di penuhi busa.


"Tentangmu dan Andre. Aku lihat kalian berdua hari ini beda."


"Apanya yang beda? Embe dan kuda?" jawab Irma, nyeleneh.


"Malah bawa-bawa embe dan kuda. Ngeselin banget, nih, orang!" Naura mengerucutkan bibirnya, mendapati Irma terus saja berkilah dari pertanyaan yang sedari tadi dilontarkannya.


"Bukannya beda itu singkatan embe dan kuda, ya? Salahnya di mana?" tukas Irma lagi, dengan tangan yang sedang menyimpan piring ke rak.


"Kakak bertengkar sama Andre, 'kan?" sarkas Naura, yang sudah tak sabar dengan sikap kakaknya.

__ADS_1


Irma menghentikan aktivitasnya, lalu memutar tubuhnya menghadap si ibu hamil. "Apa yang perlu dipertengkarkan? Seperti orang pacaran saja. Kami tidak bertengkar," sangkalnya.


"Kak, apa Kakak tak takut jika suatu hari nanti Andre benar-benar pergi karena sikap Kakak yang tak peduli seperti ini? Aku tahu Kakak juga menaruh hati untuk polisi tengil itu. Kenapa Kakak tak mencoba menjalin hubungan baru? Kenapa tak mencoba mengobati luka lama itu dengan hubungan baru? Dia ingin serius dengan hubungan kalian. Bukannya Kakak udah liat pengorbanan Andre untuk mendapatkanmu?" ucap Naura tanpa jeda, bahkan ia sampai ngos-ngosan. Akan tetapi, tetap saja tak ada jawaban. "Ah, boro-boro Andre, aku juga kesel lama-lama. Emang gak ada bakat jadi makcomlang, kayaknya." Naura mengomel sambil pergi. "Mending susul Mamah daripada ngomong sama patung," lanjutnya lagi sambil menoleh ke arah Irma, lalu membuang mukanya lagi dengan kasar.


__ADS_2