Janda Cantik Milik Pak Polisi

Janda Cantik Milik Pak Polisi
S2 - 33


__ADS_3

Pagi yang cerah telah tiba, secerah hati Andre yang semalam berhasil mengajak juniornya piknik meskipun harus dilewatinya dengan banyak drama. Begitu pun dengan Irma, senyum terus tertampil di wajahnya. Sambil bersenandung ria, Ia tampak sedang memasukkan makanan ke rantang. Sesuai janji Andre, hari ini mereka akan piknik.


Sebenarnya sudah sejak beberapa minggu yang lalu, wanita itu sangat ingin pergi piknik. Akan tetapi dengan kesibukan dan masalah yang dihadapi sang suami, Irma pun berusaha meredam keinginannya.


"Makanannya banyak sekali. Memangnya kita piknik sama siapa saja?" tanya lelaki yang baru saja selesai bersiap-siap sambil memeluk Irma dari belakang.


"Cuma berdua saja," jawab Irma, enteng.


"Apa kita akan menghabiskan piknik kita dengan menghabiskan semua makanan ini?" Andre tidak paham dengan jalan pikiran si istri yang mengatakan jalan berdua, tetapi bekal mereka seperti untuk satu RT, bahkan pembantu mereka harus masak tiga kali lebih banyak dari biasanya.


"Lihat saja nanti," jawab Irma lagi dengan lengkungan senyum yang tertampil.


"Karepmulah ...." Andre tidak ingin memperpanjang masalah makanan dan memilih membawa makanan yang sudah siap itu ke dalam mobil.


Setelah semua siap, Andre dan Irma pun berangkat. Sepanjang perjalanan senyum Irma selalu menghiasi wajahnya, sebuah keinginan yang hampir setiap hari terbayang-terbayang dan kadang membuat air liurnya menetes hanya dengan membayangkannya saja akan segera terwujud. Hingga tanpa terasa Irma yang bangun sejak subuh dan membantu Bi Sri memasak, akhirnya tertidur.


Andre sampai di satu tempat yang sering digunakan orang-orang untuk berpiknik. Ia membawa sang istri ke pantai yang tempatnya tidak terlalu jauh dari rumah.


"Sayang, bangun! Kita sudah sampai." Andre menggoyangkan sedikit bahu Irma sesaat setelah memarkirkan mobil.


Irma yang merasa ada yang menyentuh bahunya, perlahan mengerjapkan mata. "Udah sampai, Ba?" tanya Irma sambil mengucek-ucek matanya.


"Sudah. Ayo, kita turun!" Lelaki itu membuka pintu hendak turun, tetapi langsung tersekat saat mendengar teriakan istrinya.


"Baba!!! Kita di mana?" Irma terbelalak saat kesadarannya sudah seratus persen.


Melihat si istri yang malah histeris, membuat Andre kebingungan. "Kita di pantai. Bukannya kita mo piknik di pantai?"


"Kok, pantai sih? Memang siapa yang ngajak piknik ke pantai?" tanya Irma.


"Memangnya mau piknik ke mana? Baba kira kita akan ke pantai." Setahu Andre wanitanya itu sangat suka pantai, jadi ketika Irma mengatakan ingin piknik, satu tempat yang ada di kepala Andre adalah pantai.


Seketika bibir Irma pun langsung mengerucut. Bukan tempat itu yang ingin datangi. "Baba so tahu. Kenapa gak nanya dulu?

__ADS_1


"Bubu kan tadi sedang tidur." Andre mencoba mencari alasan.


"Balik lagi!" tandas Irma dan berhasil membuat Andre melongo.


"Balik lagi? Yang benar saja, Bu, ini udah tanggung sampai pantai."


Namun, Irma keukeuh ingin pulang dari sana dan pergi menuju tempat yang dimaksudnya. Terpaksa, Andre pun putar balik, menuruti keinginan si istri yang sudah seperti singa ngamuk. Sepanjang perjalanan Andre harus menerima omelan dari si Penunjuk Jalan yang tidak ada henti. Wanita itu terus mengomel karena beberapa jam terbuang sia-sia begitu saja, padahal ia berharap saat ini dirinya sudah berada di sana melihat sesuatu yang sangat didambakannya.


'Sebenarnya dia mo ngajak piknik ke mana?' Andre bertanya pada dirinya sendiri, karena jalan yang dilewati mereka adalah jalan menuju pulang. Ingin bertanya kepada sang istri, tetapi melihat wajahnya yang sedang ditekuk membuat Andre mengurungkan niatnya.


Mobil terus melaju, tetapi Irma tidak kunjung mengajaknya berhenti. Bahkan, setengah jam lagi mereka sampai di rumah.


"Berhenti!" Tiba-tiba Irma meminta Andre berhenti.


Andre yang menuruti keinginan sang istri pun dibuat bingung oleh tempat yang dipilih Irma. "Bu, apa sudah sampai? Kita piknik di mana?" tanya Andre.


"Kita piknik di sini. Ayo, turun!" Wajah Irma seketika berubah sumringah begitu melihat tempat yang sangat ia datangi.


"Kita mau ngapain di sawah?" tanya Andre.


Dengan semangat '45 Irma mengeluarkan semua barang bawaan dan membawanya ke tengah-tengah sawah. Wanita itu tidak hentinya mengumbar senyum saat kakinya menginjak pematang sawah.


"Apa ini yang disebut piknik?" gumam Andre. "Kalau mau ke sawah bukannya deket rumah juga ada, gak perlu jauh-jauh?"


"Yang deket rumah udah ditanamin padi," jawab Irma santai.


"Terus yang jadi pertanyaan, kita mau ngapain ke sawah yang lagi dibajak? Apa kita mau maen lumpur?"


"Nah, itu pinter!" seloroh Irma dengan senyum tipis yang menghiasi wajahnya.


"What??"


Irma tidak memedulikan keterkejutan suaminya. Wanita itu dengan lihai berjalan di atas pematang sawah yang lebarnya kurang lebih 30cm. Mereka menghampiri para pekerja yang sedang bekerja di sawah.

__ADS_1


"Neng jadi ke sini juga?" Seseorang yang sedang mengendarai traktor menghentikan pekerjaannya dan menghampiri Irma.


"Jadi, Mang. Kan kemarin udah janji mo ke sini," ucap Irma dengan seutas senyum yang tertampil.


Sementara Andre, yang tidak tahu apa-apa hanya melongo mencoba mencerna semuanya.


"Aku juga bawa makanan buat Mamang dan teman-temannya, sekalian kita makan bersama," lanjut Irma lagi.


"Ngapain repot-repot. Katanya cuma mo lihat traktor, enggak perlu repot-repot bawa pajaknya segala," ucap lelaki yang disebut mamang oleh Irma dengan senyum yang mengembang.


"Liat traktor?" Andre terkesiap dengan ucapan si Mamang.


"Iya, Jang Polisi. Beberapa waktu lalu, Neng Irma pernah maen ke sawah Mamang yang di dekat rumah. Dia katanya pengen liat traktor, tapi sayangnya yang di sana sudah ditanami padi, jadi gak bisa. Kemarin si Neng datang ke rumah nanyain lagi kapan mamang turun ke sawah lagi. Kebetulan hari ini, kita mulai turun, jadi Neng Irma disuruh nyusul saja ke sini." Lelaki itu menjelaskan panjang lebar.


"Tapi, Irma engggak pernah membicarakan itu kepada saya, Mang. Jadi, pas dia ngajak ke sini, saya sedikit kaget," ujar Andre.


"Kemarin-kemarin Mas sedang sibuk, makanya aku gak berani bilang. Dan karena sekarang udah senggang, jadi aku ajak langsung ke sini,'' jelas Irma.


Mereka pun mengobrol cukup lama, kemudian si Mamang pamit untuk kembali bekerja. Sementara itu, Andre dan Irma pergi ke saung, melihat para pekerja dari sana.


Piknik seperti inilah yang diinginkan Irma sejak beberapa minggu lalu. Piknik yang cukup simple, menikmati angin sepoy-sepoy dari saung yang beratapkan daun ilalang sembari melihat traktor dengan suara mesinnya yang menurut Irma sangat mengasyikan daripada mendengar musik, serta menyaksikan orang-orang yang tanpa rasa lelah mencangkul membenahi sawah-sawah agar bisa segera ditanami kembali. Piknik yang sederhana tidak perlu mengeluarkan banyak biaya.


"Kenapa tidak dari kemarin bilangnya kalau mau ke sini? Jadi kita gak perlu jauh-jauh ke pantai dulu," ujar Andre kepada wanita yang sedang berbaring dengan paha Andre sebagai bantalan.


Irma hanya tersenyum dengan pandangan yang tidak lepas dari traktor yang berjalan ke sana kemari menguraikan tanah sawah.


"Ba! Baba!" panggil Irma dengan malu-malu.


"Ya."


"Sini deh!" Meminta lelaki itu mendekatkan kepalanya ke arah Irma, lalu membisikkan sesuatu.


"Hah?!" pekik Andre.

__ADS_1


'Ini orang ngidam, apa lagi ngerjain aku, ya?"


__ADS_2