Janda Cantik Milik Pak Polisi

Janda Cantik Milik Pak Polisi
S2 - 6


__ADS_3

6


Friska mengendarai sepeda motornya dengan kecepatan tinggi. Ia tidak ingin mendapatkan omelan lebih banyak lagi dari Andre yang menurutnya sangat cerewet. Ia yang sangat lihai bermain dengan gas dan rem, berkali-kali menyalib pengendara lain dengan menggunting sana dan sini layaknya pembalap. Bahkan, dengan berani Friska menyelinap masuk diantara dua mobil besar yang sedang melaju, membuat siapapun yang melihat akan bergidig ngeri. Bagaimana kalau mobil besar itu oleng dan menimpa dirinya yang terhimpit di antara dua kendaraan besar.


"Ini sangat menyenangkan!" Friska tertawa riang dengan hal yang dilakukannya, padahal itu bisa membahayakan orang lain dan diri sendiri. "Andai saja Kak Andre mengizinkan gue bawa motor sport-nya pasti akan lebih menyenangkan." 


Biar pun Andre seorang polisi, tetapi tidak menjadi jaminan kalau seluruh keluarganya akan taat pada hukum. Si Bungsu yang sedang salib sana-sini adalah contohnya. Friska merupakan keluarga Andre yang paling susah untuk diatur. Ia tidak seperti gadis cantik lain pada umumnya yang hobinya ke salon dan ke mall. Friska lebih suka trek-trekan dan balapan. Tidak jarang gadis itu menghabiskan liburnya untuk bermain dengan gas dan rem yang dimiliki si kuda besi. Bahkan, beberapa kali Friska terciduk polisi di kotanya karena mengikuti balapan liar. Dan saat ditanya dan diceramahi panjang kali lebar oleh Andre ia hanya akan menjawab, "Balapan liar itu sangat menantang, Kak." Jawaban yang membuat seluruh fasilitas yang dimilikinya dicabut. 


Malam ini di balik kesialannya karena disuruh membeli coklat dengan uang yang tertinggal ada hikmah yang bisa di dapat oleh Friska. Ia bisa bertemu dengan lelaki tampan yang pertama kali dilihatnya saat pernikahan sang kakak, dan kedua ia bisa merasakan lagi kebebasan mengendarai sepeda motor setelah sekian lama tidak diizinkan untuk mengendarai kuda besi itu. 


"Ini sangat-sangat ... sangat menyenangkan." Friska masih mengendarai sepeda motor milik Irma itu dengan kecepatan tinggi, hingga lama-lama kecepatannya semakin mengendur dengan sendirinya. 


"Yah ... yah ... yah ...." dan akhirnya mati. "Kok, mati, sih?" rutuk Friska. 


"Ya, Tuhan. Pantas saja mati. Ah ... sialan!" Friska melihat garis penunjuk bahan bakar sudah mentok di garis merah. Gadis itu lupa tidak memeriksa bensinnya terlebih dahulu sebelum berangkat. "Terus sekarang apa yang harus gue lakuin?" gerutu Friska sambil memukul kepala motor. 


Friska benar-benar kesal. Baru saja ia mendapat kesenangan, sekarang ia harus menerima kenyataan motornya mati di tempat sepi karena kehabisan bensin dengan keadaan Friska yang tidak memiliki uang sama sekali. 


"Ah sial! Apa iya gue harus dorong sampe rumah? Kenapa matinya enggak karena alesan lain aja sih?" Gadis yang mengerti soal motor itu terus menggerutu. 


Terpaksa, Friska pun mendorong motor itu. Ia tidak ingin terlalu lama di tempat sepi dan berharap di depan bisa menemukan tukang bensin eceran yang mau dimintai berutang terlebih dahulu. Atau, kalau tidak mau diutangi setidaknya mereka mau barteran dengan satu coklat yang dibawanya. 


"Twins, bapakmu benar-benar bikin tantemu sial setengah mati. Awas saja! Kalau nanti kau sudah besar tidak nurut sama tante, nanti tante jitak kalian berdua." Sepanjang perjalanan Friska terus mendumel. 


Flash back on**


Pada awalnya, niat Andre ke rumah Bara untuk membahas magang sang adik. Akan tetapi, kenyataannya ia malah sibuk curhat ini dan itu kepada dua lelaki yang sudah berstatus menjadi ayah, hingga Andre pun menjadi bulan-bulanan dua orang tersebut. Libur akhir pekan mereka habiskan untuk kumpul bersama, meskipun pertemanan dengan Bara belum selama dengan Dimas, tetapi kebersamaan dan kekeluargaan cepat terjalin. 


Selepas Isya, Andre baru sampai di rumah. Setelah sebelumnya, mereka mengadakan makan malam bersama terlebih dahulu di rumah Bara. 


Senyum Irma pun terus tersungging di pipi yang semakin chubby karena tertekan hijab yang dipakai itu. "Aku tidak sabar, melihat twins lahir dan bermain bersama Arka dan Kay," gumam Irma yang sedang merebahkan tubuhnya di sofa sembari mengelus-elus perut. "Mereka pasti tidak kalah lucunya dengan Arka dan Kay," lanjutnya. 


"Sabar, beberapa bulan lagi.  Makanya Bubu harus jaga kesehatan Bubu dan Twins. Jangan bandel, supaya mereka juga enggak bandel yang malah bikin bubu-nya sakit," ujar Andre yang terdengar dari dekat kulkas, tanpa menoleh ke arah Irma.


"Aku tidak bandel, Ba," protes Irma. 


Andre tidak menyahut lagi, ia sedang sibuk mengobrak-abrik isi lemari pendingin. Namun, yang dicarinya tak kunjung ditemui, bahkan ia sampai mengeluarkan semua isi kulkas. 

__ADS_1


Ulah lelaki itu pun tidak luput dari pandangan Irma yang sedang duduk tidak jauh dari tempat Andre. "Ba, sedang apa sih?" Irma beranjak dari tempat duduk, menghampiri sang suami. Penasaran dengan yang dilakukan Andre. "Kenapa makanan di kulkas dikeluarkan semua? Mau dikuras kulkasnya?" tanya Irma lagi. 


"Kata Bubu, tadi coklatnya disimpan di kulkas. Tapi kok, enggak ada?" 


"Baba nyari coklat? Katanya gak mau," goda Irma. 


"Tadi gak mau, sekarang mau. Di mana Bubu menyimpannya?" 


"Pinter ngelesnya, ya." Irma semakin menggoda Andre. "Tapi, tadi aku simpan di kulkas, loh. Masa gak ada?" papar Irma. 


Seingatnya, bukan seingatnya, Irma memang benar-benar ingat kalau coklatnya disimpan di kulkas. Namun, anehnya bagaimana bisa hilang begitu saja? Hingga akhirnya, sepasang suami istri itu saling menyangka.


"Pasti Baba udah makan coklatnya tanpa sepengetahuan bubu, ya?" terka Irma. 


"Mana ada. Baba baru makan seuprit tadi waktu kamu masukin ke mulut sama waktu nyium." Andre mengelak terkaan Irma, karena ia memang tidak memakannya. "Apa mungkin Bubu yang menghabiskan? Karena saking enaknya sampai lupa." 


Irma pun mengelak dengan alasan ia sengaja memisahkan coklat itu untuk Andre. 


"Wah, jangan-jangan ada maling!" pekik Irma. 


"Maling?" 


"Tidak mungkin." Andre tidak percaya dengan ucapan Irma. 


Di tengah perdebatan suami istri yang sedang disibukkan mencari sebuah coklat, tiba-tiba dari arah belakang seseorang mengagetkan keduanya.


"Kalian berisik sekali, ributin apa sih?" tanya gadis yang sedang berjalan ke arah mereka karena merasa haus dan hendak mengambil air dingin di kulkas. 


Irma dan Andre langsung menoleh ke arah suara. 


"De?" Irma tampak terkejut yang tiba-tiba sudah ada Friska di rumahnya.  "Sejak kapan di sini?"


"Sejak tadi," jawab Friska sambil mengambil sebotol air mineral dan langsung menenggaknya. "Aku nungguin kalian ampe jamuran dan lumutan," lanjutnya. "Sebenarnya kalian lagi nyari apa? Ampe bawa-bawa maling segala. Kenapa pula isi kulkas keluar semua?" Friska memperhatikan barang-barang yang ada tadi ada di kulkas sudah berpindah tempat. 


"Sepertinya aku tahu siapa malingnya?" Andre menatap sang adik yang sedang menenggak minumannya. 


Merasa diperhatikan oleh Andre, Friska pun langsung menurunkan botol minumannya. "Memangnya maling apa? Udah 3 jam aku di rumah ini, perasaan tidak ada maling yang masuk," ujar Friska yang semakin tidak mengerti dengan ucapan kakaknya itu. 

__ADS_1


"Itu yang kamu pegang apa?" tanya Andre, menunjuk sesuatu yang dari tadi dipegang Friska. 


Friska menurunkan pandangannya ke arah yang ditunjuk Andre, lalu dengan polosnya ia mengatakan kalau itu bekas coklat. "Barusan aku lapar, pas buka kulkas nemu coklat. Ya, langsung hajar saja," tandas Friska, sambil memamerkan rentetan giginya tanpa rasa bersalah. 


"Ternyata malingnya kamu, Fris." Andre menatap tajam si adik yang malah semakin kebingungan. "Ganti!" teriak Andre. 


"Maling apaan sih? Ganti apaan?" tanya Friska sambil membuang bekas coklat yang sudah dimakan, tetapi belum sadar akan kesalahannya karena biasanya Andre tidak pernah mempermasalahkan tentang makanan. 


"Udahlah Ba, enggak perlu segitunya. Kasian Friska, salah kita juga maennya terlalu lama, jadi dia kelaperan kan." Irma mencoba menenangkan sang suami. 


Andre yang sudah membayangkan kenikmatan coklat itu sejak berciuman dengan Irma tidak luluh begitu saja. Ia bersikeras menginginkan coklat. 


"Kak yang bener saja, masa iya gue harus ke Paris untuk beli coklat doang. Mahal di ongkos tahu ...." Friska yang mulai paham duduk permasalahannya dari penjelasan Irma, langsung protes. 


"Pokoknya aku mau coklat titik tidak pake koma apalagi tanda tanya," jawab Andre.


Friska dan Irma dibuat saling pandang oleh ulah Andre yang seperti anak kecil. 


"Apa dia benar-benar Kak Andre? Kesambet setan mana, Kak?" tanya Friska kepada Irma yang dijawab gedikkan bahu Irma. 


"Friska Fiandra, ganti coklatnya atau kau tidak kuizinkan tinggal di rumah ini," 


"Ya, Tuhan. Ancamannya gitu amat. Ganti sama coklat apa? Gue gak punya Bang Jin yang bisa nganterin gue ke Paris," omel Friska yang malah kesal dengan sikap kekanak-kanakkan Andre. 


Dan, Andre semakin memelototi Friska. 


"Ya sudah aku ganti sama coklat indo aja, ya! Ganti lima sekalian." 


"Terserah. Pokoknya aku mau coklat. Dalam waktu 30 menit, aku mau coklatnya sudah ada di depan mata." 


"Ok, gue beli sekarang! Yang hamil siapa, yang ngidam siapa, yang susah juga siapa?" omel Friska, sambil mengambil kunci motor di dekat tv. 


"Jangan kunci yang itu!" tandas Andre saat melihat Friska mengambil kunci motor sport miliknya. 


Friska hanya mencebik, lalu menyimpan kembali kunci motor yang dipegangnya dan mengambil kunci satu lagi.


Flashback of ** 

__ADS_1


"Kak, awas saja kalau gue udah sampe rumah! Abis loe, gue jadiin rempeyek," rutuk Friska.


__ADS_2