Janda Cantik Milik Pak Polisi

Janda Cantik Milik Pak Polisi
115


__ADS_3

Sambil selonjoran di atas kasur dengan punggung yang bersandar di kepala ranjang, Andre tampak sibuk memainkan ponsel. Hingga, derit pintu kamar mandi memecah konsentrasinya. Mata Andre tak bisa berkedip kala pintu yang baru terbuka itu menampilkan Irma dengan penampilan yang membuat Andre menahan air liurnya supaya tidak menetes.


Wanita itu berdiri di depan pintu kamar mandi mengenakan liingeri merah berbahan impor stech polyester+soft lace dengan kombinasi renda, lantas berjalan menuju ranjang sembari menarik-narik ujung baju tipis itu berharap bisa memanjang sedikit menutupi pahanya yang terekpos, meskipun tidak mengaruh juga karena bagian atasnya juga sangat tipis. Tidak ada bedanya dengan tidak memakai baju.


'Seharusnya tadi tuh abis dicoba langsung ditaroh ke lemari. Jadi dia gak bakal maksa aku pakai sarang laba-laba.' Sambil berjalan Irma merutuki dirinya sendiri.


Beberapa saat lalu selepas mereka makan malam, Irma dan Andre langsung kamar. Irma yang masih memakai gaun pun, bergegas ke kamar mandi untuk mengganti baju sembari menggosok gigi dan cuci muka. Sementara itu dengan rona bahagia dan ketaksabaran yang tak ternilai, Andre tampak berdiri di depan pintu kamar mandi, menunggu wanitanya keluar dengan memakai baju yang tadi tergeletak di kasur. Namun, pil kekecewaan harus ditelan Andre saat realita tidak sesuai ekpetasi. Irma keluar menggunakan piyama dengan celana panjang.


"Kenapa?" Irma menyipitkan sebelah matanya, melihat Andre yang menatapnya dari ujung kepala sampai kepala.


"Kok, pake baju ini, sih?" protes Andre sambil menarik ujung lengan baju Irma.


"Biasanya juga, kan, pakai ini." Irma yang tidak tahu kalau Andre sudah mengetahui perihal liingeri yang dibelinya, menjawab sesantai mungkin. "Sini, aku obatin dulu lukanya!" Wanita itu lantas menarik tangan si suami.


Akan tetapi, Andre langsung menarik kembali tangannya. "Aku gak mau diobatin, kalau kamu masih pake baju itu," ujarnya sambil bersidekap.


"Terus pakai baju apa? Biasanya juga pakai ini. Udah deh jangan aneh-aneh, ayo aku obatin!" Irma kembali menarik tangn Andre, tetapi lelaki itu masih bergeming.


"Pakai baju merah yang tadi tergeletak di kasur."


Hah? Irma dibuat terkesiap oleh jawaban suaminya. Percuma saja, tadi ia buru-buru ke kamar untuk menyembunyikan baju tipis itu karena belum siap memakainya, ternyata Andre sudah tahu duluan.


"Ta-ta-pi ...." Irma kebingungan harus jawab apa.


"Enggak ada tapi, tapi. Pakai dulu atau aku gak mau diobati sekalian aku ngambek juga," ancam Andre.


Irma masih terdiam, tidak menolak ataupun mengiakan.


"Ya, sudah kalau tidak mau aku tidur di kamar sebelah saja." Andre beranjak hendak keluar kamar, tetapi langsung dicegah Irma.

__ADS_1


"Baik, aku ganti pakaiannya."


Kini, wanita yang sengaja menyembunyikan lingerinya itu sudah berganti pakaian membuat Andre semakin dibuat mabuk kepayang oleh pesona sang istri yang semakin hari semakin membuatnya tergila-gila. Dengan mata yang masih menatap lekat-lekat Irma, Andre turun dari ranjang menghampiri wanita yang juga sedang berjalan ke arahnya.


"You are beautiful," puji Andre saat Irma berada tepat dihadapannya.


Sembari mencium tangan si istri dengan mata yang tak berhenti menatap wajah merona itu, Andre terus mengucapkan kata pujian atas kekagumannya terhadap Irma. Penampilan Irma saat ini membuat darah dalam tubuh Andre mengalir sangat cepat, ia pun mendekatkan wajahnya ke wajah Irma.


"Sini, aku obatin lukanya!" Tiba-tiba Irma menarik lengan Andre dengan tangan satu lagi meraih salep di atas nakas, saat bibir mereka hampir saja menempel.


Andre hanya bisa mendengkus tanpa bisa menolak. 'Sabar, Dre! Turutin dulu perintah ibu negara.'


Irma menyuruh Andre duduk, lalu mengobati luka di tangan Andre. Tidak lupa, Irma mendaratkan kecupan di setiap luka Andre sebelum diobati.


"Sepertinya ini bekas cakaran kuku. Kamu dicakar apa, Mas, ampe banyak begini?" tanya Irma sembari mengamati bentuk luka Andre.


"Wanita." Andre yang semenjak tadi tidak bisa berhenti mengalihkan pandangan dan pikirannya dari Irma, menjawab sekenanya. Ia tak terlalu mengindahkan pertanyaan si istri, yang terpenting jawab dan pengolesan salepnya juga cepat selesai, membuat Andre bisa cepat ke ritual inti.


Andre pun mengangguk pasti.


"Apa kamu pulang telat karena habis bersama wanita itu?" tanya Irma lagi. Tidak dapat dipungkiri badannya sudah terasa panas, bahkan mata Irma sudah terasa kabur. Pikirannya sudah berkelana ke mana-mana.


"Iya," jawab Andre lagi yang membuat dada Irma semakin bergemuruh, rasa sakit tiba-tiba saja menghampiri.


"Lalu apa yang kamu lakukan dengannya?"


"Aku habis menemaninya—"


Irma memotong pembicaraan Andre dengan menghadiahi sebuah gigitan di tangan Andre yang tidak terluka, membuat lelaki itu merintih.

__ADS_1


"Sayang, kok, digigit, sih?" tanya Andre keheranan.


'Aku tidak ingin mendengar sesuatu yang lebih menyakitkan.'


"Sudah selesai, itu bonusnya," ucap Irma sambil melempar salep ke atas nakas. Tatapan Irma tak lagi bersahabat, membuat Andre terkesiap dibuatnya. "Satu lagi, ini untukmu!" Irma menyodorkan sebuah kotak warna hitam yang tadi di simpan di dekat bantal.


"Terima kasih, Sayang." Andre menerima kotak hadiah itu dengan senyum yang merekah, meskipun Irma sudah berubah 180⁰, bahkan Andre bisa melihat jelas kilatan kemarahan di balik mata yang sudah berkaca-kaca.


"Aku ngantuk." Irma membalikkan tubuhnya, lantas berbaring membelakangi Andre sembari menarik selimut untuk menutupi tubuhnya sampai leher. Wanita itu pun memejam, hingga tanpa terasa cairan bening membasahi pipi.


"Sayang kok ngantuk sih? Lalu yang itunya gimana? Kamu udah janji, lho!" Andre yang belum sadar dengan ucapan yang terlontar sebelumnya malah dibuat bingung sekaligus tak terima. Ia yang sudah berfantasi ke mana-mana malah ditinggal tidur.


"Sayang ...." Andre mendekati Irma, tetapi tidak ada jawaban. Akan tetapi, sebuah isakan menyadarkan Andre kalau istrinya tidaklah sedang tidur melainkan sedang menangis. "Sayang, kamu nangis? Kenapa?" tanya Andre khawatir.


Ia membalikkan tubuh Irma menghadap ke arahnya, dan benar saja air mata sudah menganak sungai di pipi


wanita itu.


"Sayang kenapa menangis?" tanya Andre lagi sembari menangkup wajah Irma. Aka tetapi, Irma langsung memalingkan wajah. "Sayang ada apa?"


"Tidak ada apa-apa," ucap Irma sembari melepaskan tangan yang masih menangkupnya, lalu membalikkan badan lagi.


"Kalau tidak ada apa-apa, tidak mungkin langsung begini. Beberapa menit yang lalu saja kita baik-baik saja."


"Kalau gitu pikir saja sendiri," jawab Irma, ketus.


'Apa aku salah bicara?' Andre mencoba mengingat semua kata yang keluar dari mulutnya.


"Ya, ampun!" Lelaki itu langsung tepuk jidat saat mengingat jawaban-jawaban ambigu yang keluar saat mata dan pikiran sudah berfantasi ria, sedangkan mulutnya tanpa sadar malah berucap yang membuatnya dirundung masalah.

__ADS_1


'Kalau kayak gini bisa panjang urusannya.'


__ADS_2