Janda Cantik Milik Pak Polisi

Janda Cantik Milik Pak Polisi
S2 - 30


__ADS_3

30


Friska, Ryan, dan Dewi berada di meja yang sama. Mereka menikmati suasana cafe yang bagi seorang pasangan akan menyebut tempat itu romantis. Lagu-lagu romantis juga dialunkan oleh penyanyi untuk menghibur setiap pengunjung di sana, membuat mereka semakin betah dan ingin berlama-lama berada di tempat itu. Akan tetapi, keadaannya berbanding terbalik dengan perasaan Friska. Di pikiran gadis itu saat ini, hanya ingin segera menghabiskan makanannya dan segera pulang karena berlama-lama di sana hanya akan membuat dadanya semakin sesak.


Sepanjang kebersamaan mereka, Friska habiskan untuk bercengkrama dengan Dewi beserta dua anak kecil yang mereka bawa. Tidak pernah melirik Ryan sedikit pun. Ia lebih masih butuh banyak waktu untuk menetralkan kembali perasaannya, dan berharap dengan tidak melirik lelaki itu ia bisa mengontrol hati dan perasaannya


"Mamah, baju Chika basah!" Tiba-tiba Chika merengek saat bajunya terkena tumpahan jus yang diminumnya. "Chika, minumnya tidak hati-hati. Jadinya, baju Chika kotor," ucap anak kecil itu penuh sesal. Bahkan, air mata sudah siap terjun bebas dari mata indahnya. "Baju Chika dari Papa Ian jadinya kotor." Chika tidak rela baju pemberian Ryan itu kotor.


Dewi yang sedang menikmati makanananya, lantas menghentikan aktivitasnya dan langsung mengurus Chika. Begitu pun dengan Ryan.


"Tidak apa-apa, Sayang! Nanti bisa dicuci, nanti bersih lagi," ucap Ryan.


"Apa Papa tidak marah?" Anak kecil yang haus kasih sayang seorang ayah itu sangat takut calon ayahnya marah.


"Tentu saja tidak. Dicuci juga bersih lagi. Jangan nangis, ya!" Ryan mencoba menenangkan Chika.


Friska pun memperhatikan keduanya yang kompak membersihkan baju Chika yang kotor dan melihat bagaimana lelaki yang dicintainya begitu perhatian kepada Chika. Satu kata yang bisa menggambarkan keadaan mereka di mata Friska saat ini yakni, serasi.


'Calon keluarga yang harmonis,' gumam Friska dalam hati. 'Aku bahagia melihat mereka bahagia. Tapi kenapa rasanya aku pengen nangis?' Friska mengalihkan pandangannya pada makanan yang sedang di makannya. Pandangannya sudah mulai mengabur oleh sesuatu yang mendesak ingin keluar. Ternyata, hatinya belum terlalu kuat untuk menerima pemandangan indah di depan mata. Namun, sekuat tenaga Friska berusaha menahan pertahanannya untuk tidak jebol.


"Aku bersihin di toilet saja, Mas," ucap Dewi yang membuat Friska langsung tersentak. Itu artinya Friska hanya akan berdua dengan Ryan. "Fris, aku tinggal ke toilet dulu, ya!" lanjutnya, yang hanya dijawab anggukan oleh Friska.


Dewi membawa Chika ke toilet, meninggalkan Friska dan Ryan di sana, membuat Friska semakin canggung. Keduanya hanya saling diam, tidak ada yang memulai percakapan. Friska sendiri memilih sibuk dengan makanan di hadapannya.


"Apa kamu tidak ingin menanyakan kabar kakak?" Ryan yang sudah tidak tahan dengan sikap mereka yang saling membisu pun memulai percakapan.


Semenjak bertemu, Friska sudah mengabaikannya. Semua orang disapa dan ditanyai kabar oleh gadis itu, tetapi dirinya tidak. Jangankan ditanya, dilirik pun tidak.


Saat mendengar Ryan berucap, seketika Friska menghentikan kunyahannya dan menampilkan senyum yang sedikit dipaksakan.


"Eh! Bukannya tadi udah, ya?" ujar Friska, padahal ia sendiri sadar betul kalau dirinya tidak menanyakan hal itu.


Ryan hanya menggeleng.

__ADS_1


"Jadi ceritanya sirik nih, enggak ditanyain kabar?" goda Friska. "Kalau gitu aku tanya sekarang, ya! Kak Ryan apa kabar? Tapi sepertinya baik-baik saja, kan?" lanjutnya masih mencoba untuk tersenyum.


"Kabar baik," jawab Ryan sedikit ketus. Entah mengapa, ia merasa kesal dengan sikap Friska kepadanya.


"Al, lihatlah papahmu, kayak anak kecil sirikan." Friska mengalihkan pandangannya kepada anak kecil yang duduk di kursi khusus batita. "Nanti kalau udah gede jangan sirikkan kayak gitu, ya! Jelek tau ...." Friska menasehati Alvino, layaknya sedang berbicara dengan anak besar. "Sini, tante suapin, ya!" lanjutnya. Ia tidak ingin terlalu banyak bicara dengan Ryan, sehingga ia lebih memilih menyuapi anak kecil yang sedang memegang biskuit.


"Sepertinya, akhir-akhir ini kamu sibuk, ya? Setiap kakak maen ke rumah pun kamu tidak pernah ada?" tanya Ryan kemudian.


"Lumayan, Kak. Di perusahaan Kak Bara para karyawannya super sibuk. Mau tidak mau aku yang magang juga ikutan sibuk," jawab Friska, tanpa melihat ke arah lawan bicara. Meskipun yang sebenarnya ketika Ryan di rumah Andre, Friska selalu bersembunyi di rumah Ranti.


Friska mengambil outmeal di meja dan menyuapi anak kecil yang tadi sedang disuapi Dewi. "Aaa ... Sayang! Mama Dewi-nya lagi ke toilet dulu, jadi tante yang suapin, ya!" Friska mengambil sesendok outmel dan memasukkannya ke dalam mulut anak kecil yang sudah membuka mulut itu. "Anak pinter." Friska menjuwel pelan, pipi Alvino yang tampak menggemaskan.


'Tapi, mengapa aku merasa kamu sedang menghindari aku, Fris?' ujarnya dalam hati, sembari memperhatikan kedekatan Friska dan Alvino. Hingga tanpa sadar lengkungan senyum tertampil du wajahnya.


"Dua minggu enggak ketemu, kamu makin chubby aja, ya! Pasti mama dan papamu mengurusmu dengan baik sampai kamu se-chuby ini. Pantas saja tante sangat merindukanmu. Siapa yang tidak akan merindukan anak ganteng yang chubby dan ngangenin seperti ini." Friska kembali menjuwel pipi Alvino, benar-benar gemas. Bukannya menangis, anak kecil itu malah tertawa riang.


"Jadi rindunya cuma sama Alvino saja, nih?" ucap Ryan yang tiba-tiba angkat bicara dan berhasil membuat Friska mematung sejenak.


Namun, dengan segera Friska mencoba mengontrol kembali perasaannya. "Ya, iyalah. Terus kangen sama siapa lagi, ya, Al? Yang ngangeninnya kan cuma Al doang. Aaa ... lagi, Sayang," jawabnya sambil menyuapi Alvino, tanpa menoleh sedikit pun kepada Ryan.


"Sama papahnya Alvino, mungkin," gurau Ryan dengan diakhiri tawa kecil. Di dalam hati, Ryan berharap kalau gadis itu memang merindukannya.


Mendengar ucapan dan tawa kecil Ryan, Friska pun mencoba ikut tertawa. 'Gurauanmu sungguh tidak lucu, Kak. Asal kamu tahu aku sangat merindukanmu. Sangat-sangat merindukanmu. Aku mohon jangan kamu nyalakan lagi skam yang coba kupadamkan ini.'


"Kalau kangen sama papahnya, entar ada yang marah," jawab Friska dengan tawa yang menghiasi wajahnya. "Kamu dengar Al, ada yang pengen dirindukan sama tante juga. Suruh chubby dan menggemaskan kayak Al dulu, baru nanti tante bisa kangen. Iya, gak, Sayang?" lanjut Friska kepada Alvino lagi.


"Apa aku ada salah padamu, Fris?" tanya Ryan lagi dengan serius.


Friska pun menghentikan tangannya yang sedang menyuapi Alvino, lantas menyimpan sendok yang dipegangnya ke mangkok.


"Kenapa Kakak berpikir seperti itu?"


"Entahlah, aku juga bingung. Tapi, aku merasa kamu sedang menghindariku. Aku lihat kamu tidak nyaman berada di sini bersamaku. Apa aku ada salah padmau?"

__ADS_1


"Eh, tidak seperti itu, Kak," elak Friska.


"Bukankah kamu sudah menganggapku seperti kakakmu sendiri? Apa seperti ini hubungan kakak dan adik? Jangankan bertemu, memberi kabar pun tidak. Bahkan, semua pesan yang aku kirim tidak ada satu pun yang kamu baca," ucap Ryan panjang lebar, mengeluarkan unek-uneknya.


'Kendalikan dirimu, Fris. Please, kendalikan dirimu.' Friska terus meminta hatinya untuk kuat.


"Itu hanya perasaamu saja, Kak. Aku tidak menghindari siapa pun. Semuanya murni karena kesibukanku di dunia kerja. Maaf, kalau sudah membuatmu menganggapku begitu. Nanti aku balas pesan, kakak," tandasnya. Selama dua minggu ini, Friska memang tidak pernah membalas pesan dari Ryan.


Berada berdua dengan Ryan, semakin membuat Friska tidak nyaman. Untung saja, tidak selang berapa lama, Dewi dan Chika kembali dari toilet. Dewi meminta maaf, karena telah meninggalkan mereka cukup lama.


Friska hanya mengangguk. Mereka pun kembali makan bersama.


"Kata Mbak Irma kamu lagi deket sama seorang polisi. Apa dia yang mau kamu temui sekarang?" tanya Dewi di sela-sela makan mereka.


Friska tersenyum malu-malu saat mendengar pertanyaan Dewi. Berbanding terbalik dengan orang di samping Dewi.


"Kalau senyum-senyum gitu berarti iya, ya? Sayang, ya, dia gak jadi ke sini. Padahal kalau ke sini kita bisa makan bareng." Dewi menyesalkan yang tidak bisa bertemu dengan teman dekat Friska.


"Lain kali aku ajak maen ke toko, nanti aku kenalin sama Mbak," tandas Friska.


"Ditunggu, lho."


Pembahasan tentang orang yang dekat dengan Friska pun berlanjut. Dewi dan Friska asyik membicarakan Krisna, tanpa menyadari seseorang yang menjadi pendengar mereka sudah kebakaran.


"Apa ada niatan untuk serius sama dia, Fris?" tanya Dewi kemudian.


"Kalau cocok kenapa tidak, Mbak. Dia baik, tampan dan mapan."


"Wah sepertinya Mbak Irma bakal cepet dapat adik ipar lagi, nih?"


Uhuk!


Ucapan Dewi berhasil membuat salahsatu dari mereka tersedak makanan.

__ADS_1


__ADS_2