
22
Prosesi pedang pora berjalan dengan lancar, dan diakhiri dengan sesi foto kedua mempelai bersama dengan pasukan pedang pora dalam formasi lengkap, berserta inspektur upacara dan istrinya. Kemudian, dilanjutkan foto bersama dengan para keluarga dan sahabat.
Acara malam ini tidak hanya prosesi pedang pora saja, tetapi dilanjutkan dengan resepsi. Dulu, saat hari pernikahan mereka, Dimas dan Naura hanya dihadiri keluarga besar saja, tidak mengundang banyak tamu karena keadaan dan kondisi yang tidak memungkinkan. Sebagai gantinya, di Aula hotel yang megah ini Dimas mengundang banyak tamu untuk berbagi kebahagiaan dengan mereka.
Terima kasih dan I love you, tidak hentinya terucap dari bibir wanita yang sedang berada di pelaminan itu. Ia benar-benar tidak menyangka, Dimas yang seminggu ini mendiamkannya sedang mempersiapkan kejutan sebesar ini, yang bahkan tidak pernah terpikir sedikit pun kalau lelaki itu hanya sedang mengerjainya. Sungguh kejutan yang berhasil membuat perasaan Naura jungkir balik.
" I love you." Tanpa rasa malu, Naura mencium pipi Dimas saat mereka sedang berdua di atas pelaminan.
"Too," jawab Dimas dengan seutas senyum.
"Singkat amat," tandas Naura.
"Sudah berapa kali istriku ini mengucap kata itu sejak upacara selesai?" goda Dimas sambil merangkul pinggang Naura.
"Apa aku harus menghitungnya?"
"Tidak perlu. Karena tanpa mengucapkannya pun aku tahu kalau kamu itu mencintaiku. Dan aku itu lebih ... lebih ... lebih mencintaimu," ucap Dimas,, "dan sebaiknya mulut yang cantik ini bersiap saja untuk merangkai kata untuk menjawab ucapan selamat dari orang-orang." Telunjuknya menyentuh bibir berwarna merah delima yang begitu menggodanya itu. "Lihatlah mereka sudah bersiap menyerbu kita di sini," lanjut Dimas sambil menunjuk para tamu yang sudah bersiap naik ke pelaminan untuk mengucapkan selamat.
Naura yang tadi lebih fokus pada setiap rentetan acara pedang pora, tidak memperhatikan seberapa banyak orang yang ada di Aula tersebut. Sekarang, saat Dimas menunjuk ke arah mereka, Naura hanya bisa melongo melihat lautan manusia ada di sana.
"Papol, kamu mengundang berapa banyak orang?"
"Aku menyebar undangan kurang lebih seribu dua ratus," ucap Dimas.
"Seribu dua ratus?" Nuara terperangah dengan ucapan Dimas. Lelaki itu menyebar undang sebanyak itu, tetapi ia tidak mengetahuinya sama sekali. Benar-benar sudah direncanakan dengan sangat matang, sampai tidak ada satu pun yang buka mulut hingga acara dimulai. "Dan kita akan berdiri di sini menyalami mereka satu persatu?" Pertanyaan bodoh yang keluar dari mulut Naura.
"Tentu saja."
"Lalu bagaimana dengan Kayla?" Naura malah mengkhawatirkan keadaan anaknya.
__ADS_1
"Banyak orang yang sudah mengambil alih. Kamu tenang saja," ujar Dimas.
Dan percakapan mereka pun terhenti saat para tamu mulai naik ke atas panggung pelaminan untuk mengucapkan selamat kepada kedua mempelai yang sudah mengarungi bahtera rumah tangga sudah hampir dua tahun itu.
Ryan berjalan menuju ke panggung pelaminan untuk mengucapkan selamat kepada dua mempelai bersama Friska dan Dewi serta Alvino yang berada dalam gendongan Dewi, selepas keluar dari kamar tadi, anak kecil itu tidak mau jauh dari wanita yang disebutnya 'mama'. Ryan dan Dewi berjalan berdampingan, membuat mereka mirip sebuah keluarga kecil. Sementara itu, Friska berjalan di belakang mereka dengan perasaan yang sudah tidak menentu. Kedua manik Friska, tidak pernah lepas dari dua orang di hadapannya, hingga ia yang tidak memperhatikan apa pun selain Ryan dan Dewi.
Friska yang berjalan sambil melamun hampir saja tertabrak meja dorong berisi minuman untuk menjamu para tamu yang berjalan sendiri. Untung saja, Ryan sempat menoleh ke belakang dan melihat Friska yang hampir tertabrak dari samping pun langsung menarik gadis itu, hingga berlabuh dipelukannya. Sementara meja dorong itu dapat segera dihentikan oleh pelayan yang mengejar.
"Apa kamu tidak apa-apa?" ucap Ryan yang langsung mengurai tangannya begitu Friska terselamatkan.
Tidak ada jawaban. Friska masih asyik dengan dunianya, bahkan ia tidak menyadari kalau dirinya berada di pelukan lelaki yang beberapa hari ini sudah memenuhi ruang hatinya.
"Apa yang sudah kau lakukan? Kau hampir membahayakan nyawa orang lain." Ryan lantas menegur pelayan yang teledor itu.
"Maaf, Tuan. Tadi saya sedang memberikan minuman kepada para tamu dan saya lupa mengunci rodanya," jelas si pelayan.
Entah mengapa Ryan ingin sekali memarahi pelayan tersebut yang hampir saja membuat Friska celaka. Untung saja, dengan segera Dewi memegang pundaknya, menenangkan.
Akhirnya, Ryan pun bisa meredam emosinya dan menyuruh pelayan itu pergi.
"Fris, kamu tidak apa-apa?" tanya Ryan lagi kepada gadis yang masih mematung. "Fris!" panggil Ryan agak keras sembari menggoyangkan bahu gadis itu.
Merasakan ada yang menggoyangkan bahu serta mendengar suara yang cukup keras, membuat Friska terkesiap dan lebih terkesiap lagi saat menyadari Ryan ada di hadapannya. Spontan, Friska langsung mundur.
"Ya, Kak," ucapnya dengan sedikit kebingungan. Bukankah tadi ia sedang berjalan sambil menatap dua punggung yang berjalan berdampingan, lalu kenapa sekarang mereka malah sedang menatapnya dengan khawatir. Sekelebat pertanyaan bermunculan karena Friska sama sekali tidak ingat.
"Apa kamu tidak apa-apa, Fris?" tanya Dewi yang juga sama khawatirnya.
Friska hanya menggeleng. "Memangnya apa yang terjadi padaku?" tanyanya dengan begitu polos.
"Kamu hampir saja tertabrak meja troli, kamu tidak ingat?" tanya Dewi yang dijawab gelengan Friska. "Beneran tidak ingat?" ulang Dewi dan hanya dijawab gelengan lagi.
__ADS_1
"Makanya kalau jalan jangan melamun. Lagi lamunin apaan sih?" Ryan mengusap rambut Friska, gemas dengan tingkah Friska yang malah tampak kebingungan. "Udahlah! Ayo, samperin Naura dan Dimas! Kamu jalannya di depan bersama Dewi."
Dewi pun menggandeng adik ipar bos-nya itu dan berjalan menuju pelaminan, sedangkan Ryan berjalan di belakang mereka.
Tanpa sepengetahuan mereka ada dua pasang mata yang memperhatikan kejadian itu dari dua tempat yang berbeda.
"Tebakanku ternyata benar adanya. Ya, Tuhan. Aku harus bagaimana? Selesai acara ini aku harus langsung bicara kepadanya, sebelum semuanya makin runyam."
Sementara itu, di sisi lain seseorang yang juga melihat tragedi tersebut tersenyum jahat. "Sungguh pemandangan yang indah. Bukankah hubunganmu dengan mantan istrimu sudah membaik? Akan kupastikan hubungan kalian itu hancur kembali," sarkas seseorang yang entah bagaimana bisa masuk ke aula karena tidak ada yang mengundangnya.
Tamu datang dan pergi silih berganti mengucapkan selamat kepada kedua mempelai. Selama hampir empat jam, Pasangan romantis yang bukan pasangan baru lagi itu menjadi pajangan di tempat yang megah itu, menjadi raja dan ratu di acara yang mereka gelar. Semua yang hadir pun begitu menikmati resepsi yang dimeriahkan dengan sederet hiburan itu.
Setelah acara selesai, semua orang kembali ke rumah masing-masing, kecuali raja dan ratu si pemilik pesta. Mereka menginap semalam di kamar yang tadi dipakai Naura untuk berganti pakaian dengan dekorasi yang sudah diubah seromantis mungkin tentunya.
"Mamah dan Papah pulang dulu. Jangan lupa buatin Kayla adik secepatnya." Anna dan Bambang pamit, setelah di aula hanya tinggal keluarga saja. Tidak lupa ibu mertua Naura untuk menggoda anak dan menantunya. "Biasanya kalau abis puasa lama, apalagi abis ngambekan suka jos, lho!" lanjut Anna, semakin menggoda.
"Pengalaman, ya, Mah?" Naura yang sudah terbiasa dengan kekonyolan sang mertua malah meladeninya.
"Ish ... pinter banget, ya, kamu. Kamu tahu, sebelum mamah dinyatakan positif hamil Dimas aja, mamah dan—"
"Katanya mau pulang. Ayo, pulang! Sudah malam." Bambang yang tahu istrinya akan membuka aibnya langsung memotong ucapan si istri dan mengajaknya pulang. "Ra, papah dan mamah pulang, ya!" ucap Bambang, lalu menarik si istri yang masih belum rela pergi karena belum selesai bicara.
Naura dan Dimas hanya geleng-geleng saat melihat tingkah orang tua mereka.
Sekarang benar-benar tinggal mereka berdua. Semua orang telah pulang.
"Apa kita masih akan tetap di aula?" tanya Dimas.
"Tentu saja tidak. Tapi, aku sudah tidak punya kekuatan untuk jalan," ucap Naura dengan alis yang sudah naik turun.
Mengerti akan tingkah sang istri, Dimas pun langsung menggendong Naura, membawa wanita itu ke kamar hotel yang sudah dipersiapkannya untuk memasuki gua menuju nirwana yang seminggu ini tidak pernah dijajalnya.
__ADS_1
'Kamu ngerjain aku selama seminggu. Sekarang giliranku yang mengerjaimu. Setengah malam juga cukup.' Naura menyunggingkan senyumnya saat menatap wajah tampan lelaki yang sedang menggendongnya.