
Ryan berbaring di ranjang yang sudah berbulan-bulan Bagaskara segel. Bagaskara tak memperbolehkan ia memasuki kamar yang sudah menjadi miliknya sejak kecil. Namun, Ambar yang kasihan dengan kondisi si anak, menyuruh lelaki itu menginap. Belum lagi, hari yang sudah menjelang tengah malam, hawanya pasti tak baik untuk Alvino. Sekarang, Ryan sedang menatap langit-langit kamar berwarna beige itu, meluruskan tubuh yang masih sedikit terasa gatal—meskipun sudah diolesi salep, bahkan sudah meminum obat alergi pula.
Lelaki itu masih memikirkan ucapan Ambar yang menjabarkan ucapan-ucapan Bagaskara sebelum meninggalkan ruang keluarga.
"Mah, apa maksud Papah?" tanya Ryan setelah kepergian Bagaskara kepada Ambar yang sedang menidurkan Alvino di sofa.
"Papahmu akan memaafkanmu asalkan kamu menuruti semua ucapannya. Percayalah yang diucapkan papahmu itu untuk kebaikkan kamu juga." Ambar menepuk bahu Ryan.
"Kami menyayangimu. Kami juga menyayangi Irma. Maaf, mungkin kemarin papah dan mamah terlalu berlebihan dalam bersikap. Jujur... kami sangat kecewa saat kamu menyakiti Irma yang sudah kami anggap anak sendiri. Apalagi, papahmu yang sudah berjanji kepada ayahnya Irma akan menjaga putrinya. Saat mendengar keadaan sebenarnya tentang hubunganmu dan Irma, papahmu begitu hancur. Ia sampai menyalahkan dirinya sendiri karena telah gagal mendidikmu!" lanjutnya, sedikit tercekat. "Senyum dia hilang bersamaan dengan kandasnya hubungan kalian. Kamu terlalu bodoh mencampakkan wanita yang sangat mencintai dan berbakti padamu, membuat semua orang menderita karena ulahmu. Dan lihatlah apa yang kamu dapat dengan menikahi wanita pilihanmu?" Ambar berbicara panjang lebar dan akhirnya menyayangkan pilihan Ryan.
Ryan diam menunduk, mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut Ambar. Menyesal? Tentu saja ia sangat menyesal. Keluarganya telah memilihkan pendamping yang terbaik, tetapi ia malah mencampakkannya dan memilih pilihannya sendiri yang jika dibandingkan dengan Irma bagaikan langit dan bumi.
"Namun, ketika mendengar Irma sudah meneruskan hidupnya, senyum papahmu kembali hadir. Rasa bersalahnya kepada Om Burhan sedikit terobati. Ia kembali menata hatinya untuk memulai memaafkanmu. Ya, meskipun mamah juga tahu, itu semua tak luput dari andil Irma yang membujuk papahmu untuk berbaikkan denganmu. Irma baikkan? Meskipun kau sakiti dia sebegitu kejam, ia tetap tak mau kalau kalian renggang gara-gara dia." Ambar memicing sebelah matanya melirik Ryan yang semakin menunduk karena rasa bersalah.
"Dia sangat baik. Jika bukan karena pengertian dia, mamah pun belum tentu sudah memaafkanmu. Dia bukan bekas menantu, tetapi dia anak perempuan kami. Biarkanlah anak perempuan mamah hidup bahagia dengan pilihannya. Jangan mengusik kebahagiaannya. Mamah yakin kamu bisa mendapatkan kebahagiaan juga, tapi bukan dengan Irma. Mamah mohon jangan ganggu hubungan Irma! Cukup sekali kamu menyakitinya." Ambar mengatup kedua tangannya di depan dada, memohon kepada Ryan untuk tidak mengganggu Irma. Air mata pun tanpa permisi membasahi wajah wanita yang sudah tak lagi muda itu.
__ADS_1
Ryan perlahan mendongak, menatap sang ibu yang sedang memohon kepadanya. Entah, mengapa dadanya terasa sangat sakit melihat air mata terus berderai dari mata Ambar. Sebegitu besarnya kah, ia telah menyakiti orang-orang terdekatnya? Semua orang tersakiti karena sikap egoisnya. Tak kuasa melihat Ambar yang masih mengatupkan kedua lengannya, rasa bersalah semakin menyeruak di dada Ryan. Ia pun beringsut dari tempat duduk, kemudian berlutut di hadapan Ambar yang masih duduk, memohon ampun.
"Maafkan aku, Mah! Aku yang salah. Aku yang telah dibodohkan oleh cinta kepada Elsa, membuatku melupakan cinta kasih dari orang-orang yang telah mencintaiku dengan tulus. Maafkan aku." Ryan memeluk lutut Ambar. Tubuhnya bergetar, ia pun tak bisa menahan air mata yang juga mengalir deras dari kedua irisnya.
Keduanya pun larut dalam tangisan, begitu juga dengan Bagaskara. Lelaki yang memperhatikan anak dan ibu itu dari lantai dua tak terasa juga menitikkan air mata. "Semoga ini titik balik untukmu menjadi anak kebanggaan papah lagi," ujar Bagaskara sembari mengusap cairan bening yang tanpa permisi keluar, lalu berbalik badan kembali ke dalam kamar.
Ryan dan Ambar saling memaafkan. Bahkan lelaki itu berjanji akan berubah. Ucapannya terlihat tulus dan dengan tekad yang kuat, tidak seperti kemarin-kemarin yang hanya ya-ya saja.
"Aku ingin jadi anak Papah lagi. Cukup aku menjadi pembangkang. Aku akan menuruti semua yang Papah perintahkan, karena aku yakin tak ada orang tua mana pun yang akan menyesatkan anaknya. Maafkan aku, Mah!" ujar Ryan yang masih menangis sambil memeluk lutut Ambar.
"Mamah sudah memaafkanmu, bahkan sebelum kamu meminta maaf. Selama ini mamah bersikap jahat karena ingin kamu memahami letak kesalahanmu." Ambar memegang bahu Ryan, mengangkat kepala yang masih saja tertunduk itu, lalu memeluknya. Hal yang sudah sangat ia rindukan sejak lama. Anaknya telah kembali, meskipun ia harus merelakan Irma yang tak bisa kembali kepada Ryan.
"Lalu apa maksud Papah memintaku mengadopsi Alvino? Memang ada ayah sendiri mengadopsi anaknya?" tanya Ryan sambil memberikan botol susu kepada Ambar.
Ambar meraih botol susu, lalu memberikannya kepada Alvino yang sudah sangat kehausan. "Apa kamu yakin ini anak kamu?"
__ADS_1
"Kenapa tidak yakin? Kan aku yang menggaulinya," jawab Ryan dengan percaya diri. Ia yakin Elsa tipe wanita yang setia.
"Yakin cuma kamu?"
"Yakin."
Ambar menarik napas panjang, menyuplai pasokan oksigen yang banyak sebelum menceritakan sesuatu yang akan mengubah keyakinan Ryan kepada Elsa.
"Ada hal yang belum kamu tahu. Mamah tidurkan Alvino dulu! Tapi, mamah harap itu tak mengubah apapun terhadap Alvino. Anak kucing pun kalau kita rawat dari kecil pasti akan nurut dan panut sama kita. Apalagi anak manusia, asalkan kita mendidiknya dengan baik, pasti dia akan mengikuti ajaran kita."
ujar Ambar yang masih belum bisa dipahami Ryan.
***
"Aku masih belum bisa percaya dengan semua yang diucapkan Mamah. Ini terasa mimpi buruk!" Ryan menutup wajah dengan kedua tangannya, lalu mengacak-acak rambut. Ia tampak begitu frustrasi dengan kenyataan yang baru saja diterimanya setelah Ambar menidurkan Alvino. "Maafkan aku, Ir! Kamu berhak untuk bahagia. Aku tak akan mengganggu hubungan kalian."
__ADS_1
Hari ini, merupakan hari yang begitu panjang bagi Ryan. Bahkan, tak sekerjap pun ia bisa menutup mata. Hari ini, merupakan titik balik kehidupannya. Ryan telah menentukan tujuan hidupnya.
Sementara itu, di dua rumah yang letaknya bersebelahan. Calon suami-istri yang akan segera menghalalkan hubungan mereka itu sedang tertidur dengan sangat pulas. Yang satu tertidur sambil memegang pipi, sedangkan satu lagi tidur sambil memegang bibirnya. Seakan-akan kejadian dadakan yang dilakukan Andre akan mereka lanjut di dalam mimpi indah keduanya.