
Kedua sahabat yang dipertemukan saat sekolah kepolisian itu pun tertawa begitu lepas di penghujung tugas mereka, seakan-akan perbincangan mereka menjadi obat penat termujarab setelah seharian tenaga mereka terkuras. Keduanya tanpa rasa berdosa memberikan julukan yang berbeda kepada ibu hamil yang beberapa bulan lagi akan melahirkan bayi kembar di tengah-tengah mereka.
Puas dengan percakapan pelipur lelah, Andre dan Dimas memilih pulang bersama dengan kendaraan masing-masing tentunya. Namun, di tengah jalan keduanya terpisah. Dimas pergi menuju toko untuk menjemput wanita yang ia juluki tawon itu, sedangkan Andre memilih jalan yang berbeda.
Andre menyusuri jalanan yang jarang ia lalui ketika pulang tugas. Namun, hari ini demi sesuatu ia rela menempuh jalan dua kali lipat lebih jauh karena di jalan yang biasa lelaki itu lewati tidak akan menemukan sesuatu yang dicarinya. Andre terus menarik gas sepeda motornya hingga perlahan ia mengurangi kecepatannya saat melihat sebuah toko dengan nama 'Flowers Garden' sudah di depan mata. Ia pun menepikan motor kesayangannya itu tepat di depan toko tersebut.
Lengkungan senyum langsung terukir sempurna di bibir Andre, mengingat malam ini ia akan memberikan kejutan kepada si wanita yang perasaannya telah dibuat jungkir balik oleh ulahnya.
Seorang pelayan menyambut kedatangannya dengan begitu ramah. "Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya si pelayan itu dengan seulas senyum.
Tak menyia-nyiakan kesempatan, Andre pun langsung memesan bunga kesukaan Irma dan mengangguk saat si pelayan memintanya menunggu sebentar. Sembari menunggu, lelaki yang masih berseragam polisi itu pun memilih tuk melihat-lihat bunga-bunga yang dijajakan di sana. Hingga, matanya tertuju kepada seseorang yang membawa bunga lili dan berjalan ke arahnya. Salah, mungkin lebih tepat lagi berjalan ke arah pelayan yang sedang memegang bunga yang Andre pesan. Mata Andre pun tanpa sengaja bertemu dengan mata orang itu yang juga sedang melihat ke arahnya, tampak jelas keterkejutan di wajah orang yang semakin mendekat itu.
"Pak, ini pesanannya!" Pelayan itu memberikan bunga mawar merah yang dipesan Andre.
__ADS_1
Dengan segera, Andre meraih bunga yang disodorkan si Pelayan. "Terima kasih," uapnya, "tambah sama ini juga, ya, Mbak!" pinta Andre, menunjuk sebuah pot yang berisi pohon mawar yang sedang berbunga, persis seperti bunga yang tadi pagi ia petik.
"Mbak, aku pesan ini, ya!" Tiba-tiba seseorang juga ikut berbicara, membuat si pelayan menoleh ke arah orang itu. Ia menyodorkan bunga lili kualitas terbaik yang sengaja ia pilih sendiri.
"Baik, Mas. Saya layani Pak Polisinya dulu, ya!" ucap si Pelayan dengan sopan, walau bagaimanapun Andre lebih dahulu datang ke sana.
Lelaki itu hanya mengangguk, seraya melirik Andre sekilas.
"Pasti itu untuk Irma. Sejak kapan dia suka mawar? Bukankah bunga kesukaannya itu bunga lili?" tanya lelaki itu, yang tak lain Ryan, dengan tatapan sinis. Ternyata Andre tak terlalu banyak tahu tentang Irma, begitulah yang ada dipikirannya.
"Kau—" Rahang Ryan tiba-tiba mengeras, tetapi ucapannya terpotong saat tiba-tiba si pelayan datang membawa struk pembayaran pesanan Andre.
"Terima kasih, Mbak," ujar Andre.
__ADS_1
"Sama-sama," jawab si Pelayan, kemudian mengambil bunga yang disodorkan Ryan untuk dikemas. "Tunggu sebentar, Mas." Pelayanan kembali pergi, meninggalkan dua lelaki yang tampak tidak bersahabatan itu.
Mendapati si pelayan sudah pergi, Ryan kembali membuka mulut sembari menunjuk Andre hendak melanjutkan omongannya yang tadi terpotong. Namun, dengan segera Andre juga memotongnya.
"Aku lupa. Mumpung ketemu di sini, sekalian aku mo mengucapkan terima kasih telah menolong Irma dari kecelakaan itu. Semoga saja tidak acara manipulasi di dalamnya, ya!" Sejujurnya begitu tahu Ryan yang menolong Irma, Andre merasa semuanya seperti hal terrencana. Akan tetapi, ia juga tak bisa asal menuduh kalau tidak ada bukti.
"Maksudmu?"
"Ya, aku mau berterima kasih karena kamu telah menolong Irma, bahkan kau sampai terluka seperti itu." Andre menunjuk sikut Ryan yang diperban. "Berkat dirimu Irma baik-baik saja. Sekali lagi terima kasih. Eits, masih ada yang lain. Tapi, jangan pernah berpikir untuk mendapatkan Irma lagi. Sekarang Irma hanya milikku dan tak akan kubiarkan orang sepertimu mendekatinya. Lebih baik urus rumah tangga barumu yang telah kau pilih sampai-sampai mencampakkan wanita sebaik Irma. Tapi, makasih lho, berkat kebodohanmu aku bisa mendapatkan cintanya." Andre tersenyum miring, seraya menepuk bahu Ryan. "Eh, satu lagi deh, kalau kau berniat membeli bunga lili itu untuk Irma, sebaiknya tidak perlu repot-repot. Mewakili Irma aku mengucapkan berribu terima kasih, tapi sebaiknya berikan saja kepada istrimu. Daripada sibuk mengejar calon istri orang, sebaiknya perbaiki rumah tanggamu saja." Andre kembali berujar, lalu pergi tanpa memedulikan Ryan yang sudah disulut amarah.
Urat-urat rahang dan tangan Ryan tampak menegang, kedua tangannya pun mengepal sempurna saat mendengar setiap kata yang terucap dari Andre. "Sialan!" umpat Ryan seraya memukul angin karena Andre sudah melenggang pergi.
Sebelum melajukan motornya, Andre mengembuskan perlahan napasnya. "Aku menempati janjiku, Mbak Say. Aku sudah berterima kasih kepada mantan suamimu, meskipun sedikit bikin dia darah tinggi."
__ADS_1
Andre pun kembali melanjutkan perjalanan untuk menempati janji-janji lain yang ia buat kepada Irma, meninggalkan Ryan yang tampak begitu kesal dengan semua ucapannya. Entah apa yang ada di pikiran lelaki bernama Ryan itu? Ego dan akal sehat masih berperang di dalam dirinya.