Janda Cantik Milik Pak Polisi

Janda Cantik Milik Pak Polisi
89


__ADS_3

"Jangan bilang kau menceraikan Elsa untuk kembali kepada kakakku?" Naura yang sedang berbaring sembari mangut-mangut mendengarkan perkataan Ryan, seketika langsung bangun dengan suara yang menggema di ruang tamu setelah mendengar Ryan menceraikan Elsa, dan berhasil membuat Ryan tersentak dengan telinga yang terasa pengang. Suara cempreng Naura, masuk semua ke telinga lelaki itu tanpa filter. Aura dingin kembali terpancar. Naura menatap Ryan dengan begitu dingin.


'Apa aku salah bicara lagi? Kenapa malah jadi gini?' Ryan bertanya pada dirinya sendiri. Mendapat tatapan menusuk dari Naura, menjadikan Ryan serba salah.


"Apa kau menceraikan Elsa untuk bisa kembali kepada Kak Irma?" Naura mengulangi pertanyaannya dengan tatapan yang semakin menusuk.


"Tidak, Ra. Tidak ada niatan seperti itu," sanggah Ryan yang mulai ketakutan dengan sorot mata mematikan dari wanita di hadapannya. "Sumpah!" ujar Ryan lagi, menyadari Naura tidak berhenti menatapnya, bahkan wanita itu sanggup tak berkedip sama sekali.


Benar-benar menakutkan itulah sosok Naura saat ini bagi Ryan. Ryan dibuat tak berkutik oleh sikap Naura, hingga sebuah suara terdengar sangat nyaring.


'Perutku memang lapar, tapi tidak berdemo sekencang itu.' Ryan berucap dalam hati, begitu mendengar bunyi krucuk cacing minta makan. Tawanya pun hampir pecah, saat menyadari perut siapa yang berbunyi. Akan tetapi, sebisa mungkin tawa itu segera ia tahan sebelum wanita itu menyadarinya dan kembali mengaung.


"Aku lapar," ucap Naura sembari memegangi perutnya yang terus berbunyi.


"Kakak cuma bisa masak mi dan telur ceplok saja. Apa kamu mau?" Ryan menawarkan jasa dan dijawab anggukkan Naura. "Kalau begitu tunggu di sini!" lanjut Ryan sembari mengusap pucuk kepala ibu hamil itu, lalu beranjak menuju dapur.


Sementara itu, Naura hanya mengiakan ucapan Ryan dengan anggukkan. Rasa lapar yang melanda membuat singa betina itu menjinak begitu saja. Bagai kerbau yang dikocok hidungnya, ia menurut dengan ucapan Ryan.

__ADS_1


Ryan kembali mengambil sebungkus mi goreng dan telur dari kulkas untuk segera mengeksekusi dua makanan tersebut. Ia pun dengan cekatan menghidupkan dua kompor untuk merebus mi dan menggoreng telur, hingga tawa Ryan yang semenjak tadi ditahan pun pecah begitu saja. Ia sampai geleng-geleng mengingat suara perut nyaring yang langsung meluluhkan hati Naura.


"Hikmah di balik bunyi krucuk-krucuk," gumamnya sembari menuangkan bumbu mi ke dalam piring dengan sisa tawa yang masih terukir di bibirnya. Lantas, ia meniriskan rebusan mi dan menuangkannya ke dalam piring berisi bumbu. Tidak lupa telur ceplok yang sudah matang pun, ia sajikan di atas mi.


Ryan masih anteng menata mi goreng tersebut, bahkan sesekali terdengar siulan keluar dari mulutnya. Tanpa ia sadari seseorang juga ada di sana, memperhatikan Ryan bergelut dengan kompor. "Hikmah apaan?" tanya Naura yang membuat Ryan melonjak karena kaget, bahkan mi goreng yang sudah siap pun hampir saja melayang ke lantai.


"Ra, sejak kapan di sini?" tanya Ryan. Sembari memegang erat piring yang hampir saja terjatuh, ia tampak gelagapan takut Naura mengetahui dirinya yang menertawakan si bumil.


"Cukup lama. Bahkan aku tahu kamu menertawakanku dengan begitu puas." Wanita itu melipat kedua tangannya di dada dengan bibir yang sudah mengerucut.


"Aku tak bermaksud seperti itu, Ra," ujar Ryan penuh sesal. Ia takut wanita itu kembali mengamuk.


Ryan bernapas lega, setidaknya mi goreng buatannya bisa menyelamatkan ia dari amukkan Naura. Ia pun mengekori si mantan adik ipar, lalu duduk di kursi bekasnya duduk tadi dengan sepiring mi yang sudah dingin dan melahap kembali. Namun, suapan Ryan terhenti saat melihat Naura malah memperhatikan mi tersebut tanpa mencicipi sama sekali.


"Kenapa tidak di makan? Katanya lapar," tanya Ryan.


"Kamu tidak mencampurkan racun ke dalam mi-nya, kan?" Naura menatap mi tersebut, kemudian beralih menatap Ryan. Biar pun lapar, tetapi harus tetap waspada.

__ADS_1


"Ya ampun, aku tak sejahat itu, Ra. Lagian aku juga belum kepikiran untuk menghabiskan masa tuaku di hotel prodeo," sanggah Ryan. Ia tak habis pikir, Naura akan berpikir sejauh itu.


"Kemarin-kemarin lakuin KDRT sama Kak Irma, memang itu bukan kejahatan?" ujar Naura dengan sebelah mata yang menyipit. Mengingatkan Ryan akan kebodohan yang telah dilakukan lelaki itu.


"Ra, kakak tahu. Kakak salah kepada kalian, terlebih kepada Irma. Dari hati yang paling dalam kakak meminta maaf. Tak bisakah kamu berikan kesempatan kedua untuk kakak memperbaiki semuanya? Jangan terus menyangkutkan hal-hal yang udah lalu itu! Kakak ingin kembali menjadi kakakmu yang dulu. Biar pun aku sudah tak menjadi suami Irma, bukan berarti kekerabatan kita berakhir, kan?"


Naura memperhatikan Ryan. Ia bisa melihat lelaki itu benar-benar tulus meminta maaf. Tidak ada salahnya ia mempercayai ucapan Ryan. Tuhan saja maha pemaaf, lalu siapa Naura sampai tidak mau memaafkan lelaki di hadapannya.


"Aku percaya. Asal jangan ganggu pernikahan Kak Irma."


Suasana sedikit mencair setelah Ryan bersumpah tidak akan mengganggu pernikahan Irma, lalu mencicipi mi yang dibuatnya untuk Naura. Naura tetaplah Naura, ia tidak akan percaya begitu saja kepada orang lain sebelum ia melihat sendiri pembuktiannya. Setelah melihat Ryan tidak kenapa-kenapa, baru ia memakan mi tersebut.


Keduanya pun menikmati mi goreng bersama-sama, tidak ada lagi perdebatan dari mereka. Bahkan, Naura dengan seksama mendengarkan kisah yang terjadi antara Ryan dan Elsa. Ada rasa kasihan yang timbul di benak Naura saat mendengar semua kisah itu, tapi menurutnya itu sebanding dengan penderitaan yang didapat Irma. Hingga seekor kecoa tanpa permisi melintas di dekat piring Naura. Naura yang sangat takut dengan hewan kecil itu langsung histeris. Spontan ia berdiri dan mendorong asal kursi, lalu menjauh dari meja makan.


"Rumah sebagus gini kenapa ada monster kayak gitu?" sungut Naura, bergidig ngeri.


"Maaf. Kakak akan tangkap kecoanya." Ryan yang tahu Naura takut kecoa langsung mencoba menangkap hewan itu. Akan tetapi, menangkap serangga dengan tangan kosong bukanlah hal yang mudah. Beberapa kali hampir tertangkap, si kecoa bisa meloloskan diri.

__ADS_1


Naura mengedarkan matanya ke seluruh ruangan, mencari sesuatu yang bisa membantu Ryan menangkap kecoa. Hingga mata Naura tertuju pada dua buah tongkat bisbol yang tersimpan di pojok ruangan. Ia pun segera mengambil benda tersebut dan memberikannya satu kepada Ryan, sedangkan satu lagi dipegang olehnya untuk jaga-jaga jika kecoa itu mendekat ke arahnya. Akhirnya, kecoa itu pun tewas dengan mengenaskan setelah mendapatkan pukulan maut dari Ryan menggunakan tongkat bisbol.


__ADS_2