Janda Cantik Milik Pak Polisi

Janda Cantik Milik Pak Polisi
99


__ADS_3

"Aku mencintaimu."


"Aku juga mencintaimu."


Kata cinta dan ciuman di kening menjadi akhir penyatuan cinta mereka yang dibanjiri peluh di awal pajar. Dengan napas yang masih belum beraturan, Andre menjatuhkan tubuhnya di samping sang istri yang juga masih mengatur napas.


"Terima kasih." Ia meneleng dengan senyum tengilnya ke arah Irma.


Melihat senyum tengil Andre, membuat Irma tersadar seratus persen dengan apa yang dilakukannya. Malu, itulah yang dirasakan. Ia tak yakin kalau yang bergaul bersama sang suami itu benar-benar dirinya. Sungguh agresif. Tanpa menjawab ungkapan terima kasih Andre, wanita tanpa busana itu pun langsung menarik selimut untuk menutupi tubuh sampai bahu, kemudian beranjak dari ranjang dan membiarkan kain tebal itu melilit tubuh polosnya.


"Mau ke mana?" tanya Andre lagi, sambil mencekal tangan sang istri.


"Kamar mandi," jawab Irma tanpa berani menatap lelaki yang baru saja membawanya terbang ke surga.


"Bareng, ya!" Mendengar kata kamar mandi, seketika ia juga ikut bangun. Ingatan Andre tiba-tiba berkelana pada salahsatu referensi yang didapatnya. 'Sepertinya praktekkan yang onoh oke juga,' ujarnya dalam hati dengan senyum yang semakin mengembang.


"Enggak," jawab Irma sambil berlari ke kamar mandi. Rasa sakit di bagian daerah inti karena penjelajahan Andre pun tidak dirasa. Dalam kepalanya hanya ingin segera menghilang dari hadapan sang suami. Menyembunyikan malu yang dirasakannya.


Andre sendiri hanya bisa melongo, saat mendapat penolakan sang istri. Padahal, otaknya sudah berjalan terlebih dulu, membuat tubuh lelaki itu melemas begitu mendengar pintu kamar mandi ditutup.


"Enggak yang tadi enak banget didengar, kenapa enggak yang ini jadinya nyesek." Andre menjatuhkan kembali tubuhnya. "Bermain sama yang udah berpengalaman ternyata sangat menyenangkan. Meskipun orangnya malu-malu kucing, tapi kalau masalah yang satu itu sepuluh jempol untukmu, Mbak Say. Kalau kata anak zaman sekarang mah 'Calangeyo, Mbak Say'." Senyum Andre terus terukir saat mengingat kejadian panas yang baru saja mereka lakukan.


Sementara itu di dalam kamar mandi, Irma langsung mengguyur tubuhnya dengan shower air hangat. Ia tak henti-hentinya merutuki dirinya sendiri yang sama sekali tidak dikenalnya.


"Apa yang kamu lakukan, Ir?" tanya Irma pada dirinya sendiri sambil menoyor kepala. "Pasti Mas Andre sekarang sedang menertawakanku. Kamu ini memang tidak tahu malu, Ir."


Entah apa yang merasukinya? Bercinta dengan Andre membuat wanita itu seakan-seakan lupa diri. Pesona Andre, meminta Irma berbuat dibatas wajar seorang Irma. Sisi liarnya keluar begitu saja tanpa terkendali.


"Apalagi saat ia bilang mau ke kamar mandi. Ah ... itu sangat memalukan. Urat malumu benar-benar sudah putus, Ir!" Irma menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, mengingat apa yang diucapkannya saat itu.


Lama sekali Irma di dalam kamar mandi, berharap ketika keluar ia melihat Andre sudah kembali terlelap. Setelah memakai jubah mandi, Irma yang hampir 45 menit berada di kamar mandi pun keluar. Namun, sepertinya Dewi Fortuna tidak sedang berpihak kepada Irma. Begitu membuka pintu kamar mandi, Irma dikejutkan oleh lelaki yang ia harapkan sedang tertidur berada di depannya. Tampak Andre sedang menyilangkan kedua tangan di depan dada sembari bersender di kosen pintu kamar mandi dengan mata yang menatap Irma dari atas sampai bawah.


"Mas, sedang apa di sini?" tanya Irma untuk menghilangkan kegugupannya karena terus dipandangi Andre.

__ADS_1


"Mbak ngapain aja di kamar mandi lama banget?" tanya Andre dengan sebelah mata yang menyipit. "Tahu akan selama itu, tadi aku nyerobot ikut. Siapa tahu ada yang bisa aku bantu," lanjutnya. "Enggak usah malu, aku malah sangat suka," bisik Andre seolah-olah ia tahu apa yang membuat wanitanya berlama-lama di kamar mandi.


"Apa sih, Mas? Udah, sana, mandi sebentar lagi azan subuh!" Irma mendorong tubuh lelaki itu masuk ke kamar mandi.


"Apa tidak mau coba sekali lagi?" tanya Andre sembari memainkan kedua alisnya naik turun dengan senyum yang masih setia menghiasi wajahnya.


"Jangan aneh-aneh." Irma langsung menarik pintu kamar mandi itu sampai tertutup rapat. Kemudian mengambil pakaian dari sebuah lemari yang sudah dipenuhi oleh baju wanita yang Andre klaim sebagai baju milik Irma. Kapan Andre mempersiapkan semuanya, hanya lelaki itu sendiri yang tahu.


***


Azan subuh telah berkumandang. Andre baru saja keluar dari kamar mandi. Setelah berganti pakaian, ia dan Irma menunaikan kewajibannya sebagai makhluk beragama, melaksanakan salat subuh berjamaah. Rasa syukur Andre panjatkan kepada Sang Pemilik Alam. Doa-doa terbaik tak lupa terucap dari mulutnya yang belum berhenti mengucapkan kalimat-kalimat tasbih itu.


"Terima kasih sudah bersedia menjadikanku imam di dalam hidup Mbak Say. Semoga aku bisa menjadi imam yang baik," ucap Andre saat Irma mencium tangannya begitu selesai berdoa bersama. "Jangan lupa menegurku jika ada aku salah atau ada yang Mbak tak suka dari aku," lanjutnya sembari mendaratkan sebuah kecupan di kening sang istri.


"Harusnya aku yang berterima kasih, Mas sudah mau menerimaku sebagai makmummu, padahal banyak yang lebih baik dariku di luar sana. Tuntunlah aku jadi makmum yang baik," ujar Irma.


"Kita sama-sama berterima kasih sama Tuhan saja, hanya karena Dia kita bisa sampai ke titik ini dan semoga kita berjodoh sampai liang lahat memisahkan," ujar Andre kemudian yang langsung di-amin-kan oleh Irma.


***


Ia membuat kopi untuk para lelaki yang berada di rumah itu, lalu membantu Rita yang tampak sibuk di dapur sendirian.


"Ada yang bisa aku bantu, Mah?" Irma menyapa lebih dulu wanita yang sedang mengungkep ayam tersebut.


Rita menoleh ke arah suara tanpa menjawab sepatah kata pun, lalu mengambil keranjang kecil yang berisi sayuran.


"Itu untuk membuat sayur sop," ucapnya, lalu kembali ke depan kompor.


Irma mengangguk sembari tersenyum. Ia yakin dengan seiringnya waktu, mamah mertuanya itu akan kembali seperti dulu. Hanya perlu sedikit bersabar.


"Tidak perlu senyum-senyum. Sayurannya tidak akan terpotong kalau hanya kau beri senyuman," ujar Rita lagi, sadar Irma sedang tersenyum ke arahnya.


Irma pun hanya mengangguk lagi. Lantas membersihkan wortel, kentang dan brokoli, lalu memotongnya. Setelah acara potong memotong selesai, ia membantu pekerjaan Rita yang lain. Tidak banyak pembicaraan dari mereka. Hanya jika Irma bertanya, Rita akan menjawab seperlunya. Hingga, sebuah insiden membuat tangan Irma melepuh.

__ADS_1


"Aww ...." Irma yang hendak mengangkat panci yang berisi sayur sop lupa memakai alas tangan.


"Kenapa?" tanya Rita, spontan langsung mendekati Irma. Kekhawatiran jelas terlihat dari tingkah wanita itu begitu mendengar Irma menjerit.


"Memegang panci lupa tidak pakai alas," ujar Irma sembari meniupi tangannya yang terasa sangat panas.


Rita langsung meraih tangan Irma, dilihatnya telapak tangan Irma sebelah kanan sudah memerah.


"Ini pasti sangat sakit. Tunggu mamah ambilkan salep!" Tanpa menghiraukan pekerjaannya, Rita mengambil salep dari kotak p3k. Bahkan Rita tanpa sadar menyebut dirinya mamah lagi.


Irma hanya termangu saat mendapatkan perhatian Rita.


Tidak selang berapa lama, Rita kembali dengan salep di tangan. Ia langsung menyuruh Irma duduk, lalu mengolesi bagian tangan Irma yang terkena benda panas itu.


"Tahan, mungkin sedikit perih!" ujarnya sambil terus mengoleskan salep itu dengan hati-hati.


Tanpa Rita sadari, semua orang sedang memperhatikan dan tersenyum ke arahnya. Melihat wanita itu sangat telaten mengobati Irma. Hingga suara Andre yang tiba-tiba masuk dapur membuyarkan semuanya.


"Mbak Say, kenapa?" tanya Andre melihat Irma sedang bersama sang mamah, lalu menatap tajam ke arah wanita yang telah melahirkannya. Ia yang tidak tahu yang telah dilakukan Rita, malah menganggap ibunya itu menyakiti si istri. Sehingga saat melihat orang-orang berada di ambang pintu dapur, membuatnya berpikir yang tidak-tidak.


"Untung kamu sudah datang. Nih, obatin tangan istrimu!" ujar Rita kembali dingin, sembari menyimpan salep itu di tangan Andre. Lalu, beranjak dan kembali ke depan kompor.


"Aku kena panci panas, Mas. Mamah mengobati aku," ujar Irma merasa tak enak hati.


Sementara itu, Friska, Anisa dan Ahmad hanya bisa tepuk jidat, lalu membubarkan diri begitu momennya buyar oleh ulah Andre, padahal mereka berharap Rita akan kembali secepat itu.


"Minta maaf sama Mamah! Kamu sudah memelototinya. Dosa lho!" ujar Irma lagi yang dijawab anggukkan Andre.


"Apa sakit sekali?" tanyanya sambil meniupi telapak tangan yang sudah merah.


Irma hanya menggeleng. "Aku sudah tidak apa-apa. Aku mau bantu mamah lagi," ujar Irma, lalu beranjak mendekati Rita.


"Tidak perlu, yang ada nanti kau malah membuat mata anak nakal itu keluar semua." Rita menatap sinis ke arah Andre. "Sebaiknya kau undang saja keluargamu untuk sarapan bersama. Meskipun, aku menerimamu setengah hati tapi bukan berarti aku tak tahu adat kekeluargaan," lanjutnya lagi.

__ADS_1


Irma hanya mengangguk, lalu berlalu untuk menemui keluarganya di rumah sebelah. Meninggalkan ibu dan anak itu berdua di dapur.


__ADS_2