
Segelas kopi menemani Andre yang sedang melepaskan penatnya, setelah menjalankan tugas yang diembannya. Senyum masih terus terukir di bibir Andre, ia tak habis pikir Irma bisa melakukan hal sekonyol itu, demi mendapatkan perhatian darinya. Muka menggemaskan sang pujaan hati pun terus berkelebatan.
Andre teringat kejadian beberapa waktu lalu, saat Irma mencoba mencari-cari alasanan untuk bertemu dan berbicara kepadanya. Namun, dengan kecewa wanita itu harus menerima sikap dirinya.
Senyumnya semakin lebar, ketika kejadian sebelum ia berangkat bekerja terlintas kembali. Andre melihat jelas senyum terukir di bibir Irma saat ia mengendarai sepeda motor dan melintas di hadapan wanita itu. Bibir Irma terlihat bergumam, menyapa, tetapi dengan sombongnya Andre malah melewati Irma tanpa membalas sapaan wanita itu.
Tidak menyapa, bukan berarti tidak memperhatikan Irma. Dari kaca spion, diam-diam Andre memperhatikan Irma. Ia bisa melihat jelas, wajah Irma yang tiba-tiba cemberut, bahkan tangan yang sebelumnya digunakan untuk melambai, menyapanya, telah berbubah mengepal sembari meninju udara sambil komat-kamit. Tak ingin melewati momentum itu, Andre pun memilih tuk menepi terlebih dahulu, menyapa para ibu sedang belanja sayur dan tentunya sembari memperhatikan sang Jahe yang tampak begitu kesal.
"Pak Andre sedang marahan sama Irma, ya?" tanya salahsatu ibu-ibu yang dijawab senyuman oleh Andre.
"Atau udah putus, ya?" tanya ibu-ibu yang lain. Melihat kedekatan Andre dengan Irma, para tetangga sampai mengira mereka sudah berpacaran.
"Tidak, Bu. Kami baik-baik saja, hanya sedang sedikit merajuk," jawab Andre, sembari kembali memamerkan senyumnya.
__ADS_1
"Jangan-jangan lama ngambekkannya, nanati pindah ke lain hati bahaya, lho! Meskipun janda, Irma tak kalah saing dengan gadis-gadis ABG," goda ibu-ibu lagi.
"Kalau ditinggalin sama Irma, sama anak saya juga boleh, Pak! Dia tak kalah cantik dan baik dari Irma, sebelas dua belaslah," ujar ibu-ibu yang sbelumnya menanyakan hubungan Andre dan Irma.
"Kalau Pak Polisi dengan anakmu kasian Pak Polisinya, gak bakalan kebagian tempat tidur," celoteh salahsatu dari ibu-ibu yang membuat ibu-ibu lainnya tertawa.
"Eh, kata siapa gak bakalan dapat tempat tidur, yang ada Pak Polisi bisa dapat kasur double. Anakku empuknya melibihi kasur lho, Pak!" jawab ibu itu lagi, dengan kata lain anaknya memiliki tubuh yang super big.
"Terima kasih atas tawarannya, ibu-ibu. Tapi, sayangnya hatiku sudah terpaut sama wanita tadi dan doakan saja semoga bisa cepat halal," jawab Andre yang di-amiin-kan oleh semua ibu yang ada di sana, termasuk tukang sayurnya juga.
Puncaknya, yang membuat Andre terus menggeleng ialah saat penilangan. Bisa-bisanya terlintas di kepala wanita itu untuk melintas ke jalan tempatnya bekerja yang jaraknya ke rumah atau pun ke toko sangat jauh. Bahkan, sempat-sempatnya Irma menyimpan SIM dan STNK di bagasi, yang Andre yakini pasti wanita itu hanya mencari alasan untuk mendapatkan perhatiannya.
"Buka saja sendiri. Tadi saja masanginnya dibantuin tukang parkir." Wajah menggemaskan Irma denga bibir yang mengerucut kembali terlintas saat dirinya meminta Irma untuk membuka ikatan tali yang mengikat satu peti telur, untuk mengambil STNK dan SIM.
__ADS_1
"Pasangin lagi. Berani bongkar harus berani pasang lagi," ujar Irma lagi yang jika ditebak kekesalannya kepada Andre sudah diatas rata-rata karena setiap ia mengajak bicara baik-baik, Andre tetap saja bersikap dingin dan menjawab seperlunya, seola-olah mereka tak saling kenal.
"Terima kasih atas kerja samanya," ucap Andre begitu selesai memeriksa surat kelengkapan milik Irma dan selesai mengikat peti telur.
"Sama-sama." Irma menjawab dengan sangat ketus. "Pengen banget aku melempar satu peti telur ini ke mukanya biar muka dinginnya cepetan luntur," sungut Irma sangat pelan sambil menghidupkan motor.
"Yang ada entar mukaku jadi telur dadar dadakan," gumam Andre saat mengingat ucapan terakhir Irma. "Semakin hari kamu makin menggemaskan saja, semakin cantik pula," lanjutnya sambil memutar-mutar gelas berisi kopi dengan senyum yang terus mengembang.
"Apa ada standup komedi di dalam kopimu, Dre? Aku lihat dari tadi kamu senyam-senyum, ketawa-ketiwi sendiri kayak penghuni RSJ saja." Dimas yang dari tadi memperhatikan Andre, menghampiri.
"Sialan, kau samakan aku dengan penghuni rumah sakit jiwa!" Andre memukul bahu Dimas yang duduk di sebelahnya.
"Memang apa bedanya? Sama-sama g*la juga. Mungkin bedanya, yang ini g*la cinta si Jahe." Dimas berujar sembari menyipitkan sebelah mata, melirik lelaki yang sedang menyeruput kopi.
__ADS_1
Andre pun menoleh ke arah Dimas saat mendengar penuturan Dimas, membuat kedua sahabat itu tertawa lepas.
"Kau benar, aku sudah benar-benar dibuat g*la oleh dia dan sekarang aku juga ingin dia merasakan kegilaan yang aku alami," ujar Andre di sela tawa mereka.