
Waktu tiga minggu bukanlah waktu lama untuk melakukan persiapan pernikahan. Meskipun acara yang akan digelar masih di batasi oleh aturan-aturan pemerintah yang melarang adanya kerumunan dalam jumlah banyak, tetapi tetap saja banyak persiapan yang perlu kedua belah pihak siapkan dan itu menyita waktu kalau harus di persiapkan dalam kurun waktu tiga minggu.
Orang tua Andre dan Friska pun memilih menyiapkan seluruh keperluan untuk acara hari H dari kediaman Andre. Setelah itu, baru akan pulang ketika Irma sudah resmi menjadi menantu mereka, untuk kembali menggelar acara di kota kelahiran Andre. Karena alasan rumah mereka yang sangat jauh dan perlu memerlukan waktu yang lama untuk bolak-balik ke kota P, kedua orang tua Andre juga memanfaatkan momentum itu untuk lebih mengenal calon menantu yang hanya baru sekali dibawa Andre menemui mereka.
Seperti hari ini, Rita mengajak Irma keluar untuk mencari barang-barang yang akan dibawa Andre nanti saat nikah. Ia sengaja mengajak si calon pengantin untuk memilih sendiri barang-barang sesuai keinginan penggunanya nanti. Meskipun semalaman Rita harus rela menerima ocehan Andre yang ingin lelaki itu dan Irma lah yang mencari semua keperluan pernikahan mereka.
"Mamah gak perlu repot-repot, biar aku dan Irma saja yang mencari semuanya," ujar Andre semalam, saat Rita mengutarakan niatnya.
"Mamah gak repot, kok. Itung-itung pendekatan, biar mamah dan Irma semakin dekat," jelas Rita.
"Memang kurang dekat apanya, coba? Bukannya selama di sini, mamah ngintil mulu sama calon istriku, sampai-sampai aku gak punya waktu sama dia. Bahkan untuk bilang hai saja aku gak kebagian." Andre yang tak pernah diberi kesempatan untuk bersama sang pujaan hati pun melancarkan protesnya. "Untuk belanja biar aku dan dia saja, ya!" lanjutnya, dengan wajah yang begitu memelas.
Rita mengetuk-ngetuk telunjuk di dagu, seraya berpikir, sesekali ia melihat ke arah Andre yang masih merayu wanita paruh baya itu dengan memasang senyum yang so manis.
"Enggak." Jawaban Rita yang singkat, padat dan jelas. Namun, seketika membuat senyum Andre luntur berubah wajah lesu, separuh tubuhnya langsung kehilangan ion. Friska yang melihat perubahan wajah sang kakak pun tak kuasa untuk menahan tawanya.
"Lagian Mamah udah tua, pasti seleranya beda sama anak zaman sekarang. Mending aku aja, ya, Mah. Kasih waktu dikitlah buat aku sama Irma berkencan kayak orang-orang." Andre masih mencoba merayu Rita, masih berharap orang tua itu masih bisa luluh. Namun, harapannya langsung dipatahkan oleh Friska.
__ADS_1
"Wah, anak gak ada akhlak bilang mamahnya sendiri udah tua. Lihatlah mamahku ini masih cantik jelita. Enggak tahu apa, mamah tuh di rumah jadi orang paling modis sekecamatan." Friska menghampiri Rita, lalu memeluknya. "Lagian yang milih barang itu Kak Irma, Mamah itu cuma nganter doang. Gak perlu takut, tidak sesuai selera Kak Irma," lanjut Friska yang langsung mendapatkan acungan jempol dari wanita paruh baya yang sedang tersenyum ke arah Andre.
Andre membuang napas kasar, melawan dua wanita di hadapannya sama saja dengan melawan ibu-ibu satu komplek. Akan jauh dari kata berhasil.
"Lagian kalau sudah menjelang hari nikah itu gak boleh saling ketemu dulu, Dre. Pamali. Kalau istilahnya itu dipingit. Kalau secara logika, biar nanti pas kalian ketemu di acara akad terasa banget melepas kangennya," ujar Rita.
"Alesan." Andre mencebik, lalu beranjak dari ruang tamu di mana mereka sedang berkumpul membahas apa saja yang belum dipersiapkan. Lelaki itu benar-benar merajuk. Sudah hampir seminggu setelah acara lamaran ia benar-benar tak diberi kesempatan bertemu dengan Irma, kecuali ada hal yang mendesak itu pun kumpul bersama dengan keluarga lainnya.
Mengingat kejadian semalam Rita dibuat senyum-senyum sendiri oleh kelakuan Andre yang seperti anak kecil. Irma yang sedang memilih pakaian pun dibuat heran oleh tingkah sang calon mertua.
"Mamah kenapa?" tanya Irma sembari menepuk bahu wanita yang memakai gamis toscha itu.
"Aku suka yang ini, Mah." Irma menunjukkan sebuah gaun muslimah berwarna pink dengan berhias payet yang membuat pakaian itu tampak begitu elegan.
Rita hanya mengangguk, menyetujui pilihan si calon mantu. Irma yang sedang memegang dua pakaian pun, lantas menyimpan pakaian yang satu lagi. "Kamu bawa ambil dua-duanya saja," ucap Rita kemudian.
"Tapi, Mah." Irma yang tahu harga satu gaun dengan merek ternama itu, merasa tak enak hati kalau harus mengambil keduanya.
__ADS_1
"Ambil saja. Dua-duanya mamah suka, kamu pasti sangat cantik memakai keduanya. Semoga nanti bisa istiqomah, ya!" Dengan senyum yang mengembang, Rita mengusap lembut pucuk kepala Irma.
"Terima kasih, Mah."
Rita kembali mengangguk. "Selfie dulu, yuk!" Rita mengambil ponsel, lalu mengambil beberapa foto selfie yang langsung ia kirimkan kepada lelaki yang dari semalam sampai sekarang masing uring-uringan karena tak bisa membujuk dirinya.
Calon mertua dan calon menantu itu pun menghabiskan seharian penuh untuk mengelilingi mall, mencari semua keperluan untuk Irma yang akan dibawa Andre saat seserahan nanti. Puas dengan semua yang telah dibeli, keduanya memilih pulang. Namun, seharian tenaga mereka terkuras habis, membuat para penghuni perut meminta jatah. Saat melintasi sebuah cafe yang bersampingan dengan mall, perut mereka pun dengan kompak langsung berdemo yang bisa terdengar jelas baik oleh Rita maupun Irma.
"Sepertinya cacing kita sudah demo." Rita nyengir kuda sembari memegang perutnya.
Irma pun hanya tersenyum, sebenarnya ia sedikit malu. Tanpa tahu malu cacing-cacingnya malah konser dengan keras. Untungnya, cacing Rita pun sama.
"Kita makan dulu di sana, yuk! Bisa keburu pingsan mamah kalau nunggu nyampe rumah," ujar Rita lagi yang dijawab anggukan Irma.
Setelah menyimpan barang-barang ke dalam mobil yang disewa Rita, keduanya pun memasuki cafe yang lumayan rame oleh pengunjung. Rita dan Irma yang sudah kelaparan pun langsung memesan makanan yang disediakan di sana.
"Irma, Sayang apa kabar?" Tiba-tiba sebuah suara mengagetkan Rita dan Irma yang sedang menikmati hidangan di cafe tersebut.
__ADS_1
Senyum Irma pun tiba-tiba memudar, ia tampak kebingungan dengan orang yang tiba-tiba menghampirinya.