
35
Sudah seminggu sejak pertemuan mereka di cafe waktu itu, tetapi Ryan tidak pernah mendapatkan balasan pesan dari Friska seperti janji si gadis padanya. Bahkan, sejak itu pula ia tidak lagi bertemu dengan gadis itu.
"Ada apa denganku? Kenapa aku selalu memikirkan gadis kecil itu?" Ryan yang sedang berada di ruang kerjanya terus merutuki dirinya sendiri yang selalu memikirkan Friska.
Beberapa pekerjaannya pun sampai terbengkalai karena tidak bisa fokus. Pikirannya terus mengingat perubahan sikap Friska yang dari hari ke hari semakin menjauhinya.
"Ah ...." Ia melempar kasar dokumen yang sedang dikerjakan, kemudian mengacak-acak rambutnya sendiri. Perasaannya saat ini benar-benar membuatnya frustrasi.
Tiba-tiba ingatan awal mereka jumpa di mini market itu kembali terlintas di kepala Ryan. Gadis imut dan pemberani yang memakai piyama doraemon dengan keberaniannya membela hak nenek-nenek yang tidak dikenal, berhasil membuat Ryan tersenyum dan mengagumi keberanian gadis itu meskipun saat itu Ryan belum mengingat Friska. Seketika Ryan pun kembali tersenyum mengingat kejadian beberapa minggu ke belakang.
Kemudian, berlanjut saat Friska meminta bantuannya untuk mengderek motornya dengan mode memelas yang sangat menggemaskan serta selera humor yang bisa dibilang lumayan semakin membuat Ryan semakin tertarik kepada gadis itu dan berharap bisa mengenalnya. Mereka pun berkenalan, hingga mengungkap kalau Friska adalah adiknya Andre, membuat hati kecil Ryan bersorak gembira dengan kata lain ia bisa bertemu lagi dengan Friska.
Sesuatu yang tidak disangka terjadi, Friska menghubunginya. Jangan tanya bagaimana perasaannya saat mendapatkan pesan dari Friska. Ia sangat-sangat bahagia.
Sejak itu mereka saling bertukar pesan. Ryan yang tidak memiliki adik pun menganggap Friska sebagai adiknya sendiri. Keduanya selalu berbalas pesan, hingga menimbulkan rasa nyaman di hati Ryan saat berhubungan dengan gadis itu, bahkan dengan gamblang ia sering mencurahkan masalah pribadinya kepada Friska.
Tidak ada yang berubah, meskipun Friska tahu kalau dirinya akan menikah dengan Dewi. Semua masih baik-baik saja, setidaknya itu yang Ryan tahu. Bahkan, sampai seminggu setelah acara resepsi Naura pun mereka masih bertukar pesan. Kata-kata konyol yang selalu Friska kirim berhasil membuat Ryan selalu tersenyum.
__ADS_1
Senyum Ryan masih terus tersungging saat mengingat hal yang menurutnya indah itu. Namun, kemudian senyum itu pudar saat mengingat semuanya berbeda setelah Friska mengirimkan pesan terakhirnya. Sebuah permintaan maaf karena tidak akan bisa menjadi adik yang baik dan mendoakan kelancaran pernikahan Ryan dan Dewi dikirim oleh Friska, setelahnya gadis itu hilang bagai ditelan bumi.
"Fris, kamu bilang aku adalah kakakmu, tapi kenapa kamu tidak pernah sekali pun menghubungiku? Aku merindukan pesan-pesanmu dan juga kekonyolanmu. Apa salahku sampai kamu menjauhiku seperti ini?" Ryan menatap begitu banyak pesan yang telah ia kirim, tetapi hanya centang dua tanpa dibaca si penerima.
"Apa yang membuat gadis periang itu berubah 180⁰ seperti ini kepadaku?" tanyanya lagi.
Ingatan saat makan bersama di cafe pun kembali terlintas. Ryan sangat bahagia, senyumnya pun mengembang begitu saja ketika tanpa sengaja bertemu dengan Friska setelah dua minggu tidak bersua. Jantungnya berdegup begitu kencang, darahnya berdesir begitu hebat saat melihat wajah imut Friska dengan seutas senyum yang tertampil di sana. Ingin rasanya Ryan memeluk Friska dan mengatakan kalau ia merindukan gadis di hadapannya.
Namun, keinginan itu sirna, senyum pun menghilang waktu Friska sama sekali tidak menyapanya, bahkan seperti tidak pernah menganggapnya ada. Gadis itu tidak meliriknya sama sekali, hingga meninggalkan rasa sakit di dalam sana.
Rasa sakit semakin terasa ketika saat dengan penuh kebahagiaan Friska menceritakan seorang lelaki di hadapan Ryan. Senyum terus merekah di wajah Friska waktu memuji lelaki yang sedang dekat dengannya, bahkan mereka berniat untuk serius. Dan, itu berhasil membuat darah Ryan bergejolak. Ada rasa tidak suka dan marah bercampur menjadi satu.
Tiba-tiba Ryan teringat ucapan Andre beberapa waktu lalu yang menanyakan perasaannya terhadap Friska.
"Mungkinkah dia menyukaiku? Sehingga Andre bertanya seperti itu kepadaku waktu itu? Mungkinkah itu alasan dia menjauh karena aku akan menikah dengan Dewi? Tapi, bukankah dia selalu terlihat baik dan mengatakan kalau Dewi pilihan terbaik untukku?" Ryan terus bermonolog sendiri.
Ia masih tidak mengerti dengan semua yang terjadi, bahkan dengan perasaannya sendiri pun lelaki itu masih tidak mengerti. Perasaan apa yang sekarang dirasakannya, ia tidak tahu pasti. Yang Ryan tahu, ia hanya merindukan sosok Friska yang sudah dianggapnya adik. Merindukan sosok adik yang membuatnya selalu tersenyum dan merana saat tidak ada. Akan tetapi, satu hal yang tidak dia sadari, seorang adik tidak akan membuat jantung berdegup kencang dan darah berdesir hebat, kecuali Ryan sendiri memiliki perasaan terhadap gadis yang dianggapnya adik itu.
"Apakah aku sudah ...?" Ryan tidak sanggup untuk meneruskan ucapannya. Jika itu memang benar adanya, maka semua akan kacau.
__ADS_1
"Ah .... aku bisa g*la!" Ryan meluapkan kekesalan tak berujung dan tidak beralasan itu pada meja kerjanya. Ia memukul meja dengan sangat keras, lalu beranjak dari sana meninggalkan segudang pekerjaan yang masih menumpuk. Ia butuh udara segar.
"Aku harus membuktikan kalau dugaanku salah," gumamnya.
Ambar yang sedang melewati ruang kerja anaknya, tanpa sengaja mendengar suara pukulan dan teriakan Ryan. Ia pun langsung membuka pintu hendak melihat kondisi Ryan dan didapatinya lelaki itu sudah berdiri di depan pintu.
"Ada apa?" Dipandanginya sang anak yang terlihat sangat kacau.
"Tidak ada. Aku hanya butuh udara segar," jawab Ryan sambil berlalu.
"Dia kenapa?" Ambar menatap punggung Ryan yang semakin menjauh.
Dengan pikiran yang tidak menentu, langkahnya membawa Ryan keluar dari rumah. Kemudian, mengandarai mobil menyusuri jalanan tanpa arah tujuan. Akan pergi ke mana, dirinya sendiri juga tidak tahu. Ryan hanya ingin pergi dan membuang kegundahannya, berharap setelah ini ia bisa kembali ke rumah dengan tenang.
Sudah hampir satu jam, lelaki itu mengendarai mobil dan hanya berputar-putar di jalanan. Hingga, mobilnya terhenti saat melihat sosok yang sangat dirindukannya sedang berjalan di trotoar.
"Akhirnya aku bisa bertemu denganmu," gumam Ryan dengan seutas senyum yang tertampil saat seseorang sedang berjalan di depannya. "Fris! Friska tunggu!" teriak Ryan sambil mengembulkan kepalanya keluar jendela mobil.
Ia pun lantas memarkirkan mobil, lalu menyusul gadis yang masih terus melangkah meskipun ia sudah memanggilnya berkali-kali.
__ADS_1
"Fris, tunggu!" Dengan napas terengah-engah karena berlari, Ryan meraih tangan gadis yang terus berjalan itu, menghentikannya. "Dari tadi aku memanggilmu, kenapa tidak berhenti?" lanjut Ryan.