Janda Cantik Milik Pak Polisi

Janda Cantik Milik Pak Polisi
69


__ADS_3

Mendengar nama Ryan keluar dari mulut Irma, seketika raut wajah Andre pun berubah. Ia lantas melepaskan genggamannya yang membuat semua orang yang ada di sana tersentak.


'Apa aku salah bicara, ya?' Dewi yang melihat perubahan wajah calon suami bosnya itu menjadi merasa bersalah. "Maaf, Mbak, saya permisi dulu. Mau ngangkat kue di oven." Ia pun memilih pergi dari suasana yang mulai tidak bersahabat itu.


"Pantas saja tak mau bercerita. Dia toh yang nolong," ujar Andre lalu pergi. "Dim, balik ke kantor yuk!" ujarnya lagi kepada Dimas tanpa menoleh lagi ke arah Irma.


Tidak dapat dipungkiri, Andre dilanda rasa cemburu saat mendengar nama lelaki itu dari mulut Irma. Sepertinya ucapan-ucapan Rita memang benar adanya, Ryan telah menyimpan rasa bagi Irma. Ditambah lagi, lelaki itu hari ini telah menjadi super hero yang menyelamatkan calon istrinya—membuat Andre yang hendak berterimakasih malah terasa terbakar.


"Mas! Jangan salah paham," teriak Irma, tetapi tak dihiraukan Andre, sehingga Irma pun mengejar lelaki itu.


"Andre kesambet setan mana? Bisa cemburu juga dia?" Naura melongo melihat kakaknya yang sedang mengejar Andre.


"Cemburu tandanya cinta." Dimas menimpali sembari mengusap lembut pucuk kepala Naura. "Sudah terlambat sepuluh menit, aku berangkat sekarang, ya!" lanjut Dimas berpamitan kepada sang istri.


Naura mengangguk, lalu mencium punggung tangan Dimas yang dibalas Dimas mencium kening dan juga perut buncit si istri. "Jangan cape-cape!" pesan Dimas sebelum pergi.


Sementara itu di luar toko, Andre sedang menghidupkan motornya dan Irma masih berusaha menjelaskan semua yang terjadi.


"Mas, jangan salah paham dulu!"


"Pantas saja kamu minta aku jemput ke toko, habis janjian dulu toh sama mantan suami," tutur Andre, kekesalan masih mendominasi isi kepalanya.


"Mas, kalau ngomong jangan ngasal!" Spontan Irma memukul lengan Andre. Ia juga dibuat kesal oleh ucapan yang terlontar dari mulut lelaki itu.

__ADS_1


"Terus?" Andre menoleh sembari memicing sebelah matanya.


"Aku gak tahu kenapa dia bisa ada di daerah sini. Kalau boleh nawar aku juga gak mau ditolong sama dia, malah kalau boleh nawar lebih aku juga enggak mau hampir keserepet mobil." Lantas Irma menjelaskan secara detail duduk kejadian perkaranya, persis seperti orang yang sedang membuat laporan.


"Oh."


"Oh, doang?" Setelah panjang lebar Irma menjelaskan hanya mendapat jawaban oh dari lawan bicaranya.


"Terus aku harus jawab apa? Sudahlah aku sudah terlambat. Aku berangkat sekarang," ujar Andre, lalu melajukan motornya.


"Ngambeknya kekanak-kanakkan." Irma mencebik kesal oleh kelakuan Andre. "Apa dia mendengar ucapanku?" tanya Irma kepada dirinya sendiri, melihat motor yang dikendarai Andre tiba-tiba saja mundur kembali dan berhenti tepat di depan Irma.


"Apa mentang-mentang abis ketemuan sama mantan, udah gak mau jadi calon istri soleha lagi, ya?" ujar Andre seraya menaikkan kaca helmnya.


"Hah!?" Irma dibuat bingung oleh pertanyaan Andre.


"Waalaikumsalam. Kalau kepaksa gak usah senyum," seloroh Andre, lalu melajukan motornya lagi.


"Ya, Tuhan! Haruskah aku timpluk kepala dia dengan sendal!" rutuk Irma yang dibuat serba salah oleh kelakuan Andre.


"Sabar, Kak. Dia sedang PMS kayaknya," ujar Dimas dari arah belakang yang sedari tadi memperhatikan dua sejoli itu dan dibuat senyum-senyum sendiri oleh kelakuan mereka.


***

__ADS_1


Andre dan Dimas kembali ke rutinitas dinas mereka. Kali ini, keduanya bertugas untuk melakukan pengkajian masalah lalulintas yang meliputi penelitian terhadap penyebab kecelakaan, kemacetan dan pelanggaran lalulintas (yang menyangkut kondisi jalan dan kendaraan) di wilayah tugas mereka. Menjelang sore, keduanya baru bisa menyelesaikan semua tugas yang telah teragendakan.


"Apa kamu akan langsung pulang?" tanya Dimas kepada Andre yang sedang memakai jaket, bersiap pergi.


"Terus ke mana lagi? Hari ini terlalu melelahkan," Andre mendesau, tenaganya hari ini terkuras untuk berputar-putar di jalanan.


"Memang kamu saja yang lelah, aku juga sama." Dimas memukul lengan sahabatnya itu. "Maksudku, apa tak menjemput Irma?"


Mendengar nama Irma, Andre langsung menoleh lantas kembali membuang muka sembari meniupkan karbondioksida ke atas. "Nebeng sekalian saja, ya! Bukannya kamu mo jemput Naura juga?" ujar Andre, seolah enggan untuk bertemu Irma.


"Beneran ngambek? Wah, keterlaluan cemburumu." Lagi-lagi Dimas memukul lengan Andre, membuat Andre sedikit meringis sembari mengusap bekas pukulan Dimas. "Katanya mau berterimakasih kepada yang sudah menolong si calon istri? Ingat, lelaki yang dipegang omongannya."


"Kagak. Kagak ada dalam kamus Andre ngambek gara-gara begituan. Kalau tuh laki mo nyoba rebut Irma dengan cara seperti itu, aku siap ladenin dia." Andre menyanggah ucapan Dimas.


"Dengan ngambek sama Irma? Yang ada entar Irma ilfill liat ngambekmu yang kayak bocah," ledek Dimas.


"Sudah kubilang aku kagak ngambek sama Irma." Giliran Andre yang memukul lengan Dimas, kesal, si sahabat tak percaya dengan ucapannya. "Aku hanya mencoba menghindar dari amukkan singa betina yang bersiap melahapku hidup-hidup." Andre nyengir kuda.


Dimas memicingkan sebelah matanya, tak mengerti dengan ucapan Andre. "Maksudnya?"


"Seharian ini aku udah kena omel sana-sini dari mulai Tante Dian dan Irma gara-gara membawa motor kekencengan. Dan aku yakin, setelah masalah hampir terserempet selesai aku juga bakal kena omel dari istrimu. Lihat saja sendiri bagaimana dia melucutiku dengan sorot matanya yang tajam. Kok, bisa, ya, dia berubah beringas kayak gitu?" Andre bergidig ngeri mengingat beberapa kali ia kena cecar wanita yang ia juluki singa betina itu.


"Eh, sialan kau ngatai istriku singa betina?" sarkas Dimas sembari menarik kerah baju Andre. Matanya menatap tajam ke arah lelaki yang mengatai si istri. Membuat Andre terkesiap oleh tindakan Dimas. "Dia itu bukan singa betina tetapi tawon. Sekali keganggu langsung cetol, maen hajar tanpa ampun," lanjutnya dengan suara melunak sembari melepaskan kerah baju Andre yang dipegangnya.

__ADS_1


"Napa tegang gitu? Apa kau pikir aku akan menghajarmu?" Tawa Dimas pecah melihat reaksi Andre yang tampak terkejut.


"Sialan, kau buat aku jantungan!" Andre menarik napas lega, ternyata Dimas hanya bercanda. "Tawon?" Sejurus kemudian, tawanya pun pecah sambil mengacungkan kedua jempolnya ketika mengingat julukan Dimas untuk Naura.


__ADS_2