Janda Cantik Milik Pak Polisi

Janda Cantik Milik Pak Polisi
95


__ADS_3

Andre dan Irma begitu menikmati momen bahagia mereka. Masalah pelik yag dialami sepasang kekasih yang kini menjadi raja dan ratu itu seakan-akan tidak pernah ada. Setelah upacara pedang pora selesai, para tamu sudah menanti untuk menyalami kedua mempelai dan meemberiakan selamat. Senyum sepasang suami istri itu pun terus terukir, menyambut para tamu yang tak hentinya mengagumi pasangan tersebut.


"Dari tadi aku tidak melihat Ara. Dia ke mana, ya?" bisik Irma kepada Andre saat tamu kembali lenggang.


Andre mengedarkan matanya, memindai tempat yang dipenuhi tamu undangan. Akan tetapi, ia juga tidak melihat keberadaan wanita yang sudah resmi jadi adik iparnya itu, bahkan Dimas pun tak tampak di sana. Andre pun hanya bisa menggeleng sembari mengedikkan bahu.


"Mumpung tamu sedang senggang, Kita ambil foto wedding dulu ya, Pak!" Seorang fotografer menghampiri Andre dan Irma.


Andre dan Irma mengangguk bersamaan. Si Fotografer pun mengambil beberapa jepretan gambar Andre dan Irma sesuai arahannya. Kemudian, berlanjut dengan pengambilan foto bersama keluarga.


"Padahal kita belum foto bareng sama Ara dan Dimas. Mereka pada ngilang ke mana?" Gurat kekecewaan terlihat jelas di wajah Irma, begitu sesi foto-foto pertama selesai, tetapi Naura belum terlihat batang hidungnya.


"Mungkin mereka lagi ada urusan bentar. Bukankah kamu selalu jadi prioritasnya? Tidak mungkin mereka menghilang tanpa sebab." Andre menggenggam tangan yang berhiaskan hena itu, mencoba menenangkan. "Senyum lagi dong!" pinta Andre.


Irma pun mencoba menampilkan senyum terbaiknya di hadapan sang suami. "Nah gitu, kan, cantik!" lanjut Andre sembari mencium punggung tangan Irma.


Pucuk dicinta ulam pun tiba. Setelah sesi foto pertama diambil, tanpa ada kehadiran Naura dan Dimas. Sepasang suami istri itu pun muncul dari arah pintu rumah dengan Dimas yang sudah berganti pakaian. Di saat detik-detik terakhir sebelum Naura dan Dimas keluar kamar, Naura meminta suaminya untuk berganti pakaian.


Dua sejoli itu pun berjalan berdampingan. Naura mengaitkan tangannya di lengan sang suami. Mereka berjalan menuju tempat pelaminan dengan senyum yang mengembang.


"Kakak!" teriak Naura begitu sampai di dekat Irma.


Irma pun langsung menoleh ke arah suara dan langsung berhambur memeluk sang adik. "Kamu dari mana? Kenapa baru gabung?" tanya Irma.


"Abis anter Papol ganti baju," jawab Naura sembari memamerkan senyum terbaiknya. Salahsatu alasan meminta Dimas mengganti baju adalah untuk jaga-jaga jika orang-orang menanyakan ketidakhadirannya di sana. Tidak mungkin, Naura akan berbicara kepada setiap orang kalau ia habis menangis karena prosesi pedang pora.

__ADS_1


"Yakin abis nganter suamimu ganti baju?" tanya Andre.


"Yakin. Tuh, buktinya dia udah ganti baju." Naura menunjuk sang suami yang sudah berganti pakai dengan batik khusus bagi lelaki dari keluarga mempelai wanita.


Andre menghalangi mulutnya dengan sebelah tangan, lalu berkata dengan setengah berbisik, "Bukannya abis nangis?"


"Hah?"


Andre tahu ke mana adik iparnya pergi dari kerabat yang tadi menyapa Dimas, tepat sebelum Naura dan Dimas naik ke panggung pelaminan. Fakta itu pun langsung dijadikan Andre untuk menggoda Naura.


"Papol! Sahabatmu ngajak ribut." Naura menoleh ke arah Dimas dengan bibir yang sudah mengerucut, merajuk.


"Udah mending kita foto bareng, yuk!" Irma mengalihkan permbicaraan, lalu memanggil fotografer untuk mengambil beberapa foto mereka dan Naura pun menurut.


Dimas pun merangkul Andre, memberikan selamat kepada sang sahabat yang sekarang telah naik kasta menjadi kakak iparnya.


Sebelum meninggalkan tempat pelaminan, Naura mengambil sebuah amplop yang tadi sempat menjadi perdebatan dengan Dimas. Ia pun memberikan amplop itu kepada sang kakak. Namun, mendapati Andre yang kembali menggodanya membuat Naura berpikir lagi.


"Sayang ...." ucap Dimas sembari memegang bahu Naura, saat amplop itu masih dipegang erat oleh Naura.


"Liat ketengilan kakak iparku, tiba-tiba jiwa gak ikhlasku kembali meronta. Pending dulu aja kadonya, mo aku ganti dulu sama daun mangga kering." Naura berujar, dengan mata yang sudah memelototi Andre.


"Eh, kok, gitu, sih? Mana ada ngamplop sama daun kering. Adik lagi yang ngasihnya," timpal Andre.


"Ada kalau kakak iparnya ngeselin," jawab Naura. "Buat Kakak dan dia, tapi kalau dia berulah aku ambil lagi amplopnya," lanjut Naura kepada Irma sembari memberikan amplop itu kepada Irma

__ADS_1


"Terima kasih, De."


Irma memeluk Naura, berterima kasih.


Sebelum turun dari panggung pelaminan, Naura kembali menoleh ke arah sepasang pengantin itu dan menghentikan langkahnya. "Langsung buka aja, biar dia jingkrak-jingkrak jungkir balik, salto di sini," ucap Naura seraya menunjuk lelaki yang tampak gagah dengan seragam polisi, meskipun bagi Naura tetap saja tengil.


***


Menjelang Isya, para tamu undangan masih belum henti berdatangan. Banyaknya tamu yang diundang, membuat mereka dibagi menjadi beberapa kloter. Sehingga, si pengantin harus rela di pajang sangat lama.


Setelah hampir pukul 21.00, para undangan benar-benar sudah selesai. Tidak ada lagi yang berdatangan. Irma yang sudah sangat lelah pun, memilih masuk ke rumah dengan Andre yang juga mengikutinya.


"Kita ke rumah aku saja, ya!" bisik Andre saat mereka berada di ambang pintu rumah Ranti.


"Kenapa?"


"Di sini kamar mandinya di luar. Aku mo ke kamar mandi, tapi malu sama keluarga kamu," bisik Andre lagi.


"Tapi, baju-bajuku di dalam."


"Di kamarku juga banyak." Andre menarik Irma, berbalik ke rumah Andre.


Irma yang sudah sangat lelah, lebih memilih menuruti ucapan Andre. Sementara itu, seringai lebar terpancar di wajah Andre. Entah pemikiran apa yang tengah ada dalam pikirannya. Setelah memberi tahu salahsatu keluarganya, Irma mengekori Andre.


"Yes," gumam Andre tanpa suara.

__ADS_1


__ADS_2