Janda Cantik Milik Pak Polisi

Janda Cantik Milik Pak Polisi
S2 - 24


__ADS_3

24


Lelaki yang semalam berhasil mengerjai Dimas dan Naura, di pagi-pagi buta sekarang giliran ia yang dikerjai oleh anak Dimas dan Naura. Andre tidak mengizinkan Irma menggendong dan mengurus Kayla yang bersifat berat, hingga akhirnya Andre sendiri yang mengerjakan semuanya karena sejak semalam anak kecil itu tidak mau diasuh oleh orang lain kecuali Irma dan Andre. 


Sejak menjelang subuh, entah kenapa Kayla tiba-tiba rewel. Anak kecil itu terus menangis, tanpa tahu apa yang diinginkan, dan baru akan diam saat Andre menggendongnya. 


"Kualat kamu, Ba! Kamu sih bilang sama Dimas dan Naura kalau Kayla rewel, jadi rewel beneran, 'kan!" Irma menyalahkan lelaki yang sudah hampir tiga jam menggendong Kayla. 


"Sepertinya nih anak gak rela kalau emak bapaknya diganggu. Jadinya, dia ganggu kita," seloroh Andre, yang ingat betul detik-detik saat ia dan Irma akan melakukan bagian puncak, tanpa permisi Kayla malah menangis dan menggagalkan acara pemuntahan lahar. 


"Makanya jangan jail sama orang," tandas Irma yang malah menertawakan nasib Andre. Sudah mupeng sekarang harus menimang-nimang Kayla karena setiap Andre menurunkannya maka Kayla akan kembali menangis. 


"Aku cuma berdoa semoga kedua orang tuanya segera kembali. Ampun DJ ...." 


"Memangnya ada apa kau berdoa aku cepat kembali?" Tiba-tiba suara dari arah pintu mengagetkan sepasang suami istri itu, sekaligus membuat hati Andre jingkrak-jingkrak. 


"Akhirnya, pawangnya balik!" Andre yang pundak dan tangannya sudah terasa pegal karena terus menggendong Kayla, langsung bersorak gembira saat melihat sepasang suami istri itu masuk. "Anakmu tidak mau dikasih adik baru. Semenjak subuh ia rewel tidak henti-henti," lanjut Andre. 


Naura yang langsung check-out begitu mendengar tangis Kayla saat ditelepon pun segera mengambil anak kecil itu, yang sedang terlelap karena lelah menangis, dari gendongan Andre. 

__ADS_1


"Makasih sudah mau menjaga Kayla," ucap Naura. "Makasih juga sudah membantuku menjalankan misi-ku. Kau memang  kakak iparku yang paling the best, berkat dirimu misiku semakin lancar jaya," lanjutnya dengan senyum lebar menghiasi wajah Naura.  Berbeda dengan wajah orang di sampingnya yang tampak masih kusut karena h*sratnya tidak bisa tersalurkan dengan baik. 


"Maksudnya?" tanya Andre, Irma dan Dimas bersamaan. Tidak mengerti dengan maksud wanita yang sedang tersenyum dengan segala kesuksesannya. 


Semalam Andre menelpon Dimas tidak hanya sekali, tetapi berkali-kali. Dengan interval waktu yang sepertinya sudah sangat diperhitungkan. Setiap Dimas dalam keadaan tanggung-tanggungnya Andre pasti menelpon dan sialnya, Naura selalu memintanya untuk menerima panggilan itu dengan dalih takut Kayla rewel. Naura pun bicara panjang lebar dengan Andre yang membuat Dimas mendengus kesal karena sang istri malah meladeni telepon dari Andre daripada menyelesaikan permainan mereka, hingga akhirnya Dimas membawa kekesalan itu sampai ke alam mimpi. 


Puncaknya, Dimas yang terbangun dan merasakan sebuah tangan memeluk perutnya langsung teringat permainan yang belum selesai. Tanpa membangunkan sang istri, ia menapaki dengan lembut jalan-jalan yang beberapa jam yang lalu dilewatinya, membuat si pemilik peta beberapa kali melenguh dalam tidur. Meskipun tanpa sadar, Naura merespon dengan baik setiap sentuhan yang diberikan Dimas, hingga akhirnya wanita itu pun terbangun dan mengikuti permainan sang suami. 


Naura sudah tidak berniat mengerjai Dimas lagi karena sebenarnya ia juga sudah sangat merindukan keperkasaan sang suami. Mereka pun foreplay cukup lama, saling menikmati sentuhan dari pasangan masing-masing hingga yang dinanti pun tiba. Dimas sudah bersiap-siap untuk menyemburkan bisanya. Senyumnya pun tertampil lebar saat itu karena ia berhasil memasuki tempat pertahanan lawan dan sebentar lagi gol. Namun, tiba-tiba dan lagi-lagi ponselnya kembali berdering. 


"Papol, ponselnya," ucap Naura dengan suara yang serak,  gair4h juga sudah menguasai dirinya. 


"Ta—" Dengan cepat Dimas membungkam mulut sang istri dengan bibirnya. Ia tidak peduli sama sekali dengan dering ponsel, yang ada di pikirannya adalah menyelesaikan permainannya yang sejak awal selalu terganggu.  


Namun, tidak bagi Naura. Dering ponsel itu sangat mengganggu,  membuat pikirannya bercabang karena ponsel berdering tidak hanya sekali. Hatinya pun merasakan ada sesuatu terjadi. Naura mendorong Dimas dengan keras karena ponsel yang terus berdering berkali-kali itu, di saat Dimas akan menyelesaikan acar inti mereka. Namun takdir berkata lain, lagi dan lagi ia harus menerima kegagalan, meskipun yang terakhir itu diluar kendali Naura. 


"Ponsel lucknut!" rutuk Dimas, saat Naura meninggalkannya begitu saja dan lebih memilih ponsel dan berdering. Sementara itu, Dimas yang memerlukan pelepasan segera langsung pergi ke kamar mandi setelah melihat si istri menerima telepon dan tampak serius. 


Andre menelpon karena Kayla benar-benar rewel, membuat acara yang direncanakan Dimas itu tidak sukses seratus persen. Mereka pun memilih pulang setelah menerima telepon dari Andre. Bukan hanya Dimas dan Naura yang gagal mencetak gol, tetapi Irma dan Andre pun sama. 

__ADS_1


"Jangan bilang kamu ngerjain aku?" tanya Dimas saat melihat si istri tampak senyum-senyum sendiri sambil menggendong Kayla. 


Mengingat kejadian semalam itu membuat tawa Naura langsung meledak. "Maaf!" 


"Beneran ngerjain aku? Jadi kamu sudah merencanakan sejak awal?" tanya Dimas penuh selidik. "Jadi kalian kerja sama buat aku mupeng?" Dimas menatap sang istri dan sang sahabat bergantian dengan penuh rasa curiga.


"Enggak semua rencanaku. Rencana alam lebih maha dahsyat," jawab Naura dengan tanpa rasa bersalah. "Tapi, koreksi juga. Aku tidak kerja sama dengan Andre. Itu murni faktor alam," lanjutnya, menyadari si suami sedang menatapnya dengan tajam.


"Yang dikatakan istrimu benar. Kita tidak kerja sama. Sumpah!" Andre juga ikut bersaksi sambil mengangkat dua jarinya. "Sudahlah! Jangan marah! Lagian enggak cuma kamu yang gagal gol. Aku pun juga. Anakmu telah membayarnya kontan," lanjut Andre, yang juga mengingat bagaimana saat tanggung-tanggungnya harus terhenti karena tangisan si Baby Kayla. 


"Dan akhirnya kita mupeng berjamaah karena gadis kecil ini," ujar Naura yang membuat semua orang tertawa. Menertawakan nasib mereka yang sudah kurang mujur dalam menggapai surga. 


Kemudian, si biang masalah tampak mengerjap-erjapkan matanya saat mendengar suara berisik orang-orang dewasa, lalu kembali menangis. 


"Cup ... cup ... Sayang ini mama." Naura dengan segera menenangkan anak kecil itu.


Anak kecil itu yang sudah sangat merindukan sang ibu, sambil menangis langsung mencari -cari sumber makanan utamanya sejak lahir. Naura pun langsung menjauh dari orang-orang untuk memberikan asupan makanan bagi Kayla dari sumbernya. 


Sementara itu, Dimas dan Andre memilih duduk santai sambil ngopi di teras dengan obrolan-obrolan hangat dari keduanya, meskipun kadang diselingi adu mulut begitu membicarakan kejadian semalam. Hingga, mereka terdiam saat melihat seseorang datang ke rumah Andre dan menatap orang itu dengan sejuta tanda tanya. 

__ADS_1


"Kenapa malah melihatku seperti itu? Apa tidak ada niatan untuk membantuku?" 


__ADS_2