Janda Cantik Milik Pak Polisi

Janda Cantik Milik Pak Polisi
109


__ADS_3

"Mas, pesen makanan, ya?" tanya Irma saat kembali dengan dua paket berisi makanan dari si pengetuk pintu.


'Kenapa bisa lupa. Kan aku sendiri yang pesan.' Andre merutuki ulahnya sendiri yang malah membuat aksi si istri menepati janji terganggu.


"Iya, Mbak. Aku udah gak ada kekuatan lagi untuk pergi keluar," jawab Andre. "Sini, bawa makanannya! Isi amunisi dulu, biar makin semangat." Andre berseringai lebar sambil memandang si istri yang sedang menghampirinya.


"Mas, udah dong jangan menggoda aku terus! Nanti gak jadi baru tau rasa, lho."


"Eh, jangan gitu dong!"


"Makanya diem." Dengan mata melotot, Irma menempelkan telunjuknya di bibir Andre.


'Kenapa jadi aku yang diancem balik?' Andre berucap dalam hati, tetapi tak ayal menurut juga pada perintah sang istri.


Irma mengacungkan jempol dengan senyum yang menghiasi wajah saat mendapati lelaki di hadapannya terdiam, lalu membuka makanan yang sudah dipesan itu. Mereka pun makan malam bersama di kamar hotel.


"Mas, hati-hati makannya! Entar keselek, lho," ujar Irma, melihat Andre yang makan terburu-buru sekali.


Uhuk! Belum juga Irma selesai bicara, lelaki itu sudah kesendat makanan yang sedang dilahapnya.


"Tuh, kan!" Irma pun langsung memberikan segelas air minum dan langsung diteguk habis oleh Andre. "Hati-hati, Mas," ujarnya lagi.


"Iya, maaf, Sayang. Sekarang aku hati-hati." Andre tersenyum, lalu melanjutkan makan malam mereka.


Meskipun Andre berkata iya, tetapi sepertinya rasa tak sabar untuk mempraktekkan dan menikmati hasil pencariannya, membuat Andre melahap semua makanannya dengan begitu cepat.


***


Andre dan Irma kini sudah berada di atas ranjang putih yang selama dua malam ke belakang menjadi tempat mereka melepas lelah. Kasur empuk dengan segala fasilitas kamar dan kenyamanan yang diberikan pihak hotel kepada setiap custumer-nya. Malam ke tiga di liburan honeymoon mereka, Andre tak mau berakhir dengan sia-sia seperti malam-malam sebelumnya. Verboden di mulut gua, bukan berarti ia tidak bisa menjelajah, 'kan? Kalau kata orang, 'banyak jalan menuju Roma'. Prinsip itu lah yang juga disematkan dalam kepala polisi tengil itu, 'masih banyak jalan menuju kenikmatan'. Ia masih bisa mendapatkan kepuasan biologisnya tanpa harus menabrak verboden alam, asalkan sang istri mau berperan penting dalam melancarkan segala urusannya.


"Bolehkan?" tanya Andre. Ia yang sedang duduk bersandar di kepala ranjang tampak asyik memainkan rambut sang istri yang ada di pelukkannya. "Tapi kalau gak mau, gak apa-apa, gak bakal maksa lagi," lanjutnya.


Setelah aksi pertama gagal karena kedatangan pengantar makanan, aksi ke dua pun terpaksa harus gagal karena tiba-tiba ponselnya terus berdering tiada henti hingga terpaksa Andre kembali menunda permainan. Dua kali aksinya gagal karena gangguan tak terduga membuat lelaki itu berpikir ulang, mungkin alam tidak akan mengizinkan kalau si istri merasa terpaksa. Ia harus lebih-lebih bersabar lagi.

__ADS_1


Irma mendongak ke arah Andre, menatap lelaki yang sepertinya mulai frustrasi dengan semua gangguan yang melanda. "Kenapa ngomongnya gitu? Boleh, kok!" ucap Irma dengan senyum yang menghiasi bibir indahnya.


"Beneran?" Andre yang mulai lesu kembali sumbringah mendengar kata boleh dari mulut istrinya itu.


Irma mengangguk pasti. "Udah seharusnya aku membuatmu puas dengan segala servis yang aku berikan. Semoga Mas, tidak ada keluhan terhadapku." Ia menatap dalam-dalam wajah lelaki yang sedang mendekapnya itu.


"Aku tidak pernah meragukan itu. Tapi, sebaiknya kita matikan ponsel dulu supaya tidak ada yang ganggu lagi." Andre meraih ponsel mereka yang ada di sampingnya, lalu mematikan kedua benda tersebut.


Beberapa detik kemudian, Irma benar-benar menepati janjinya. Memberikan kenikmatan yang didambakan sang suami. Memanjakan lelaki itu dengan setiap sentuhan yang ia berikan dari mulai bibir dan leher, menciptakan warna merah kebiruan sebagai tanda kepimilikannya terhadap Andre. Lalu, berlanjut ke tempat yang sangat dinanti sang suami. Dengan sepenuh hati, tanpa ada keterpaksaan sedikit pun Irma melayani lelaki yang sudah sah menjadi suaminya itu sampai mencapai puncak kepuasan.


"Terima kasih," ucap Andre sembari mencium kening Irma saat wanita itu sudah berada di pelukkannya kembali dengan sebelah tangan digunakan sebagai bantal si istri.


Irma tak menjawab, tetapi kepalanya mengangguk dengan wajah yang semakin meraksek ke dada Andre, memeluk lelaki itu.


***


Tidak seperti hari kemarin, Irma menghabiskan hari dengan bermain wahana ekstrem. Hari terakhir di sana, Irma lebih memilih tempat-tempat santai, tetapi tetap saja menguras dompet sang suami. Tempat yang di jajal kali ini ialah pusat perbelanjaan di sekitar pantai yang menyuguhkan berbagai pernak-pernik dan oleh-oleh khas daerah itu. Sudah berbagai toko Irma singgahi untuk mencari oleh-oleh sebagai cindera mata bagi orang rumah termasuk keponakan Andre yang banyaknya hampir mendekati satu tim sepak bola.


"Mau segimana kalemnya wanita, tetap saja kalau masalah shoping sudah melekat di jiwa mereka," gumam Andre. Ia hanya bisa geleng-geleng melihat istrinya yang begitu cekatan ambil ini dan itu, sembari mengabsen nama-nama orang yang akan menerima barang tersebut. Bahkan, wanita itu tidak sedikit pun merasa lelah berjalan ke sana kemari, masuk toko satu keluar lagi lalu masuk ke toko lain lagi.


"Beneran udah?" tanya Andre memastikan.


"Udah. Apa kebanyakan, ya?" Ia menatap barang bawaan yang ada di tangannya dan juga di tangan Andre.


"Enggak juga. Tapi, dari tadi kamu ngabsen nama orang, tapi aku enggak mendengar namamu sendiri. Apa, Mbak, gak beli sesuatu untuk diri sendiri?"


"Enggak. Menghabiskan beberapa hari di sini udah lebih dari cukup. Aku gak perlu beli apa-apa," jawab Irma dengan senyum yang mengembang. "Ayo, kembali ke hotel. Kita harus bersiap-siap untuk chek-out!" Ia menarik lengan suaminya untuk kembali ke hotel.


Keduanya pun kembali ke hotel. Setelah beristirahat sejenak, mereka mulai berkemas untuk segera keluar dari tempat itu. Irma memasukkan semua barang belanjaannya ke dalam koper. Namun, tangan wanita itu terhenti saat melihat sebuah paperbag yang tidak dikenal. Irma tidak merasa membeli barang dari toko yang tertulis di sana. Ia menilik-nilik paperbag itu, lalu melihat isinya. Ada sebuah kotak coklat di dalamnya. Penasaran, Irma pun membuka kotak tersebut. Matanya melotot sempurna, tak percaya dengan barang indah di depan mata.


"Mas, apa belanjaan kita tertukar?" tanya Irma kemudian kepada Andre. Bagaimana pun ia tidak merasa membeli barang tersebut.


"Sepertinya tidak, memangnya kenapa?" tanya Andre yang semenjak tadi memperhatikan si istri sambil rebahan, tetapi pura-pura tidak tahu.

__ADS_1


Irma mendekati Andre, lalu menunjukkan barang yang ada di tangannya. "Tapi, aku tidak membeli ini," ucapnya, keheranan. "Kita ke sana lagi, yuk! Kasian orang yang beli ini, pasti sedang mencari-cari barang belanjaannya." Ia menarik lengan lelaki yang masuh berbaring itu.


"Untuk apa dikembalikan, toh, kita gak merasa ngambil. Anggap aja rejeki anak soleh," jawab Andre.


"Mas, ih, ini milik orang. Kita gak boleh ngambil yang bukan hak kita, meski nemu sekali pu. Bagaimana kalau sesuatu berharga milik kita juga hilang, ditemukan oleh oranglain dan malah diambil orang itu. Kita juga pasti sedih. Dan sekarang orang itu pasti sedang merasakan hal yang sama. Kalau Mas gak mau nganter, aku balikim sendiri saja. Mas tunggu di sini, ya!" Setelah berbicara panjang lebar, Irma memilih untuk mengembalikan barang itu ke toko yang tertera.


Ia beranjak dari tempat tidur, tetapi langkahnya segera dihentikan Andre.


"Habis ceramah, mau ke mana?" tanya Andre sambil bangun.


"Balikin ini!" Irma menunjuk barang di tangannya.


"Sini, duduk lagi!" Andre menepuk tempat kosong di sampingnya.


"Tapi—"


"Duduk!" ucap Andre tak mau dibantah. "Sini, barangnya!" Ia meminta barang itu dari Irma.


Irma pun langsung menyodorkannya. Andre membuka kembali kotak tersebut. Senyum tertampil menghiasi bibir lelaki itu.


"Apa kamu suka dengan barang ini?" Ia menatap sang istri yang matanya juga tidak pernah lepas dari barang yang menggoda imannya.


Irma mengangguk pelan. Tanpa disadari Irma, Andre telah memasangkan satu set perhiasaan yang terbuat dari emas dan mutiara itu.


"Mas, ini punya orang," ucap Irma begitu sadar perhiasaan itu sudah menempel di leher, telinga, tangan dan jari manisnya.


"Ini punyamu," bisik Andre.


Irma terdiam, menatap perhiasan yang menempel di tubuhnya sembari mencoba mencerna ucapan Andre. "Punyaku?" tanya Irma tak percaya.


Andre mengangguk.


"Aku gak beli ini."

__ADS_1


"Aku yang membelinya untuk istri tercintaku," jawab Andre yang membuat Irma terperangah. "Apa kamu suka?" tanya Andre kemudian, dan dijawab anggukkan Irma yang langsung memeluknya.


"Suka banget, terima kasih."


__ADS_2