
Andre dan Irma begitu lega melihat Zo dan Za anteng kembali. Namun, sepertinya mereka melupakan sesuatu. Mereka tidak sedang menjaga dua anak, tetapi tiga anak. Dua anak anteng di dalam gendongan mereka, tiba-tiba terdengar lagi suara tangis dari jarak beberapa langkah dari mereka.
"Hwwwaaa ... Om mobil Zi ilang atu!" Kakak si kembar menangis karena mobil-mobillannya tidak ada satu.
"Ya, ampun." Andre dibuat tepuk jidat oleh kelakuan anak-anak kakaknya. "Nyesel aku buat yang satu menangis, sekarang kayak yang lagi pentas saja," rutuknya.
"Mobil Zi ilang, Om!" teriak Zidan lagi.
"Zidan lupa tarohnya, mungkin. Sini, coba Ateu dan Za bantu cari, ya! Zidan kan anak pintar, jangan nangis lagi, ya!" Irma menghampiri Zidan dan mencoba membujuk anak kecil yang satu itu. Namun, Zidan tidak seperti kedua adiknya, anak itu tidak mudah dibujuk kalau sudah menangis. Apalagi mobil-mobilannya tak kunjung ditemukan, membuat volume tangisnya melebihi Zo dan Za.
Hingga akhirnya, seorang wanita keluar dari rumah sebelah, menghampiri Zidan. Entah mantra apa yang diucapkan wanita itu, tangis Zidan pun langsung terhenti. Satu-satunya orang yang bisa meredakan tangis Zidan hanyalah Anisa, mamahnya sendiri.
"Nah, itu, yang dipegang adik Zo bukannya mobil Kakak? Tadi adik Zo pinjam, mungkin Kakak lupa." Anisa mencoba memberi pengertian kepada Zidan.
Sementara Irma, memandang Andre dengan tatapan tak biasa yang dibalas cengiran lelaki itu. Andre lupa, sebelum menggendong Zo, ia berniat mengambil mobil Zidan yang melaju ke kolong meja makan Za. Mobil itu yang telah membuat Zo berhenti menangis dan sekarang malah membuat Zidan menangis.
Setelah puas menangis, anak-anak kecil itu kembali anteng bermain. Berganti gelak-tawa kegirangan mereka yang sedang bermain bersama, meskipun kadang berebut mainan dan akhirnya nangis kembali.
__ADS_1
"Enggak cape apa, Kak, ngurus mereka? Sebentar-sebentar yang ono nangis, berapa menit kemudian yang satu lagi. Apalagi kalau udah ngumpul semua, bisa pecah kepalaku kalau mereka udah gelut," ujar Andre yang baru lima belas menit mengurus keponakannya saja sudah pusing tujuh keliling.
"Enggaklah. Malah rumah terasa rame dan hidup," jawab Anisa. "Maklumlah kakak kan gak pakai kb, jadi brojol terus," imbuhnya lagi.
Irma yang sedang bermain dengan ketiga anak Anisa hanya mendengarkan pembicaraan kakak-beradik itu. Mereka tampak asyik membicarakan kesibukkan Anisa yang harus mengurus delapan anaknya yang masih kecil-kecil, bahkan anak sulungnya saja baru duduk dibangku SMP.
"Nanti pas udah nikah jangan pakai kb dulu, ya, Ir! Tambahin 3 dulu cucunya ayah, biar nanti kita bisa buat tim kesebelasan cucu Ahmad Basri." Anisa berujar seraya diselangi tawanya.
Deg!
"Kalau bisa lebih juga lebih bagus," lanjut Anisa lagi yang belum tahu menahu tentang kondisi Irma.
"Sudahlah, Kak, kenapa malah bahas aku. Kita lagi bahas anak-anak kakak." Andre tak enak hati dengan ucapan Anisa yang pastinya akan sangat menyakitkan Irma. Namun, di sini kakaknya pun tak salah karena dia belum terus terang akan hal itu kepada keluarganya.
"Merencanakan 'kan boleh, asal jangan praktek duluan. Toh, hubungan kalian sudah ke tahap yang lebih serius." Anisa kembali mengutarakan pendapatnya.
'Sepertinya aku salah ngambil topik pembicaraan.' Andre merutuki dirinya sendiri. Ia bisa melihat kesedihan di wajah yang masih mencoba tersenyum. Hati Irma yang begitu sensitif akan hal yang satu itu, membuat Andre melihat jelas genangan yang hampir tak tertahan di mata sang kekasih.
__ADS_1
"Betul gak, Ir?" tanya Anisa lagi kepada Irma.
Lagi dan lagi, Irma hanya bisa tersenyum, tanpa ada niatan untuk menjawab ucapan Anisa. Ia lebih memilih menyibukkan sendiri dengan zidan dan kedua adiknya. Ia mencoba tuk baik-baik saja dan saat iris matanya bertemu dengan mata Andre yang tak berhenti menatapnya, Irma lebih memilih menghindar—atau air matanya akan tumpah saat itu juga.
"Pembahasannya sudah mulai tak asyik. Dasar emak-emak yang hidupnya gak jauh dari brojolin anak, yang dibahas pun itu mulu." Andre beranjak dari samping kakaknya, menghampiri Irma.
"Bukannya kamu juga yang bahas itu duluan. Kakak cuma lanjutin doang!"
Andre tak menyahuti ucapan Anisa. Ia malah menarik Irma untuk pergi dari teras. "Kita cari angin segar yuk! Jalan-jalan mumpung masih di sini! Mumpung emaknya tuh bocah udah beres," ajak Andre.
"Tapi—"
"Pergilah, Ir. Anak-anak udah biasa main bertiga, lagian kakak juga udah gak sibuk, si baby juga masih tidur. Nikmatilah suasana pegunungan sepuasnya mumpung lagi di sini. Pemandangan di sini bagus-bagus, lho!" imbuh Anisa.
Irma pun mengangguk, lalu pamitan kepada Anisa.
'Irma kenapa jadi gak banyak bicara? Si Andre juga kayak yang lagi nyembunyiin sesuatu. Apa perasaan aku doang, ya?' tanya Anisa pada dirinya sendiri yang juga menyadari perubahan Irma saat dirinya membahas soal anak.
__ADS_1