
12
Seunit mobil berbelok dan berhenti di depan toko kue, kemudian seorang lelaki berseragam polisi keluar dari balik kemudi.
"Fris, ikut turun, gak?" Andre mengetuk kaca mobil sebelah kiri, saat adiknya itu tidak kunjung turun.
Friska yang masih di dalam mobil dan sibuk dengan ponselnya tidak menyadari kalau Andre sudah turun dan berada di luar. Ia pun dengan segera menurunkan kaca mobil.
"Sejak kapan ada di luar, Kak?" celetuk Friska. "Eh, kita udah sampai di toko Kak Irma, ya?" Friska juga baru menyadari kalau mereka sudah sampai di toko kakak iparnya saat melihat nama toko yang tertera sangat besar di depan bangunan di hadapannya.
"Makanya maen hp mulu, sampai tidak sadar kalau kita sudah sampai," tandas Andre yang hanya dijawab rentetan gigi yang sengaja dipamerkan oleh Friska. "Ikut turun, gak?" ulang Andre.
"Hanya jemput Kak Irma, kan?" tanya Irma dan dijawab anggukkan oleh sang kakak. "Kalau gitu gue tunggu saja," lanjutnya.
Akhirnya, Andre masuk ke toko sendirian, sedangkan Friska lebih memilih menunggu di dalam mobil sambil berselancar di media sosial. Hingga, ia pun teringat pada satu nomor yang tadi pagi dicurinya dari ponsel Andre. Dengan cepat, Friska langsung keluar dari akun medsos yang sedang dijelajahinya, kemudian mencari kontak yang dinamainya 'Guardian Angel'.
"Gue coba hubunginya sekarang aja. Siapa tau diangkat," gumam Friska sambil mendial nomor tersebut.
Senyum terus tertampil di wajah Friska begitu mendengar nada panggilan yang tersambung. Namun, sama nada panggilan selesai, panggilan Friska tidak ada yang menerimanya.
"Apa dia sedang sibuk? Padahal udah jam pulang kantor." Friska berbicara sendiri.
__ADS_1
Akan tetapi bukan Friska kalau ia menyerah begitu saja. Ia kembali menghubungi nomor tersebut sampai beberapa kali, tetapi hasilnya masih saja sama—panggilannya berujung dengan suara operator yang menyebutkan 'panggilan akan dialihkan', si pemilik nomor tidak kunjung menerima panggilannya.
"Ya, sudahlah gue kirim pesan saja." Friska pun mengirim pesan basa-basi beserta ucapan terima kasih yang cukup panjang pada nomor tersebut. "Kakak juga lama sekali, katanya jemput doang!" gerutunya.
Saat melihat pintu toko yang masih saja tertutup, tanpa ada orang yang keluar dari sana, Friska memilih untuk turun dan menyusul kakaknya ke dalam toko.
"Kakak kalian lama sekali! Katanya mo pulang, ayo!" teriak Friska sambil mendorong pintu kaca.
"Dia siapa? Kenapa kelihatan akrab dengan Kak Ryan dan anaknya." Ia yang sedang mendorong pintu dibuat terkejut dengan apa yang dilihatnya di dalam toko. Sebuah potret seperti keluarga bahagia sedang Friska tonton. "Pantas saja panggilanku tidak dijawab," gumamnya.
'Ya ampun! Perasaan macam apa yang seperti ini?' rutuk Friska dalam hati, saat merasakan ada sesuatu yang menusuk salah satu sudut hatinya.
"Ya, ampun. Fris! Kamu anggap toko kakakmu tengah hutan apa? Sampe teriak-teriak melengking gitu, bikin gendang telinga mau pecah saja," gerutu Andre yang begitu terganggu dengan teriakan Friska.
"Udah, jangan debat mulu!" Irma menjadi penengah keduanya, jika terus dibiarkan ujung-ujungnya pasti akan berdebat lagi. "Kakak belum selesai pembukuan, jadi kakakmu nungguin kakak dulu." Irma mencoba menjelaskan dan hanya dijawab anggukan Friska.
Friska lantas mengambil kursi dan duduk di depan meja kasir, sesekali melirik ke arah Ryan yang sedang bersama Dewi dan Alvino yang berada di pangkuan wanita itu.
"Kak, mereka itu siapa?" Pertanyaan konyol itu tiba-tiba keluar dari mulut Friska dengan tangan yang sudah menunjuk ke arah tiga orang itu.
"Itu Mas Ryan. Bukannya kamu sudah kakak kenalkan sama dia? Masa lupa. Yang kecil itu anaknya dan satu lagi Dewi," ujar Irma.
__ADS_1
'Maksudku itu mereka memiliki hubungan apa?' Ingin sekali ia bertanya seperti itu, tapi diurungkannya saat mereka berjalan ke arahnya.
"Maaf pemilik toko sudah mau tutup! Jadi jika akan melanjutkan berkencan silakan cari tempat lain," celetuk Andre yang melihat sang istri sudah selesai, dan berhasil membuat Friska terperangah.
'Kencan? Apa mereka sepasang kekasih?'
Sementara itu, Dewi yang juga mendengar ucapan Andre langsung bersemu merah. Ryan sendiri hanya meladeni ucapan Andre dengan seutas senyum.
"Kita juga mo pulang, Pak Polisi," ucap Ryan. "Aku cuma mo bayar pesanan mamah, syukur-syukur dikasih gratis," tandasnya yang sudah menenteng satu kotak kue basah pesanan sang mamah, yang sudah disiapkan oleh Dewi dan dijawab cebikan oleh Andre. "Eh, Friska, ya?" Sambil memberikan sejumlah uang kepada Andre, Ryan juga menyapa Friska yang sejak Ryan berjalan ke arah kasir, gadis itu tidak mengalihkan pandangannya.
"Iya, Kak," jawab Friska sedikit menunduk dengan senyum canggung menghiasi wajahnya. "A—" Friska lantas mendongak dan hendak berbicara tentang kejadian semalam. Namun, ucapannya tercekat saat melihat Alvino yang rewel dan menangis.
Ryan tampak sibuk menenangkan Alvino, setelah membayar kue yang dipesannya ia pun pamit dan diikuti oleh Dewi pula. Ryan sama sekali tidak menyadari kalau Friska hendak mengajaknya bicara.
Friska hanya bisa menatap kepergian mereka dengan perasaan yang susah diartikan. Ia merutuki dirinya sendiri yang selalu saja menyukai orang pada pandangan pertama dengan akhir yang selalu seperti itu.
Sampai mereka sampai di rumah pemandangan tadi terus terlintas di kepala dan mengganggu pikirannya. Ditambah lagi, ucapan Irma sewaktu di dalam mobil yang dengan jelas kalau kakak iparnya itu tampak mendukung hubungan dua orang tadi.
"Mereka cocok, ya, Ba! Aku yakin setelah ini, Alvino pasti akan memiliki ibu yang baik," ucap Irma saat di mobil yang disetujui oleh Andre.
"Ah, ini apa-apaan? Masa cinta gue lagi-lagi harus layu sebelum tumbuh?" Friska yang sedang berbaring di tempat tidur langsung menutup wajahnya dengan bantal, mengingat cintanya yang selalu bertepuk sebelah tangan.
__ADS_1
"Enggak, kali ini gue gak mau nyerah. Gue masih bisa berjuang mendapatkan cintanya. Apalagi kata Kak Andre mereka itu dijodohkan, belum tentu juga mereka cocok," gumam Friska yang tanpa sengaja mendengar pembicaraan antara Irma dan Andre tentang perjodohan Ryan dan Dewi. "Siapa tahu setelah dekat dengan gue, Kak Ryan juga memiliki rasa yang sama sama gue, dan perjodohannya pun batal," lanjutnya dengan bibir yang membentuk lengkungan senyum.
"Ingat Fris, sebelum janur kuning melengkung dia itu masih milik bersama. Dan jika pun janurnya sudah melengkung kita setrika aja, biar lurus lagi!" Friska menyemangati dirinya sendiri.