Janda Cantik Milik Pak Polisi

Janda Cantik Milik Pak Polisi
42


__ADS_3

Status baru yang disandang Andre dengan Irma, telah mengubah hari-hari Irma menjadi lebih berwarna. Membuat Irma merasakan kembali mencintai dan dicintai yang begitu indah, yang tak pernah sedikit pun terbayangkan olehnya akan merasakan hal itu lagi. Bahkan, secepat itu setelah kegagalan dan pengkhianatan yang begitu membekas di hidupnya.


Sikap Andre yang begitu perhatian dan romantis, membuatnya dengan mudah melupakan mimpi buruk yang pernah hadir di hidup Irma, tergantikan dengan mimpi-mimpi indah yang siap ia rajut bersama Andre.


Setiap ada kesempatan, mereka selalu melewati waktu bersama. Benar, kata syair lagu yang sekarang telah menjadi lagu favorit Andre. Di saat rindu melanda, mereka tak perlu buang-buang pulsa atau pun bensin, tinggal buka pintu sambil bilang 'hello, Sayang' semua langsung terselesaikan.


Ditambah lagi, Friska yang juga sangat welcome terhadap Irma,  kedekatan dari keduanya pun cepat terjalin, membuat wanita itu semakin yakin akan hubungannya dengan Andre. Bahkan, Friska tanpa sungkan memperkenalkan Irma kepada kedua orang tua Andre sebagai calon kakak iparnya.


Begitu pun dengan kedua orang tua lelaki itu, meskipun baru bertemu lewat virtual saja, tetapi mereka begitu ramah dan sepertinya juga menyukai pilihan sang anak. Tak ayalnya Friska, kedua orang tua Andre juga tanpa sungkan menyebut Irma sebagai 'calon mantu'.


"Calon mantu mamah kapan mau ke mari? Mamah sudah tak sabar melihat langsung wajah cantik yang sudah membuat Si Borokokok jatuh cinta." Salahsatu percakapan dengan orang tua Andre yang selalu membuat Irma merasa telah diterima oleh keluarga sang kekasih.


***


Sudah dua minggu lebih Friska liburan di kota tempat kakaknya mengabdi. Selama itu pula, ia habiskan waktunya bersama dengan Irma, mengenal lebih dekat calon kakak iparnya. Hubungannya dengan Irma yang semakin dekat, membuat gadis itu enggan tuk meninggalkan kota yang dipijaknya saat ini.


"Kak, ikut sama Friska pulang ke rumah, yuk! Friska gak mau pisah sama Kakak," rengek Friska saat Irma dan Andre mengantarnya ke terminal. Ia yang tak memiliki kakak perempuan, menjadi sangat manja ketika bersama Irma.

__ADS_1


"Lain kali, ya! Untuk saat ini belum bisa," ujar Irma dengan seulas senyum.


"Ah ... Friska pasti akan sangat merindukanmu." Friska yang tak pernah berbicara elu gue di hadapan Irma, tak tahan untuk tidak memeluk Irma.


Irma pun membalas pelukan Friska. "Kakak juga pasti sangat merindukanmu."


"Aku juga mau dipeluk." Tiba-tiba orang di samping Friska mengganggu suasana.


"Peluk noh koper!" seloroh Friska. "Kalau nanti Kak Andre pulang, Kakak janji ikut, ya!" Gadis itu mengacungkan kelingkingnya.


"Mamah dan Ayah pasti senang calon mantunya berkunjung. Aku tunggu Kakak di sana." Friska kembali memeluk Irma sebelum masuk ke dalam bis. "Jaga kakak ipar, jangan sampai aku dengar kau buat dia menangis! Kalau itu sampai terjadi, pintu rumah di-verboden untukmu," ancamnya kepada Andre.


"Sebenarnya yang jadi kakak kamu itu siapa, sih?" seloroh Andre, yang berhasil membuat Friska dan Irma tersenyum.


Setelah acara peluk-pelukkan, Friska masuk ke dalam bis. Tak lama kemudian, bis itu pun bergerak meninggalkan terminal. Sempat terlihat, Friska yang duduk di samping kaca tampak melambaikan tangan ke arah Irma dan Andre. Sepasang kekasih itu juga meninggalkan terminal, setelah bis yang ditumpangi Friska sudah tak terlihat lagi.


"Terima kasih telah meluangkan waktu untuk Friska," ujar Andre saat keduanya di dalam mobil, hendak pulang.

__ADS_1


"Kamu ini ngomong apa? Aku sudah menganggapnya sebagai adikku sendiri. Jangan bicara seperti itu lagi!" imbuh Andre.


"Aku bahagia, ternyata adikku bisa seakrab itu dengan kekasihku. Aku memang tak salah pilih orang. Friska saja yang baru dua minggu di sini, sudah segitunya menyukaimu. Apalagi, aku yang setiap hari bertemu dengan wajah cantik ini." Andre meraih tangan Irma, lalu menghadiahi tangan itu sebuah kecupan dengan mata yang tak hentinya memandang wanita yang sedang tersenyum ke arahnya.


"Mulai menggoda lagi. Liatnya ke depan jangan ke aku. Nanti nabrak, berabe lho." Irma mendorong wajah Andre untuk fokus ke jalanan.


"Ah, Mbak Cantik ini bisa saja. Bilang aja, pasti gerogi aku pandangin terus, ya?" goda Andre, tanpa membantah ucapan Irma. Karena memang benar juga yang diucapkan sang kekasih, mengemudi harus fokus ke jalanan. "Terus, kapan kita mau menyusul Friska ke rumah orang tuaku?" tanyanya kemudian.


Deg! Entah mengapa jantungnya terasa terhenti sejenak saat mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulut Andre. Irma terdiam, ia tak tahu harus menjawab apa. Ada sedikit keraguan yang masih menghantuinya, jika harus bertemu kedua orang tua Andre secara langsung.


Tidak mendapat jawaban, Andre kembali menoleh ke bangku di sebelahnya. "Aku nanya lho, kenapa tidak dijawab?"


Tanpa ada niatan untuk menjawab, Irma hanya tersenyum yang terlihat ada keterpaksaan di senyum itu.


"Akhir bulan ini aku ada libur tiga hari, kita berkunjung ke sana, ya!" lanjut Andre, saat tak mendengar jawaban dari pertanyaan sebelumnya.


"Eh, Ta-tapi—" Senyum Irma seketika menghilang, mendengar ucapan Andre. Ia tampak memainkan ujung-ujung kukunya, bingung harus menanggapi ajakan sang kekasih.

__ADS_1


__ADS_2