
Setelah mendapat kabar mengejutkan dari Andre, Irma pun dibuat sibuk setengah mati oleh kegiatan di rumah untuk mempersiapkan kedatangan keluarga Andre yang dibantu oleh Naura dan Ana.
"Kak, rumahnya enggak didekor gitu? Biar unyu-unyu gimana, gitu?" Saran Bumil di tengah kesibukkan semua orang yang sedang membuat berbagai jenis makanan dari yang ringan sampai yang berat.
"Enggak bakal keburu ke sana kemarinya, De!" Ranti menjawab pertanyaan Naura.
"Emang waktu kamu lamaran rumahnya didekor juga?" Irma memicingkan sebelah matanya kepada si adik yang sedang membuat toping pada cupcake.
"Jangan berlaga amnesia." Naura mengerucutkan bibirnya, mengingat dirinya tak ada acara lamaran-lamaran seperti kakaknya saat ini. Dulu yang ia alami ialah penodongan suruh menikah dengan berbagai macam trik dan surat perjanjian ini itu.
Si pemilik ulah yang mendengar jawaban menantunya hanya tersenyum, lalu merangkul sang menantu. "Tapi, gak bikin nyesel, 'kan?" goda Ana.
"Enggak dong. Ara akan nyesel banget kalau dulu gak nerima tawaran Mamah," ujar Naura dengan senyum yang terlampir.
"Kalau kau mau, kita ulangi acara lamarannya. Biar barengan sama Irma, mau?" seloroh Ana kemudian.
"Ogah, lamaran apaan? Nikahnya juga udah. Biarpun enggak ada lamaran yang penting aku dan keluarga kecilku bahagia, romantis, aman dan tentram. Kalau ada yang lewat, itung-itung bumbunya. Yang penting kagak goyah. Yang kayak gitu harus dicontoh, Kak!" Naura memamerkan keharmonisan pernikahannya bersama Dimas.
"Baik, Bumil!" jawab Irma sambil mangut-mangut.
"Kalau mau aku bakal kasih resep rahasianya. Mau, gak? Mumpung aku lagi baik." Naura menaik-turunkan kedua alisnya, menggoda sang Kakak. "Tapi nanti," lanjutnya sambil menjulurkan lidah. "Takutnya praktek duluan ba-ha-ya."
***
__ADS_1
Di saat semua orang sibuk dengan kesibukkan masing-masing, tiba-tiba terdengar suara mobil berhenti di depan rumah. Naura yang penasaran, ia langsung mengitip dari balik kaca.
"Busyet! satu bus?" Naura menutup mulutnya tak percaya, melihat bus berhenti di depan rumah mereka. "Apa mereka bawa orang satu kampung?"
Naura pun langsung menghampiri Irma dan yang lainnya, memberitahukan apa yang saja baru dilihatnya.
"Apa satu bus?" Mereka pun tak kalah terkejutnya.
"Ya, Tuhan. Apa makanan yang kita buat bakal cukup?" Ranti jadi kebingungan sendiri.
"Tenanglah, Mbak. Masih ada waktu sampai sore, kalau gak memungkinkan untuk tambahannya kita delivery saja." Ana mencoba menenangkan Ranti yang sudah mulai kebingungan, mendengar tamu mereka sebanyak itu. "Sebagai tetangga yang baik, sebaiknya kita temui mereka dulu, ayo!" lanjut Ana, mengajak besan , Irma dan sang menantu menemui keluarga Andre.
Mereka pun menemui keluarga Andre yang sudah berkumpul di depan rumah Andre, tanpa bisa masuk. Pandangan Naura langsung tertuju kepada anak-anak kecil yang wajahnya hampir mirip dan ia bisa menaksir umur mereka tidak terpaut jauh.
"Apa mereka satu turunan, Mah?" bisik Naura kepada Ana.
"Anak-anaknya kayak berenyit banyak amat," gumam Naura sangat pelan, tetapi masih terdengar oleh Ana yang menggandengnya.
"Hush! Anak orang disamakan sama ikan. Apa kamu mau seperti kakaknya Andre biar bisa buat tim kesebelasan, atau paling tidak tim voly lah?" Ana menggoda Naura, yang langsung mendapat pelototan dari sang menantu.
"Satu aja belum berojol, Mah. Udah mikirin buat tim aja," protes Naura.
Ana hanya tersenyum sambil mengelus rambut Naura. Karena sebenarnya ia tak pernah mempermasalahkan berapa pun cucu yang diberikan sang menantu. Asalkan keluarga anaknya harmonis itu sudah cukup baginya.
__ADS_1
"Assalamualaikum," sapa Ana begitu mereka sampai di depan rumah Andre.
"Waalaikumsalam. Mbak Ana apa kabar?" Rita langsung memeluk Ana, begitu melihat siapa yang mengucap salam.
"Kabar baik, Mbak. Mbak apa kabar?"
Kedua wanita yang kenal karena persahabatan anak-anaknya itu pun saling menanyakan kabar. Setelah itu, Rita memeluk Irma yang juga ada di sana.
"Maaf, Mah, tadi Mas Andre menitipkan kunci kepada Irma, katanya ia akan pulang sedikit telat." Irma memberikan kunci rumah kepada Rita, lalu menyalami setiap anggota keluarga yang ikut. Tak lupa, Irma juga memperkenalkan adik dan ibunya kepada keluarga Andre.
Setelah berramah-tamah, Ranti dan Irma serta Naura memilih kembali ke rumah. Sementara itu, Ana masih berada di rumah Andre karena Rita memintanya untuk tetap tinggal.
Sepulang dari rumah Andre, Naura tak henti-hentinya menggoda sang kakak yang membuat wajah Irma semakin memerah.
"Cieh-cieh ... udah panggil mamah sama ayah aja. Kapan mereka berojolin Kakak?" goda Naura.
"Kamu juga manggil mertuamu mamah dan papah."
"Aku panggil mereka mamah dan papah setelah menikah."
"Aku juga kan mau menikah."
"Asyik ... udah gak sabar aja nih, pengen nikah. Pasti udah gak sabar pengen main kuda-kudaan, ya?" Arah bicara Naura semakin ngawur, entah ke mana.
__ADS_1
"De, kenapa malah melenceng ke sana?"
"Pengen aja." Naura hanya memamerkan gigi ginsul yang dimilikinya, dengan tangan yang masih fokus pada barang-barang yang sedang dikemasnya.