
Andre menarik Friska kedekatnya, menjauhkan si adik dari Naura yang sudah siap menerkam semua orang yang ada di sana. Sementara itu, Dimas mendekati Naura dan mencoba menenangkan wanita itu, lalu meraih wadah ikan koki yang terbuat dari beling dan menjauhkan dari sang istri—takut-takut jika ngamuk lagi, Dimas yang jadi sasarannya.
"Apa dia benar-benar istrinya Kak Dimas?" tanya Friska seraya berbisik.
"Ya. Makanya, jaga sikapmu. Jangan kayak barusan! Bisa berabe urusannya."
"Dulu dia nolak Friska. Dia bilang Friska masih kecil, lebih pantas jadi adiknya. Sekarang dia nikah sama anak kecil juga. Wanita itu seumuran dengan Friska, 'kan?" bisik Friska lagi, dengan mata yang tak lepas dari sepasang suami-istri itu.
Andre mengangguk pasti, "Jodoh hanya Tuhan yang tahu. Siapa yang bakal nyangka kucing sama tikus itu bisa jadi seromantis itu?" tunjuknya ke arah Dimas dan Naura. "Bahkan, sekarang dia tak bisa hidup tanpa wanita yang sebentar lagi bakal jagi ibu dari anaknya itu." Andre pun menceritakan bagaimana Dimas begitu mencintai Naura. "Jadi, jika kamu masih bermimpi mendapatkan cintanya, lupakan saja," lanjutnya penuh nasehat kepada sang adik yang Andre tahu kalau Friska pernah menaruh hati pada Dimas.
"Gue sudah move on. Ngapain menunggu yang tak pasti di saat yang pasti banyak yang ngantree," ujar Friska seraya berseringai, memamerkan rentetan gigi putihnya. Meskipun sebelum mengetahui kenyataan di depan mata, hatinya masih sedikit berharap.
Namun di hati kecilnya, Friska masih tak menyangka lelaki yang pernah ia kejar telah menikah, bahkan bisa bersikap sangat lembut kepada wanita yang disebut Andre 'istri Dimas'. Terlihat jelas, lelaki super dingin itu berubah seratus delapan puluh derajat. Begitu romantis, bahkan dengan sabar Dimas menenangkan wanita dipelukannya itu.
'Pupus sudah harapanku.' Ia ingat betul, saat Dimas ikut pulang kampung bersama Andre, ia pernah dengan percaya dirinya mengatakan, kapanpun Dimas datang mengatakan cinta, ia akan menerima dan melupakan jika dirinya pernah ditolak oleh lelaki itu. Namun, setelah melihat pemandangan di depan mata, Friska harus benar-benar mengubur harapan itu karena Dimas tak akan pernah berpaling.
__ADS_1
"Apa mereka seperti itu setiap hari? Bisa sakit mata kalau gue lama-lama di sini. Bisa-bisa pulang nanti, gue minta ayah langsung bawa gue dan si doi ke KUA," imbuh Friska, melihat betapa romantisnya sikap Dimas kepada Naura serta betapa lemah lembutnya lelaki itu ketika menjelaskan hubungan Friska dan Andre. "Pasti ini juga yang buat Kakak ngebet pengen cepet nikah. Ampe janda pun kau jabani," selorohnya, yang sedikit banyak sudah tahu tentang latar belakang wanita yang sedang dikejar sang kakak.
Andre menghadiahi Friska jitakkan tiga kali atas mulutnya yang suka ceplas-ceplos. "Kalau ngomong disaring! Lagian dia itu gak kalah cantik dari adiknya," ucapnya memuji kecantikan Irma.
"Memang dia kakak siapa?"
"Kakak dari wanita yang akan menyumpalmu dengan ikan koki."
"Apa? Dia adiknya calon kakak iparku?" tanya Friska, yang begitu terkejut dengan kenyataan yang baru didapatnya lagi. 'Adiknya kayak gini? Gimana kakaknya?' Ia bergidig, mengingat kegarangan Naura yang hanya dengan sorot mata saja siap untuk melucuti dirinya.
Cukup lama sepasang suami istri itu di rumah Andre. Naura yang memiliki sikap frendly, tak butuh waktu lama untuk akrab dengan Friska, meskipun dari keakraban mereka lebih sering cek-cok daripada akurnya.
"Salah sendiri ngapain posisi kalian bikin orang curiga? Udah tahu dari rumah, aku bawa gedeg atu toronton untuk kalian. Eh, pas datang sini liat orang yang mau ciuman. Ya, langsung siram aja! Biar setannya pada kabur," ujar Naura saat Friska membahas kembali masalah kakak-beradik yang basah kuyup.
"Kan, udah gue billang, gue kelilipan bubuk cabe, bukan mau ciuman. Lagian, masa iya ciuman sama kakak sendiri. Cowok ganteng juga masih banyak," sanggah Friska, dengan ekor mata yang melirik lelaki yang masih berpakaian koko.
__ADS_1
"Mana kutahu kalian kakak-beradik." Naura tak mau kalah.
"Makanya tanya dulu, jangan asal labrak!' Friska semakin kesal dengan si ibu hamil yang tak mau kalah itu. Sementara itu matanya, tak pernah beralih dari Dimas.
"Heh, Bocil, sekolahin tuh mata. Jangan sampai aku lempar bubuk cabe level sepuluh ke matamu!" sarkas Naura yang menyadari adik sahabat suaminya itu lagi-lagi mencuri pandang, memperhatikan sang suami.
"Ya, Tuhan. Galak amat kau jadi istri. Lagian bocil-bocil mulu, kita itu seumuran. Bedanya gue masih rata dan elu udah ...." Friska menggerakkan tangannya di depan perut, membentuk sebuah lengkungan setengah lingkaran. "Sebenarnya, Kak Dimas nemuin lo di mana, sih? Bisa-bisanya dia kepincut sama perempuan macam situ. Gue aja yang ngejar-ngejarnya setengah mati, dicampakkan mulu."
"Itu kerennya aku. Aku bisa naklukin kutub es, jadi jangan anggap remeh diriku. Dan, jaga matamu kalau gak mau aku paketkan kamu untuk pulang kampung. Sudah bikin masalah jadi runyam, mau nambah lagi jadi penyakit." Naura menarik dagu Friska untuk menghadap ke arahnya, agar gadis itu tak lagi memperhatikan Dimas.
Friska hanya mencebik kesal. "Ish ... sodakoh dikit napa, sih? Lagian aku sudah tak tertarik dengan suamimu, aku sudah dapat yang lebih keren."
"Baguslah. Kalau gitu jaga matamu ini, buat memandangi cowok yang lebih keren dari suamiku itu. Ok?" Naura menjuwel pipi Friska lumaya kencang, membuat gadis itu kembali mencebik, sedangkan Naura tersenyum penuh kemenangan.
Andre dan Dimas saling melempar pandang, melihat dua wanita itu yang saling adu mulut. Apalagi, setelah tahu kalau Friska pernah menyukai si calon ayah itu.
__ADS_1