
Setelah acara sarapan yang lebih banyak digunakan untuk menggoda Irma, Ranti beserta keluarga pun berangkat menuju kantor bersama Dimas sembari mengantarkan Naura yang hendak pergi ke toko. Sementara itu, keluarga Andre berada di dalam mobil lain yang mengikuti dari belakang.
Setiba di kantor polisi, Dimas pun langsung memarkirkan mobilnya di tempat yang sudah disediakan. Andre yang sudah tiba terlebih dahulu, sudah berdiri di samping pintu belakang mobil Dimas. Ia membukakan pintu untuk sang tuan putri yang akan keluar dari mobil sahabatanya itu.
"Selamat datang Tuan Putri!" Andre membukakan pintu sembari membungkuk. Ia ingin berlagak seperti pangeran-pangeran yang menyambut kedatangan tuan putrinya seromantis mungkin.
Irma yang semenjak pagi dibuat jengkel oleh sang adik, tak bisa menahan senyum saat melihat tingkah Andre.
"Selamat juga untukmu Nak Andre."
Tiba-tiba suara wanita yang telah dibukakan pintu olehnya membuyarkan ekspetasi Andre. Lantas, ia pun mendongak dan betapa terkejutnya Andre melihat Irma berada di pintu seberang sedang tersenyum ke arahnya. Seingatnya, Irma duduk di samping pintu yang ia buka sekarang, tetapi kenapa bisa bertukar posisi seperti itu?
"Mamah Ranti ...." ujar Andre dengan wajah yang sudah seperti kepiting rebus karena malu.
__ADS_1
"Tadi mamah tukar tempat duduk sehabis nganter Naura," ujar Ranti sambil menepuk bahu Andre, lalu meninggalkan lelaki itu, ikut bergabung dengan kedua orang tua Andre.
Tawa Dimas pun menggelegar saat Ranti sudah menjauh. "Maaf, anda kurang beruntung!" Dimas juga menepuk bahu Andre, lalu pergi meninggalkan parkiran yang diikuti sepasang kekasih itu dari belakang.
"Kenapa tidak bilang kalau tukar posisi dengan mamah?" gumam Andre setengah berbisik.
"Mana aku tahu Mas mau menyambutku seperti itu?" Irma mencoba menahan tawanya agar tidak pecah.
"Ish, malu-malui aja," rutuk Andre sambil menoleh ke arah wanita yang sedang berjalan di sampingnya. "Tapi, Mbak Say hari ini cantik sekali," lanjut Andre. Memuji penampilan Irma yang belum sempat dipujinya saat di rumah. Andre begitu terpukau melihat Irma menggunakan kebaya lengan panjang berwarna cream dengan kerudung senada serta batik tulis sebagai bawahan.
"Liat ekspresimu yang kayak gini, malah pengen nyosor lagi tuh pipi." Andre kembali berujar, mengingatkan kejadian semalam yang menghantar mereka pada mimpi indah.
"Mas, ih! Ketahuan Mamah dan Ayah kena ceramah siang malam, lho."
__ADS_1
"Jangan sampai mereka tahu. Lagian semalam kelepasan. Maaf enggak sengaja, tapi enggak nyesel juga sih." Andre kembali memamerkan rentetan giginya di balik face shield yang dikenakannya.
Tanpa mereka sadari perbincangan mereka telah megantar keduanya ke Aula Polresta, tempat mereka akan mengadakan sidang pra-nikah. Di sana sudah ada dua pasangan calon pengantin yang juga akan melaksanakan sidang bersamaan dengan Andre dan Irma. Pembicaraan keduanya pun terhenti dan langsung duduk di tempat yang sudah disediakan.
Sidang pra-nikah yang dilaksanakan Irma dan Andre dipimpin oleh Waka Polresta yang mewakili Kapolresta menyampaikan pesan kepada setiap anggota yang melakasanakan sidang BP4R di Aula. Sebagai ketua sidang Waka Polresta memberikan pembekalan kepada Irma dan Andre beserta dua pasangan lainnya. Ia berpesan, "Rumah tangga itu dibangun dari perbedaan, dengan diniatkan untuk beribadah dan paham konsep-konsep dasar ilmu agama. Pernikahan itu harus diniatkan karena Allah."
Kasi Humas Polresta juga mengingatkan akan arti sakinah, mawadah dan waraahmah kepada tiga pasangan yang akan menikah itu. "Jika memiliki pasangan itu harus bahagia karena ada yang dicintai menunggu di rumah," tambahnya dengan seutas senyum kepada semua calon pasangan.
Irma bernapas lega saat sidang berakhir dengan lancar sentosa. Benar kata Naura, tidak ada hal-hal yang perlu ditakutkan. Bertemu dengan para petinggi kepolisian dan melaksanakan sidang tak semenakutkan yang dibayangkan Irma. Semua berjalan seperti air yang mengalir, hingga tak terasa sidang pun telah usai. Bahkan, mereka sempat bercanda mengatakan kalau Andre tak mau kalah saing dengan Dimas, hingga kakaknya Naura pun jadi sasaran.
Setelah sidang pra-nikah selesai, Irma dan seluruh keluarga memilih tuk kembali ke rumah menggunakan mobil yang dibawa Ahmad. Sementara itu, Andre tersangkut di kantor polisi untuk membereskan pekerjaannya sebelum mengambil cuti.
Di tengah perjalanan, Rita yang merasa perutnya sudah keronconcongan mengajak suami, besan dan menantunya untuk menepi di sebuah kedai baso yang tampak begitu menggugah selera. Dan langsung diiakan oleh semuanya.
__ADS_1
Kini, mereka sedang duduk di depan meja lesehan, menunggu pesanan mereka yang sedang dibuat oleh pelayan di sana, sembari membicarakan persiapan acara pernikahan Irma yang hampir rampung.
"Dasar Janda mandul tak tahu diri!" Tiba-tiba segelas teh manis mendarat di wajah Irma dengan pekikkan si pemilik ulah, mengagetkan Irma berserta keluarga dan juga pengunjung lain di sana.