
Setelah kepulangan Dimas dan Naura, liburan Irma dan Andre masih berlanjut untuk dua hari ke depan. Meskipun tidak bisa menikmati keindahan tubuh sang istri, bukan berarti Andre juga tidak bisa menikmati keindahan alam dan wahana wisata yang disuguhkan di sana.
Sang mentari telah menampakkan diri kembali dari ufuk timur, menyongsong hari yang telah berganti. Di sebuah kamar hotel, sepasang suami istri yang sedang berbulan madu tampak sedang duduk menikmati suasana pagi dari balik dinding kaca kamar yang menghadap ke pantai, sembari menyeruput manisnya capuchino.
"Hari ini kita mau ke mana dulu?" tanya Andre.
Irma menoleh ke arah lelaki di sampingnya, sejenak tampak berpikir, lalu menyeruput capuchino miliknya lagi.
"Aku ingin liat ikan-ikan lagi," jawab Irma dengan senyum di wajah.
"Liat yang narik jaring lagi?" Kedua matanya menyipit, menatap sang istri, mengingat kemarin Irma begitu antusias saat melihat orang-orang yang sedang menarik ikan ke darat.
Irma menggeleng.
"Ke akuarium lagi?" tanya Andre lagi dan masih mendapat gelengan.
"Mancing lagi?"
Andre mengabsen setiap tempat yang kemarin mereka singgahi dan kebanyakan memang berhubungan dengan ikan. Namun, masih mendapat gelengan sang istri.
"Lalu, liat ikan di mana? Jangan bilang Mbak Say mau liat orang yang buat ikan asin? Aku menolak mentah-mentah. Bau."
"Bukan, Mas," jawab Irma. Ia memukul pelan lengan Andre, tak habis pikir kenapa suaminya malah kepikiran ke tempat pembuatan ikan asin, bukan ke tempat yang super duper indah.
"Lalu?"
"Itu, lho ...." Irma tak melanjutkan pembicaraannya dan malah menyeruput minumannya lagi, kemudian memutar-mutar gelasnya. "Kemarin waktu sepedaan aku liat poster spot snorkeling. Sebenarnya dari kemarin aku pengen banget liat terumbu karang, liat ikan yang cantik-cantik. Bermain dengan mereka, lalu memberi mereka makan langsung, pasti sangat menyenangkan, " lanjutnya, sangat antusias. "Mumpung Ara udah pulang, kita main ke tengah, ya!"
Andre yang semenjak tadi memperhatikan si istri yang begitu antusias menceritakan keinginannya, tampak senyum-senyum sendiri. Ia pun mendekatkan wajahnya kepada wanita yang ada di hadapannya, tanpa memedulikan Irma yang sedang menunggu jawaban.
"Manis," ucapnya setelah menyapu bersih capuchino yang belepotan di bibir Irma yang membuat konsentrasi Andre terpecahkan.
"Mas, ih!"
__ADS_1
Andre tersenyum lebar. "Ok, let's go! Tapi dengan satu syarat."
"Syarat?"
Andre mengangguk pasti. Melihat keantusiasan Irma, membuatnya berpikir untuk sedikit bernego-nego dulu. Tidak ada yang gratis sayang.
"Apa?"
Lelaki itu menggerakkan tangannya, meminta Irma mendekat, lantas membisikkan sesuatu yang membuat mata Irma membelalak.
"Mas!"
"Mau, tidak? Enggak mau, berarti snorkeling-nya juga tidak ada. Kalau mau, jangankan snorkeling mau diving pun aku antar atau mau maen yang lain pun hayu!"
Bermain dengan ikan dan befoto langsung dengan mereka sudah menari-nari di kepala Irma sejak kemarin. Kapan lagi ia akan memiliki kesempatan emas itu? Secara pekerjaan Andre tidak akan memungkinkan mereka sering-sering berlibur seperti sekarang.
"Baiklah." Akhirnya Irma menyetujui persyaratan Andre.
Senyum lebar menghiasi wajah Andre begitu mendapat persetujuan si istri. "Istriku memang cerdas!" Ia mencium sekilas bibir Irma. "Kalau gitu, mari kita berangkat sekarang!"
***
Sepasang suami istri itu pun bersiap kembali melanjutkan petualangan liburan mereka dengan menjajal wahana yang kemarin belum terjamah karena mempertimbangkan kondisi Naura yang sedang hamil tua.
Dengan menaiki perahu dan dipandu instruktur snorkeling, Andre dan Irma menuju tempat snorkeling yang terletak di tengah laut dengan jarak satu kilometer dari bibir pantai.
"Indah sekali," gumam Irma, begitu mengagumi keindahan alam dari atas perahu dengan air yang begitu jernih. Berbagai keindahan tebing bebatuan di pinggir pantai pasir putih serta cagar alam dinikmatinya sembari mengarumi samudera.
"Terima kasih, Mas." Irma mengeratkan tangannya di lengan sang suami.
"Kembali kasih. Tapi, ingat jangan ingkar!" ujar Andre dengan alis yang sudah naik-turun dan langsung mendapat cubitan dari Irma.
'Tak apa dicubit berapa kali pun, yang penting bisa menang banyak!' gumam Andre dalam hati.
__ADS_1
Setiba di tempat yang dituju, dengan dipandu intruktur, Andre dan Irma yang sudah memakai peralatan lengkap menjeburkan diri ke air. Mereka menikmati keindahan biota laut dari kedalaman lima meter dari atas permukaan. Dua sejoli itu pun tidak lupa mengabadikan petualangan mereka dengan kamera underwater sebagai kenangan-kenangan yang tidak akan pernah terlupakan.
Tidak beda jauh dengan Nuara, istri seorang Andre pun telah dibuat kalap oleh spot-spot yang disuguhkan oleha pengelola wisata di sana. Hari Andre dan Irma dihabiskan untuk menjajah berbagai water spot, tanpa ada rasa lelah . Dari mulai water spot dengan level ektrem rendah sampai tinggi tak luput mereka coba, diantaranya banana boat, jumper donut dan water jump. Bahkan, wanita itu tidak mau kembali ke hotel sebelum hari gelap.
***
Dengan hanya dibalut handuk, Andre yang baru selesai mandi langsung menjatuhkan tubuhnya yang terasa sangat riksek ke atas ranjang. "Amazing, Mbak! Kamu itu kayak orang puasa ketemu ama lebaran," gumam Andre, mengingat kegilaan sang istri dalam menjajal apapun yang diinginkannya.
Irma hanya nyengir kuda, lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang sudah terasa kesat oleh air garam. Meninggalkan Andre yang masih setia menempelkan tubuhnya dengan kasur.
"Dua hari menikah kekaleman wanitaku tiba-tiba sirna." Andre menatap punggung Irma dengan senyum lebar, tingkah Irma seharian ini yang berani minta ini dan itu terus melekat di kepala lelaki itu. "Tapi, Sayang ... gaji sebulanku bakal habis dalam tiga hari kalau kau tiap hari se-ektreem tadi. Seharusnya dulu aku minta hadiahnya bukan tiket menginapnya saja, tapi sekalian sama biaya hidup selama di sini juga sekalian.' Lalu, ingatan Andre tertuju pada saat Dimas menanyakan ingin kado apa untuk pernikahannya dan Irma.
"Untung aku sayang kamu, Mbak. Mau gajiku abis sehari pun tak apa asalkan—" ucapan Andre menggantung dan malah senyum-senyum sendiri tak karuan.
Sembari menunggu sang istri menyelesaikan aktivitas di kamar mandinya, Andre pun memilih untuk bermain ponsel. Ia yang tak berniat keluar kamar hotel lagi, kemudian memesan makanan dari restoran di hotel yang di tempatinya.
"Mas, belum pakai baju?" tanya Irma begitu keluar kamar mandi dan mendapati suaminya yang masih berbalut handuk saja.
"Nanti juga dibuka lagi," jawab Andre santai dengan seringai lebarnya.
"Mas ...." Mengingat persyaratan Andre, membuat Irma langsung seperti kepiting rebus.
"Apa?" Andre menarik lengan wanita yang sudah berdiri di dekat ranjang, membuat Irma langsung jatuh ke atas tubuhnya. Mata mereka saling bertemu dengan wajah yang hampir menempel. "Enggak lupa sama janji tadi pagi, kan?" tanya Andre lagi.
Irma hanya menggeleng. Bagaimana ia lupa, kalau hampir setiap saat lelaki yang menjadi kasur hidupnya itu terus mengingatkan.
"Kalau gitu kita mulai dari sekarang," ucap Andre lagi.
"Sekarang?"
Andre tak menjawab, ia menarik tengkuk Irma untuk mendaratkan sebuah ciuman di bibir si istri dan tiba-tiba pintu kamar mereka ada yang mengetuk.
Momen terbaik untuk mengulur waktu. "Aku buka pintu dulu." Irma langsung bangun dan membuka pintu.
__ADS_1
"Ah ... dasar tamu tak berakhlak!" rutuk Andre.