Janda Cantik Milik Pak Polisi

Janda Cantik Milik Pak Polisi
90


__ADS_3

Andre duduk di samping Naura, mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut mantan suami Irma. Ia pun bernapas lega setelah mendengar semua cerita dari Ryan yang juga sesekali ditimpali Naura, membenarkan. Ketakutan si ibu hamil melakukan tindak kriminal itu tidak terjadi dan Andre tak perlu bertanggung jawab atas kematian kecoa yang disangkanya Ryan.


"Terus kenapa kamu memanggilnya kakak, sedangkan aku masih kamu panggil nama dan paling mentok panggil pak polisi?" tanya Andre kepada wanita yang masih asyik menikmati sepiring mi. Ada rasa iri di hati Andre saat mendengar Naura menyebut Ryan dengan sebutan kakak.


Naura menghentikan sendok yang hampir mendarat sempurna di mulut. Ia menoleh ke arah Andre, menatap lamat-lamat lelaki yang sebentar lagi akan berubah status menjadi kakak iparnya itu. "Apa kamu juga ingin aku sebut kakak?" tanya Naura penuh keseriusan.


Dengan antusias dan senyum yang mengembang, Andre mengangguk pasti, berharap Naura juga menyebutnya kakak.


"Tuntaskan dulu kerjaanmu. Buat Tante Rita mengerti dan menerima Kak Irma apa adanya seperti Tante Ambar yang juga menerima Kak Irma apa adanya meskipun dia tahu kebenarannya."


Naura membuang muka dan kembali fokus pada makanannya, sedangkan Andre membuang napas lesu. Tugas itu pasti sangat berat. Di hadapan Irma ia bisa berbicara semua akan baik-baik saja, tetapi kenyataannya tidak akan semudah itu mengingat sikap keras kepala sang mamah.


"Satu lagi. Aku masih pegang janjimu!" Naura kembali menoleh ke Andre dengan kedua alis yang naik turun dan spontan Andre langsung menunduk melihat sesuatu yang bakal jadi sasaran si calon adik ipar. "Sepertinya kamu masih ingat," lanjut Naura dengan senyum yang mengembang, tetapi terlihat seperti mengejek di mata Andre.


"Kak Ryan. tongkat bisbolnya buat aku satu, ya!" Naura mengalihkan pandangannya ke seberang meja dengan senyum yang masih mengembang.


"Udah hamil tua mau main bisbol?" tanya Ryan, keheranan.


Naura menggeleng. "Buat mecahin telor," jawab Naura enteng, lalu memasukkan sesuap mi ke dalam mulutnya. Tak lupa melirik sekilas Andre yang sedang menelan salivanya saat mendengar ucapan Naura.

__ADS_1


"Mecahin telor pake tongkat bisbol?" Yang satu dibuat merinding disko, sedangkan satu lagi dibuat kebingungan oleh ucapan Naura.


Naura hanya mengangguk, membuat Ryan semakin bingung.


"Ra bercandanya gak lucu. Udah tahu masalah ruwet, jangan malah nambah puyeng dong!" sela Andre, tetapi tak dihiraukan Naura. Hanya dibalas dengan seutas senyum yang sulit diartikan, senyum apa yang diberikan Naura untuk Andre.


'Aku hanya ingin kamu benar-benar memperjuangkan kakakku. Buatlah mamahmu menerima semua kehendak Tuhan itu. Aku yakin kamu pasti bisa.' Di dalam hati, Naura berharap sangat besar kepada lelaki di sampingnya itu.


'Sebenarnya telur apaan yang Ara maksud. Kenapa Andre terlihat sangat ketakutan?' Ryan yang sedari tadi memperhatikan keduanya, mulai merasakan ada yang janggal. Bukan sembarang telur yang sedang mereka bahas.


"Kak, tadi kamu mau menceritakan apa?" Naura mengalihkan pembicaraan. Mengingat beberapa saat sebelum ada kecoa, Ryan hendak berbicara serius.


"Itu apa?"


"Alvino bukan anak kandungku," ujar Ryan.


"Enggak aneh juga sih. Liat kelakuan mantan istrimu, aku bisa tebak dia bukan cewek baik-baik," timpal Naura.


"Masalahnya mau nikah sama siapapun kakak gak bakal punya anak. Kakak mandul," lanjut Ryan dengan suara yang semakin melemah. Kenyataan bahwa ia mandul sangat membuatnya sakit. Sekarang, ia bisa merasakan apa yang dirasakan Irma dulu. Kebodohan yang dulu dilakukan Ryan, bukannya memberi suport, ia malah mencaci maki Irma.

__ADS_1


"Hah! Apa?" Naura dan Andre kaget bukan kepalang.


Ryan pun menceritakan kenyataan yang baru diketahuinya dari Ambar. Sebuah kecelakaan di masa kuliah yang telah merusak organ vitalnya dan membuatnya tidak akan pernah memiliki keturunan.


Naura dan Andre mendengarkan cerita Ryan dengan seksama, mereka sampai menahan napas saat mendengar sebuah kenyataan yang baru saja terkuak. Prihatin akan nasib Ryan itulah yang Andre dan Naura rasakan. Akan tetapi, entah mengapa ada secercah cahaya yang tiba-tiba menerangi pikiran Andre. Bukannya ingin bahagia di atas penderitaan orang lain, tetapi ia merasa mendapat titik terang dari masalah yang sedang dihadapinya.


"Berarti yang selama ini mandul itu kamu bukan Irma?" tanya Andre dengan tak sabar.


"Ya." Ryan mengangguk lesu, seketika pula senyum Andre mengembang saat mendengar penuturan Ryan. "Ya, aku mandul, tapi surat keterangan tentang Irma juga benar adanya," lanjut Ryan.


Senyum Andre pun tiba-tiba memudar. Setelah melayang tinggi dengan kenyataan yang didapat, sejurus kemudian Andre dibawa terjun bebas dengan kenyataan lain. Ia berpikir masalahnya akan selesai saat itu juga, tetapi nyatanya tidak. Perjuangannya masih panjang.


"Aku yang mengantarnya periksa dan aku pun mendengar secara langsung kalau Irma juga memiliki kelainan di bagian reproduksinya. Dokter bilang, ia akan susah untuk mengandung. Jika pun bisa, kemungkinannya hanya satu persen. Dan karena ucapan dokter itu, aku terus mendoktrin Irma mandul. Apa bedanya satu persen dan nol persen, sama-sama tak ada peluang? Dan pada kenyataannya akulah yang nol persen." Ryan menatap Andre yang masih mencoba mencerna semua ucapannya.


"Mungkin karena kondisi itu pula mamah dan papah tak pernah mempermasalahkan Irma yang tidak bisa mempunyai anak. Malah mereka tampak sangat bahagia karena mereka berpikir kalau dua-duanya tak bisa bereproduksi, kemungkinan untuk mendua karena masalah anak tidak akan terjadi. Namun, pada kenyataannya aku malah mengecewakan semua orang. Aku yang mandul dan aku yang malah dengan teganya mengkhianati wanita sebaik Irma." Terlihat jelas gurat penyesalan di wajah Ryan. "Aku yakin kamu bisa membahagiakannya. Ingat masih ada satu persen yang bisa kalian perjuangkan! Semoga saja mamahmu juga bisa menerima dan mau berjuang bersama kalian. Irma sudah lama menderita sudah saatnya ia bahagia," lanjutnya.


"Terima kasih atas infomarsinya, pengakuanmu sangat membantuku. Aku berjanji akan terus memperjuangkan Irma sampai detik darah penghabisan," ujar Andre penuh keyakinan.


Setidaknya pengakuan Ryan sedikit bisa membantunya, meskipun mungkin tidak akan terlalu berperngaruh. Karena mungkin mamahnya pun akan berpikir sama dengan Ryan dulu. Nol persen dan satu persen itu tidak ada bedanya.

__ADS_1


"Aku gak tahu harus ngomong apa. Ini terlalu mengejutkan untukku. Untung saja si debay enggak mendadak minta brojol karena kejutan-kejutan yang didapat hari ini." Naura yang masih melongo juga ikut menimpali. "Mending abisin mi aja deh, ya, De!" lanjut Naura kepada si bayi sambil memasukkan suapan terakhirnya ke mulut.


__ADS_2