
Seorang wanita dengan menggunakan kacamata hitam sedang berdiri di tepi jalan, tepatnya di depan pusat perbelanjaan. Ia yang menenteng beberapa paperbag tampak sedang menerima sebuah panggilan. Raut wajahnya beberapa kali berubah. Sesekali ia membentak si penelepon, tak terima dengan ucapan seseorang di seberang sana. Sejurus kemudian ia meraung-raung dengan penuh tangis, meminta maaf. Orang-orang yang melintas pun hanya melirik sekilas ke arahnya dengan tatapan sejuta tanda tanya. Ada yang kasihan, ada yang mengejek, bahkan ada yang mengira ia orang gila.
"Mas kamu tak bisa berbuat seperti itu kepadaku?" ucapnya begitu lirih.
"Aku mohon, Jangan lakukan itu! Tarik semua ucapanmu. Aku mencintaimu dan kamu pun juga mencintaiku. Aku tahu kamu kesal padaku, aku minta maaf. Mari, itu bicarakan semuanya baik-baik." Ia terus merengek, tetapi orang di seberang telepon tetap pada pendiriannya. Hingga, panggilan terputus pun si penelpon tak mengubah keinginannya, membuat si penerima telepon begitu frustrasi.
Ia berteriak sekencang-kencangnya. Suaranya menggema bercampur dengan kebisingan kendaraan yang lalu lalang dengan air mata yang terus mengalir dari kedua matanya. Sedih, kesal, benci, semua perasaan campur jadi satu. Hingga, ekor matanya tertuju pada seseorang di seberang jalan yang baru saja turun dari mobil dan masuk ke sebuah kedai baso.
"Ini semua pasti gara-gara kau! Kau harus membayar mahal semua ini." Wanita itu mengusap kasar air mata yang masih mengalir. Rahangnya mengeras, darahnya pun mendidih. Dengan sebuncah amarah, ia menyeberang jalan tanpa memedulikan kendaraan yang sedang melintas. Bahkan, para pengemudi sampai mengumpat karena harus berhenti mendadak untuk menghindari kecelakaan dengan klakson yang berbunyi nyaring.
"Dasar, G*la! Kalau nyebrang pake mata. Mau mampus, lu!" bentak si pengemudi yang jarak mobil dengan tubuh Elsa hanya tiga puluh centimeter. Telat menginjak rem sedikit saja, pasti Elsa sudah terkapar di jalanan.
Namun, tak sedikit pun umpatan itu dihiraukan oleh wanita yang tak lain adalah Elsa. Ia hanya peduli kepada orang yang masuk ke kedai dan ingin segera memberi pelajaran kepadanya.
Dengan segudang amarah, Elsa memasuki kedai baso. Mata elangnya memindai setiap sudut tempat itu, tanpa memedulikan pelayan yang menyapanya. Dan ekor matanya melihat Irma yang sedang duduk di tempat lesehan, berada di paling ujung kedai tersebut.
"Dapat kau!" Senyum jahat tersungging dari bibir merah Elsa, lantas menyeret kakinya menghampiri Irma. Tangan yang habis meni-pedi itu sudah gatal ingin mecakar wajah Irma. Apalagi saat melihat Irma yang sedang tertawa bahagia membuat Elsa semakin meradang. Wanita itu pun meraih segelas teh manis dari meja yang dilewatinya. Protes dari si pemilik teh, tak dipedulikan, pandangannya lurus menatap Irma yang berada beberapa langkah di hadapannya.
__ADS_1
"Dasar Janda mandul tidak tahu diri!" teriak Elsa sambil menyiramkan segelas teh manis ke wajah Irma, membuat Irma tersentak. Begitu pun dengan keluarga dan orang-orang di sana. Mereka jadi tontonan gratis pengunjung di sana.
"Sayang, kamu tidak apa-apa?" Rita yang duduk di samping Irma langsung mengambil tisu dan membersihkan wajah Irma.
Irma hanya menggeleng, lalu menatap Elsa yang sedang menatap tajam ke arahnya.
"Dasar wanita tak tahu diri! Kau beri mantra apa suamiku hah?! Sudah dibuang pun masih berlagak. Dasar tak tahu malu!" teriaknya lagi sambil mengambil air yang ada di meja lesehan, hendak menyiram Irma lagi.
Ahmad yang duduk di dekat Elsa pun langsung berdiri dan merebut gelas itu dari tangan Elsa. "Jika ada masalah bicarakanlah dengan baik-baik! Silakan duduk. Tidak perlu dengan teriak-teriak apalagi dengan kekerasan," ujar Ahmad dengan santai. Lelaki itu memang tak dapat diragukan lagi dalam mengendalikan emosinya.
Elsa melirik lelaki yang sudah merebut gelas di tangannya. "Apa aku harus berbicara baik-baik kepadanya?" tanyanya dengan begitu sombong sambil menunjuk Irma. "Cih! Tak sudi aku. Dia tak pantas diperlakukan baik." Ia membuang muka seraya meludah.
Ketika dirinya di perlakukan tidak baik, Irma masih bisa berbuat tenang. Akan tetapi, melihat Elsa berbuat tak sopan kepada ayah mertuanya, Irma tak terima. "Apa kamu tak bisa membedakan adab berbicara dengan orang tua? Orang di sampingmu itu orang tua, sopan dikit napa?" ucap Irma yang juga sudah berdiri, membuat ia dan Elsa saling berhadap-hadapan.
"Aku tak mengajaknya bicara karena aku ke sini hanya untuk memberi pelajaran untukmu yang telah merebut suamiku!" hardik Elsa.
"Apa tidak salah berbicara? Bukankah kamu yang telah merebut suamiku hingga akhirnya pernikahanku berakhir di meja hijau?"
__ADS_1
"Jadi, karena aku telah merebutnya dan sekarang kau mau merebut dia kembali, hah? Jangan harap kau bisa melakukannya! Aku tidak akan membiarkan itu terjadi."
"Aku bukan orang yang suka menjilat lidahku sendiri. Untuk apa mengambil sesuatu yang telah kubuang. Apalagi, hanya penderitaan yang kudapat dari sesuatu itu. Jadi, meskipun suamimu berlutut meminta kembali kepadaku, kamu tak perlu khawatir aku tak akan menerimanya. Tak perlu kamu membuat sandiwara seperti ini yang malah akan membuat dirimu malu sendiri."
Adu mulut dari keduanya pun tak dapat dielakkan, sehingga mereka menjadi tontonan gratis orang-orang di sana. Elsa juga mengungkit pertemuan antara Irma dan Ryan. Ketiga orang tua di sana sudah mencoba melerai, tetapi tak kunjung usai karena Elsa yang terus memancing perdebatan itu.
"Perkataanmu bulsyit semua. Nyatanya Ryan menggugat ceraiku dan aku yakin itu karena ulahmu. Kau pasti telah menggodanya, atau kau pasti telah memberikan mantra-mantra pada Ryan. Iya, kan?"
Cerai? Ungkapan Elsa membuat Irma terperanjat. Ia tak menyangka lelaki yang begitu mengagungkan Elsa, tiba-tiba saja menggugat cerai wanita di hadapannya. Apa penyebabnya? Lalu, kenapa Elsa malah menuduhnya yang tidak tahu apa-apa sebagai penyebabnya. Belum sempat Irma membalas ucapan Elsa, Rita sudah kebakaran jenggot.
"Cukup!!! Kau tak bisa terus memojokkan menantuku. Ketika pertemuan itu aku ada di sana dan tidak ada terjadi apa-apa. Kami hanya bertemu secara tidak sengaja. Kamu tak perlu khawatir menantuku tak akan merebut suamimu karena sebentar lagi Irma akan menikah dengan anakku." Rita yang mulai mengerti siapa wanita yang mencaci maki Irma itu pun angkat bicara.
Elsa juga dibuat terperanjat dengan ucapan Rita, tetapi dengan segera ia mengendalikan diri. "Menikah? Apa kau yakin akan menikah?" tanya Elsa kepada Irma dengan nada menyindir.
"Iya. Bukankah itu bagus? Jadi kau tak bisa memojokkan menantuku lagi," ujar Rita yang semakin kesal karena Elsa terus memojokkan Irma.
"Apa Tante yakin akan menjadikan wanita mandul ini sebagai menantumu? Apa Tante ingin memuat masa depan kehidupan anak Tante suram karena tak bisa memiliki anak?" tanya Elsa lagi, dengan senyum jahat yang tersungging di bibirnya. Ia yakin, bisa membuat Irma kalah telak dengan ucapannya.
__ADS_1