Janda Cantik Milik Pak Polisi

Janda Cantik Milik Pak Polisi
46


__ADS_3

Waktu terasa sangat cepat berlalu. Keluarga Andre yang begitu menyayangi Irma, membuat wanita itu belum rela tuk berpisah dengan seluruh keluarga di rumah itu. Belum lagi, keponakan-keponakan Andre yang jumlahnya mendekati angka kesebelasan sepak bola, membuat hari Irma yang notabennya menyukai anak kecil, menjadi semakin berwarna.


"Aku kira Mas itu cuma omdo waktu bilang sepupumu banyak," ujar Irma di hari terakhir dirinya di sana, saat ia sedang memberi makan si kembar yang baru berusia dua tahun. Sementara itu, Andre sedang bermain mobil-mobilan dengan Zidan—kakak si kembar yang usia hanya terpaut satu tahun setengah.


"Emang sejak kapan aku hanya omong doang?" Andre menoleh ke arah Irma sembari menaik-turunkan kedua alisnya.


Wanita itu hanya menggeleng dengan senyuman yang tertampil di bibirnya. "A ... a ... lagi, Sayang!" Irma mengarahkan sendok berisi cake ke mulut Za, salah satu anak kembar yang disuapinya.


Za pun dengan riangnya membuka mulut, tangan mungilnya pun tak berhenti bergerak ingin meraih sendok itu saat Irma memainkan sendoknya layaknya pesawat-pesawatan.


"Nyam." Tiba-tiba cake di sendok untuk Za di serobot Andre. "Cake buatan Ateu enyak, makin enyak  kalena makannya di suapin," ucapnya dengan nada seperti anak kecil, ketika cake itu masuk ke dalam kerongkongannya.


"Mas itu cake untuk Za," protes Irma atas kelakuan lelaki di hadapannya.

__ADS_1


"Kenapa Za aja yang disuapin? Sekali-sekali aku juga mau disuapin," jawabnya tanpa rasa bersalah, lalu mengambil mobil-mobilan Zidan di bawah meja makan Za.


Sementara itu, Za yang sudah membuka mulut, mendapati makanannya diambil oleh om-nya langsung menangis. "Hwwaaa ...." Tanpa bisa direm, suara nyaringnya melengking keras  dengan air mata yang mulai membasahi pipi mungilnya. "Anan ntu lik Za. Om, jaat! Ana ue Za. Za au ue," cicit anak kecil yang masih belajar bicara itu, saat makanan dirampas oleh om-nya.


"Tuh, kan nangis. Kamu sih!" Irma menyalahkan lelaki di hadapannya. "Cup-cup, Za, Sayang jangan nangis ya! Ateu ambilin lagi kuenya, ya!" Irma mencoba menenangkan Za yang tangisan semakin menjadi.


"Za au ue ... Za au ue ... hwwaaa ...."


"Iya, Sayang, Ateu ngambil dulu, ya! Kue di sini udah abis," Irma menunjukkan wadah yang sudah kosong kepada Za.


"Za au ue ... Za au ue ...."


"Zo au ue... Zo au ue ...."

__ADS_1


"Ya, ampun. Kenapa malah dua-duanya menangis?" Irma dibuat kebingungan oleh anak kembar yang sedang konser itu. Ia pun meraih Za dari kursi makan dan menggendongnya, membujuk anak kecil itu tuk tak menangis lagi. "Mas, bujuk Zo, ya!" pintanya kepada Andre.


Andre pun menurut. "Memangnya nih bocah pada ngomong apa?" Tanpa rasa bersalahnya, Andre malah bertanya apa yang diucapkan sepupunya.


"Mereka pada minta kue. Kamu sih ambil makanan Za, mana itu cake terakhir. Eh, Zo yang lagi anteng pun malah kesetrum juga." Irma mengerucutkan bibirnya, kesal dengan kelakuan lelaki yang masih memakai baju olahraga itu.


"Jangan sampai tantenya juga ikut kesetrum. Aku belum bisa menggendongnya, nanti kena ceramah Pak Ustad, " goda Andre sembari memamerkan rentetan gigi putih miliknya. Bagi lelaki itu ekspresi Irma lebih menggemaskan daripada anak kembar yang ada dalam gendongannya.


Irma mencebik saat mendengar Andre yang tak bosannya menggoda, bahkan di hadapan  anak kecil sekali pun. Ajaibnya, Za langsung berhenti menangis saat Irma sudah menggendongnya, begitu pun dengan Zo. Namun, keduanya akan menangis lagi saat om dan tantenya menurunkan mereka. Terpaksa, Andre dan Irma menggendong anak kembar itu sampai mereka puas.


Namun, sepertinya mereka melupakan sesuatu. Mereka tidak sedang menjaga dua anak, tetapi tiga anak. Dua anak anteng di dalam gendongan mereka, tiba-tiba terdengar  lagi suara tangis dari jarak beberapa langkah dari mereka.


"Hwwwaaa ... Om mobil Zi ilang atu!" Kakak si kembar menangis karena mobil-mobillannya tidak ada satu.

__ADS_1


"Ya, ampun." Andre dibuat tepuk jidat oleh kelakuan anak-anak kakaknya. "Nyesel aku buat yang satu menangis, sekarang kayak yang lagi pentas saja."


Kira-kira Zo dan Za ngomong bahasa planet mana, ya? 🤭🤭🤭


__ADS_2