
8
Di tengah kegelapan malam, di jalanan sepi dengan pencahayaan yang sangat minim, Friska terpaksa mendorong sepeda motornya. Tidak ada satu pun kendaraan atau pun orang yang lewat yang bisa dimintai tolong. Semakin jauh mendorong, jalanan yang dilewati semakin sepi dan gelap, hingga tanpa terasa bulu kuduk Friska berdiri semua.
"Mestinya tadi gue tidak lewat jalan sini! Setidaknya meskipun kehabisan bensin gak gini-gini amat." Friska merutuki dirinya sendiri.
Jalanan yang dilewati Friska saat ini, bukanlah jalan utama. Ia sengaja memotong kompas agar lebih cepat sampai di rumah. Namun, bukannya cepat sampai yang ada malah kebalikannya, Friska malah terjebak di jalanan sepi itu.
"Ya, Tuhan. Berikan hamba-Mu malaikat penolong!" Gadis itu memanjatkan doa, berharap ada seseorang yang mau menolongnya. "Tempat ini mengerikan sekali. Aku berjanji, jika ada wanita yang menolongku, dia akan kujadikan saudara. Jika lelaki yang menolongku, jadi istrinya pun aku rela … asal aku bisa keluar dari jalanan ini dengan cepat."
'Eh, ngapain gue doanya kayak gitu? Gimana kalau aki-aki peot yang nolongin gue?' Sejurus kemudian, ia tersadar dengan apa yang diucapkannya, "Ih, amit-amit …." membuat Friska semakin bergidik ngeri kalau yang menolongnya benar-benar aki-aki peot. 'Daripada buat janji gak jelas kayak gitu, lo itu mending baca doa yang bener." Friska menasehati dirinya sendiri.
Sambil terus mendorong motor, Friska pun terus melafalkan surat-surat pendek dan ayat kursi untuk menghilangkan sedikit rasa ketakutannya yang semakin menyeruak. Suara-suara hewan malam yang bersahutan membuat Friska sport jantung. Jalan pintas yang dilaluinya merupakan jalan yang membelah hamparan sawah dengan hutan karet di sisi lainnya, membuat gadis itu beberapa kali mendengar suara burung hantu dan hewan malam lainnya yang membuat bulu kuduk merinding.
"Gue mau nangis aja!" Friska mulai frustrasi dengan nasib sialnya saat ini. "Tapi kalau nangis entar ada yang niru tangisan gue, makin berabe!" ujarnya lagi, mengingat kisah-kisah horor yang pernah ditontonnya.
Di tengah kefrustrasian yang melanda, tiba-tiba Friska melihat sebuah cahaya yang semakin mendekat. Senyum pun langsung tertampil saat seunit mobil berjalan ke arahnya. Dengan segera, Friska menstandarkan motornya, lalu melambai-lambaikan tangannya ke arah kendaran itu—meminta kendaraan tersebut menepi.
"Permisi! Maaf mengganggu, bisa minta sedikit bantuannya?" Friska mengetuk jendela mobil, saat mobil itu berhenti.
Si pemilik mobil pun langsung menurunkan kaca mobilnya, dan betapa terkejutnya Friska melihat siapa yang ada di dalam mobil tersebut. "Kak Ryan!" ucapnya, antara senang dan tidak percaya campur menjadi satu. Lagi dan lagi, ia dipertemukan dengan lelaki itu.
Sementara itu, si pemilik mobil malah terlihat bingung. "Kamu mengenalku?" tanya Ryan, karena ia sama sekali tidak mengenal Friska.
Friska mengangguk. "Memangnya kakak tidak mengenalku?" tanya Friska dan langsung dijawab gelengan oleh Ryan. Ada rasa sedikit kecewa di hati Friska saat lelaki itu sama sekali tidak mengingatnya, padahal mereka pernah dikenalkan oleh Irma saat hari pernikahan Irma.
Akan tetapi, kekecewaan itu dengan cepat ia sembunyikan dengan senyum tipis yang Friska tampilkan. "Yah, sayang sekali berarti kakak maennya kurang jauh. Padahal Pak Presiden saja ...."
"Apa Pak Presiden juga mengenalmu?" potong Ryan.
"Kagak." Friska menggeleng dengan senyum yang semakin merekah dan hampir meledak. "Maksudku tuh Padahal Pak Presiden saja sama kagak mengenalku," tawa Friska pecah, setelah beberapa menit ia habis dilanda ketakutan yang mencekam.
"Ish ...." Ryan mencebik.
__ADS_1
"Ketawa atuh, Kak! Aku lagi melucu, lho!"
"Tidak lucu," tandas Ryan.
"Pura-pura lucu, kek. Menghibur orang yang sedang ketakutan itu ibadah, lho," lanjut Friska lagi.
"Bukankah kamu yang tadi di minimarket? Apa menghentikanku hanya untuk mengobral kata-kata gak lucu tadi?" Ryan yang masih dalam keadaan bad mood menyipitkan sebelah matanya.
"Nah, itu ingat. Seratus untukmu!" Friska mengacungkan kedua jempolnya. "Bukan, buat apa berhentiin orang buat ngelucu doang. Kalau mo ngelucu mending di panggung stand up, ngapain di tempat angker kayak gini?" sangkal Friska.
"Lalu?"
"Pertama-tama maaf sudah merepotkan, tapi aku mau merepotkan lagi. Bolehkan?" lanjutnya dengan wajah yang memelas.
"Apa yang bisa kubantu?" tanya Ryan datar. Ia masih belum sepenuhnya bisa meredam emosi yang dibuat oleh Elsa.
"Motorku kehabisan bensin. Boleh minta tolong derekin ampe nemu tempat bahan bakar, tidak?" pinta Friska.
Ryan tidak menjawab, tetapi ia langsung memajukan mobilnya kembali.
Namun, mobil itu tetap melaju. Hilang sudah harapan Friska untuk segera sampai ke jalan utama. Gadis itu mengembuskan napasnya dengan kasar dan kembali ke motor. "Nasibmu hari ini memang sangat sial, Fris!" Friska mendorong lagi motornya.
"Jadi diderek, gak? Atau mo didorong sampe rumah?" tanya Ryan yang sudah berada di luar mobil dengan tambang di tangan. Ujung bibirnya sedikit terangkat saat melihat Friska yang terlihat frustrasi.
Friska mendongak dan betapa bahagianya saat melihat lelaki itu tidak pergi. Dengan cepat, Friska langsung mengangguk.
Ternyata Ryan melajukan mobilnya bukan untuk meninggalkan Friska, tetapi supaya mobilnya berada di depan motor Friska dengan sedikit berjarak. Lelaki itu pun lantas mengikat tambang pada mobil dan pada motor Friska.
"Motor ini?" Ryan terasa sangat familiar dengan motor yang dibawa Friska, tetapi saat ini ia enggan untuk bertanya.
Motor Friska pun ditarik oleh mobil Ryan sampai menemukan sebuah tempat pengisian bahan bakar. Setiba di sana, Ryan langsung meminta pegawai SPBU untuk mengisi bahan bakar motor Friska sampai penuh.
'Eh, gimana gue bayarnya? Mana mau pegawai SPBU dibayar pake coklat? Kenapa gak berhenti di tempat jualan bensin eceran aja sih?' Setelah menemukan SPBU, Friska dipusingkan dengan cara membayarnya.
__ADS_1
"Semuanya jadi empat puluh dua ribu, Mbak," ucap si pegawai.
"Empat puluh dua ribu, ya? Em ... em ... bagaimana kalau—"
"Ini uangnya, Mas!"
Friska yang hendak bernegosiasi untuk barter dengan cokelat langsung dipotong Ryan yang memberikan uang selembar seratus ribu.
Si pegawai pun dengan segera menerima dan memberikan kembaliannya. "Mbak-nya tadi mau ngomong apa?" tanya si pegawai yang mengingat ucapan Friska terpotong oleh Ryan.
"Tidak ada." Friska menggeleng sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Terima kasih, Mas," lanjutnya dengan senyum kikuk, lalu membawa motornya karena masih ada pengendara lain yang hendak mengisi juga.
Sementara itu, Ryan hanya tersenyum tipis melihat tingkah gadis yang sudah dua kali ditolongnya. Ia sengaja tidak langsung meninggalkan Friska, mengingat gadis itu tidak membawa dompet.
"Mobilku terparkir di sana!" Ryan menunjuk sebuah mobil putih yang diparkir beberapa meter dari tempat pengisian.
Friska mengangguk, lalu mengikuti kemana Ryan berjalan.
"Terima kasih, Kak. Sudah menolongku berkali-kali. Aku sangat berhutang budi padamu," ucap Friska begitu sampai di dekat mobil Ryan.
"Kau pasti haus, minumlah!" Bukannya menjawab, Ryan malah menyodor sebotol minuman yang tadi dibeli di minimarket.
Meskipun sungkan, Friska menerima dan meminumnya.
"Kak, sekali lagi terima kasih."
Ryan yang juga sedang minum hanya mengangguk.
"Kamu dari tadi menyebutku kakak, apa kita pernah bertemu sebelumnya selain di mini market tadi?" tanya Ryan. Salah Satu alasan, Ryan tidak meninggalkan Friska di SPBU karena Ia sangat penasaran, kenapa gadis itu mengetahui namanya dan juga Friska memakai kendaraan milik Irma.
Friska pun mengangguk pelan. "Aku adik iparnya Kak Irma. Kita pertama kali bertemu saat Kak Irma nikahan. Kak Ryan pasti lupa, ya? Gue maklum kok, gue kan bukan orang terkenal. Eh, salah, aku maksudnya." Friska tersenyum kikuk saat keceplosan menggunakan kata 'gue'.
"Tidak apa seenaknya saja bicaranya, aku gak masalah. Tapi, maaf aku benar-benar lupa. Aku tidak bermaksud melupakan pertemuan pertama kita," ucap Ryan penuh sesal.
__ADS_1
"Kenapa harus minta maaf? Tidak ada yang spesial di pertemuan pertama kita, jadi wajar kalau kurang ngena di hati," timpal Friska.
Ryan hanya tersenyum. Keduanya pun mengobrol cukup lama di area SPBU, hingga Friska pamit untuk pulang karena Andre pasti sudah menunggunya sejak tadi.