Janda Cantik Milik Pak Polisi

Janda Cantik Milik Pak Polisi
49


__ADS_3

Cukup lama dua sejoli itu saling memandang, tanpa ada kata yang terucap. Lewat mata, keduanya saling menyelami perasaan pasangan masing-masing.


Hingga, akhirnya Irma memilih tuk menyetujui ucapan Andre. Asalkan ada Andre di sisinya, ia yakin semuanya akan terasa lebih mudah.


"Berarti masalah selesai. Jangan pernah memikirkan lagi hal itu lagi. Tak perlu beandai-andai, apalagi mendengarkan obrolan oranglain yang tak penting. Cukup dengarkan kata-kata cinta dariku saja," ujar Andre, setelah keadaan Irma semakin membaik.


Wajah yang masih dalam tangkupan Andre pun mengangguk, mengiakan, dengan seutas senyum yang kembali tertampil.


"Nah, gitu dong!"


Andre menarik tubuh Irma ke dalam pelukkannya. Kekasihnya itu terlalu sensitif dan rapuh, membuat ia harus selalu bisa menguatkan wanita itu. Namun, ada satu yang Andre senang dari kerapuhan Irma, ia bisa memeluk wanita itu tanpa penolakan.


"Boleh lanjut perjalanannya?" tanya Andre lagi.


"Apa kita belum sampai? Aku kira kita sudah sampai."


"Belumlah. Apa yang mau aku tunjukkan di sini?


"Noh!" Irma menunjuk pohon besar di atas mereka.


"Ya, Tuhan. Apa dari tadi kita jadi penghuni pohon beringin?" Andre baru tersadar jika ia menghentikan motornya di dekat pohon beringin besar.

__ADS_1


Irma hanya tersenyum, sembari kembali menutup sebagian wajahnya menggunakan masker.


"Akhirnya, senyum itu datang lagi. Kalau Ara tahu kamu menangis, bisa ancur aku sama dia."


"Jadi kamu membujukku jangan menangis, hanya karena takut sama Ara?" Irma memicingkan sebelah matanya. "Jahat kamu, Mas." Ia menghadiahi cubitan di perut Andre.


Bukannya merintih kesakitan, lelaki itu malah tertawa menahan geli. Sampai sebuah suara menghentikan tawa Andre.


"Dasar anak jaman sekarang masih pagi udah pacaran aja, di tempat sepi pula. Kenapa gak minta dikawinin aja sama emak-bapaknya daripada jadi fitnah sana sini." Tiba-tiba ada dua orang wanita yang melintasi mereka seraya bergunjing dan ternyata mereka cukup lama berada di sana, melihat Andre dan Irma saling berpelukkan.


Irma yang mendengar pergunjingan mereka pun langsung berhenti mengelitiki Andre dan sedikit menjauh.


"Ah, dasar si emak kayak yang gak pernah muda aja. Cuma pelukkan doang, enggak ngapa-ngapain, Mak. Lagian kami juga tak melewati batas. Cuma meluk doang gak bakalan jadi kayak balon. " Andre yang kenal orang yang menyeletuk itu, spontan langsung menjawab. Ada kesal atau dendam kesumat kepada dua orang yang melintas itu. Apalagi, kepada wanita yang sedang membawa sepeda dorong yang di dalamnya duduk anak berusia dua tahunan. "Yang penting kagak cekdung duluan!" lanjut Andre dengan sinis, membuat dua orang di sana saling memandang, seakan-akan ucapan itu adalah sindiran kepada salahsatu dari mereka.


"Enggak sopan gimana? Yang gak sopan itu bicara tanpa ngaca sama diri sendiri. Ayo, kita pergi!" Andre kembali menaiki sepeda motornya dan mengajak Irma tuk melanjutkan perjalanan mereka.


Sementara dua wanita itu masih saling tatap. Keduanya merasa tak asing dengan suara lelaki di balik masker itu. Hingga, Andre mulai melajukan kendaraannya salahsatu dari mereka mengingatnya. Wanita yang mencibir tadi pun memanggil nama Andre, tetapi sayangnya Andre sama sekali tak peduli.


"Kalau boleh kutebak, salahsatu dari mereka adalah mantan laknatmu itu, ya?"


Andre tak pernah menyembunyikan apapun dari Irma, bahkan masalalunya pun tak luput diceritakannya kepada Irma. Ia tak mau suatu hari hubungan yang sudah terjalin rusak karena kisah masalalu.

__ADS_1


Hari ini, Irma melihat ekspresi Andre yang biasanya tak pernah tidak sopan kepada orang lain tiba-tiba begitu sinis, membuat Irma langsung bisa menebak siapa wanita yang mereka temui.


"Ah, tak penting ngapain ngurusin orang gak jelas kayak mereka. Mending kita ngurusin itu!" tujuk Andre, pada tempat yang ingin ia tujukkan, tetapi malah tersangkut di bawah pohon beringin.


"Kamu, ngajak aku ke mana?"


Irma begitu takjub dengan pesona alam ciptaan Tuhan yang sangat memukau itu. Ternyata semakin tinggi Andre membawanya, semakin indah pula pemandangan yang didapatnya.


"Ke atas awan. Aku mau ngajak kamu terbang melihat hamparan kebun teh dari atas. Mau?"


Melihat dari atas puncak saja sudah begitu indah, apalagi kalau bisa menyaksikannya sembari berkeliling. Tanpa pikir panjang lagi, Irma pun langsung mengangguk.


Lelaki itu membawa Irma ke tempat tertinggi di tempat kelahiran Andre dan mengajak Irma mengitari tempat kelahiranya dari atas ketinggian menggunakan paralayang. Memanjakan mata sang kekasih dengan keindahan alam yang Tuhan ciptakan. Andre selalu berhasil menggantikan air mata Irma yang tumpah dengan sejuta senyum kebahagian yang tertampil di bibir wanita itu. Tak ada tangis lagi di mata Irma, hari terakhir mereka di sana dipenuhi dengan senyum terus terukir.


"Pulang dari sini langsung ke KUA, ya!" bisik Andre saat keduanya berada di atas ketinggian. "Will you merry me?"


"Hah?" Bukannya tak mendengar, Irma ingin mendengar lagi ajakan Andre.


Andre tak menjawab, ia malah meraba saku trainingnya tapi tak menemukan sesuatu. "Sialan ketinggalan," rutuk Andre.


"Apa yang ketinggalan?"

__ADS_1


"Niat hati mau melamarmu di atas paralayang. Cincinnya malah ketinggalan," ujar Andre. Kesal pada dirinya sendiri, momen yang sudah ia rencanakan sebelum pulang kampung pun menjadi ambyar.


"Tanpa cincin pun, aku mau kok nikah sama kamu. Yang penting hatinya kagak ketinggalan."


__ADS_2