
Wajah Andre berubah panik saat melihat Irma tidak ada di sampingnya, bahkan ia sampai mengacak-acak rambutnya sendiri—bisa-bisanya ia meninggalkan calon istrinya yang entah ada di mana. Ia pun lantas keluar dari butik, memastikan kalau dirinya ke tempat itu bersama Irma.
"Dia di mana? Enggak ketinggalan di toko kue, kan?" tanya Andre lebih ke dirinya sendiri.
Ia yang sudah ada di luar, mengedarkan matanya ke sekitar, tetapi tak melihat keberadaan Irma. Hanya kendaraan yang terparkir dan beberapa orang keluar masuk salon dan batik yang dilihat Andre, tetapi tidak ada Irma diantara mereka.
"Apa iya, beneran ketinggalan di toko?" Andre menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Masa sih? Perasaan tadi dia nemplok di belakang," ujarnya lagi, mengingat Irma benar-benar sudah naik ke atas motor, bahkan wanita sempat mencubit perutnya saat meminta Andre mengurangi kecepatan laju motor. "Lalu dia ke mana?" Ia malah semakin bingung.
"Telepon. Kenapa kagak keingat buat hubungi dia?" Andre pun merogok ponselnya, lalu mendial nomor yang ia namai 'Janda Cantik Milik Andre'. Tak perlu menunggu lama panggilan pun tersambung. Andre langsung memberondong orang di seberang ponsel dengan seribu pertanyaan, tanpa titik dan koma.
"Maaf, Kak. Kakaknya sedang muntah-muntah," jawab seseorang dari ponsel Irma.
"Muntah di mana? Ini siapa?"
"Kakak di mana? Kakak yang punya hape deket motor merah," jawabnya lagi dan terdengar suara Irma yang masih mengeluarkan isi perutnya, membuat Andre semakin khawatir.
__ADS_1
Motor merah adalah motor miliknya, berarti Irma masih berada di dekat motor. Namun, karena motornya terhalang mobil box, Andre yang sejak tadi mengedarkan pandangannya tidak bisa melihat keberadaan Irma.
Dengan segera, Andre menuju tempat di mana motornya diparkirkan, betapa terkejutnya ia melihat Irma sedang jongkok dengan tangan memegang kresek dan sebagian wajahnya masuk ke dalam kresek kecil itu. Di sana juga ada seorang anak kecil yang sedang memijat tengkuk Irma.
"Mbak Say, kamu kenapa?" tanya Andre melihat Irma yang sudah penampilannya sudah tak karuan.
Irma hanya menoleh ke arah suara, tanpa menjawab apa pun. Wajahnya terlihat pucat, bahkan keringat dingin sudah bercucuran dari sana. Mulut Irma masih ingin mengeluarkan sesuatu yang membuat perut Irma terasa dikocok-kocok, tetapi tak ada lagi yang keluar.
"Minum, Kak!" Anak kecil yang sedari tadi membantu Irma menyodorkan air dagangannya yang sudah ia buka tutupnya.
"Terima kasih." Irma meraih air itu, sebagian air digunakan Irma untuk kumur-kumur serta membasuh muka dan sebagian kecilnya ia teguk habis. "Terima kasih sudah membantu, kakak!" ujar Irma lagi, begitu terasa sedikit membaik.
"Enggak usah. Biar kakak yang membuangnya. Sekali lagi terima kasih, ya!" Irma meraih keresek yang hampir diambil anak kecil itu, lalu ia mengambil selembar uang dan memberikannya kepada anak yang sudah rela menolongnya di saat calon suaminya malah ngeloyor masuk ke butik tanpa memedulikannya yang sudah tak berdaya oleh ulah lelaki itu.
"Kak, air mineralnya cuma sepuluh ribu, ini kebanyakkan." Anak itu menolak uang seratus ribu yang Irma berikan.
__ADS_1
"Enggak kebanyakkan, ambil ya! Buat jajan. Sekali lagi, makasih udah bantu kakak." Irma memberikan uang itu lagi.
Akhirnya anak itu pun menerima pemberian Irma, lalu pamit dari sana untuk kembali menjajalkan tisu dan air mineral. Sementara itu, Andre yang semenjak tadi dianggurkan Irma mencoba mencerna apa yang terjadi.
"Mbak Say, apa yang terjadi? Aku nyari-nyari kamu dari tadi, kenapa malah duduk di sini?" ujar Andre sembari jongkok di samping Irma.
Irma kembali melirik Andre, lalu membuang muka. Bisa-bisanya Andre malah bertanya apa yang terjadi dan mempertanyakan alsan Irma duduk ngegepor di parkiran. Ingin rasanya Irma melempar isi kresek di hadapannya ke muka si calon suami. Namun, Irma tidak setega itu. Ia lebih memilih membersihkan wajahnya dengan tisu serta merapikan rambut yang sudah seperti sarang elang, tanpa memedulikan Andre yang masih melontarkan berbagai pertanyaan. Irma masih sangat kesal kepada lelaki di sampingnya itu, bisa-bisanya Andre mengendarai motor dengan kecepatan yang hampir saja membuat jantung Irma copot.
Sadar, wanitanya sudah dalam keadaan merajuk, Andre pun berpindah posisi. Ia berjongkok di hadapan Irma seraya meminta maaf sambil memegang kedua telinganya. "Maafkan, aku!" ucap Andre dengan memelas.
Melihat Andre yang menjewer telinganya sendiri seperti anak kecil yang sedang mendapat hukuman, membuat Irma mengulum senyum. "Enggak sekalian sambil angkat kaki sebelah?" ujar Irma masih pura-pura merajuk.
"Kalau itu bisa membuat aku dimaafkan, pasti kulakukan." Andre langsung berdiri dan mengangkat sebelah kakinya dengan tangan yang masih setia di daun telinga. "Maafkan aku," ujar Andre lagi.
Tawa Irma pun pecah saat melihat pemandangan di depan mata. "Persis kayak anak terlambat masuk kelas dan ketahuan naik pagar," ujar Irma sembari berdiri, lalu membersihkan celana yang sedikit kotor karena duduk di parkiran. "Ayo, masuk! Bukannya waktu istirahatmu sebentar." Wanita itu menarik satu lengan Andre yang masih memegang telinga.
__ADS_1
"Udah dimaafin?" Andre memicingkan sebelah matanya melirik Irma.
"Udah. Tapi buangin ini, ya!" Dengan senyum yang mengembang, Irma menyodorkan kresek kepada Andre.