Janda Cantik Milik Pak Polisi

Janda Cantik Milik Pak Polisi
127


__ADS_3

Sepanjang perjalanan Irma lebih banyak diam. Berucap kalau Andre bertanya, itu pun seperlunya, sedangkan selebihnya memilih diam sembari mengalihkan pandangan ke jalanan. Andre hanya bisa menarik napas panjang, lalu membuangnya kasar. Irma sedang merajuk, bahkan asinan yang tadi begitu diidamkan tidak diicip sama sekali.


Begitu sampai di rumah Naura, Irma langsung turun dan ke belakang mobil, mengambil barang belanjaan yag disimpan di bagasi. Pun dengan Andre, ia bergegas Irma menyusul si istri.


"Maaf." Andre berdiri di hadapan Irma sembari menjewer kedua telinganya dengan wajah yang sangat memelas. "Maaf," ulangnya lagi.


Irma menatap lelaki yang sedang meminta maaf, lalu mengalihkan pandangannya ke barang-barang yang akan diambil. "Enggak sekalian sambil angkat kaki?" ucapnya, acuh.


"Akan kulakukan." Andre mengangkat satu kaki dengan tangan yang masih setia bertengger di daun telinga. "Maaf." Ia mengulangi kata maaf.


Irma kembali melirik Andre lalu berpaling lagi dengan ujung bibir yang sedikit terangkat, menahan diri untuk tidak tertawa. "Kenapa cuma satu kaki? Enggak dua-duanya?" ujar Irma lagi.


"Hah?" Bukan Andre tidak mendengar, tetapi ia tak habis pikir dengan pertanyaan sang istri. Bagaimana mengangkat kedua kaki secara bersamaan? "Sambil loncat-loncat, Bu?" tanya Andre.


Irma mengedikkan bahu sambil mengeluarkan barang belanjaan dari dalam bagasi. Sementara itu, demi mendapatkan maaf sang istri, Andre bersiap loncat sambil minta maaf. Akan tetapi, gerakannya terhenti saat dua tangan Irma memegang bahunya.


"Jangan kayak orang bodoh! Aku memaafkanmu. Aku juga minta maaf yang terlalu sensian," tutur Irma sembari menempelkan bibirnya sekilas di bibir berjambang tipis itu, lalu lekas berbalik sambil menjingjing satu kresek, masuk ke rumah. "Dew, bantuin aku bawa belanjaan!" teriak Irma kepada Dewi yang juga ada di rumah itu, tanpa menoleh lagi ke belakangan.


"Aku memang selalu menjadi bodoh jika menghadapimu," gumam Andre dengan senyum yang mengembang sambil memegang bibirnya. Meskipun bibir mereka sudah sering bertemu, tetapi diberi kejutan seperti barusan membuat hati Andre jingkrak-jingkrak.


Mendapat maaf dari permaisuri hatinya membuat Andre langsung berbunga-bunga. Dengan senyum yang mengembang, ia menyusul Irma sambil membawa barang belanjaan.


"Kenapa?" Seseorang mencegat Andre, yang ternyata semenjak kedatangan Irma dan Andre, matanya tak lepas memperjatikan tingkah mereka.


"Dia ngambek gara-gara ini!" Andre menunjuk asinan yang dibawanya.


"Asinan lagi?" Naura yang sedang menggendong Kayla menyipitkan sebelah matanya saat melihat isi dari kresek transaparan yang dibawa kakak ipar.


Andre mengangguk pasti.


"Sepertinya dugaanku benar deh." Naura semakin yakin dengan dugaannya kalau Irma sedang berbadan dua.


"Dia juga belum pernah datang bulan," ungkap Andre semakin memperkuat keyakinan Naura.


"Nah, kan. Cek, gih!" titah Naura.


"Jangan sekali-sekali kamu nyuruh dia buat ngecek kandungan! Aku diamuk juga gara-gara itu. Kita ambil jalan aman saja." Andre langsung menolak perintah Naura. Ia tak mau mengulangi kejadian beberapa waktu lalu.


"Kita hanya akan tahu kalau Kak Irma diperiksa. Kalau gak diperiksa gimana tahu hasilnya?"


Andre mengedikkan bahu, lalu menyusul Irma ke dapur membawa buah-buahan yang dibeli tadi sembari memeberikan asinannya kepada si istri.

__ADS_1


"Kak itu buah-buahan untuk apa?" tanya Ranti saat melihat Andre menyimpan buah-buah untuk bahan rujak bebeg.


"Bu, ini asinannya." Andre menyodorkan asinan yang ditinggalkan Irma di mobil


Irma meraihnya dan dengan senyum yang mengembang ia berterima kasih kepada Andre. "Untuk buat rujag bebeg. Kayaknya seger banget kalau kita makan rujag bebeg siang-siang gini." Irma menjawab pertanyaan Ranti.


Ranti menatap Irma penuh keheranan. Tidak hanya sekali dua kali anaknya itu berbuat aneh, tetapi ia juga tak berani berkomentar karena Ranti pun tahu ujung-ujungnya akan seperti apa.


"Sepertinya memang enak. Apa mau mamah buatkan?"


"Nanti saja, Mah. Sekarang aku punya ini!" Irma menunjuk asinan yang masih dipegangnya.


Irma pun menghabiskan dua porsi asinan yang dibeli Andre setelah menawari semua orang, tetapi tidak ada yang mau. Sementara itu, orang-orang yang menaruh curiga hanya bisa saling lirik. Ingin menghilangkan kepenasaranan mereka, tetapi tidak tahu caranya.


***


Acara akikahan Kayla pun berjalan lancar. Kegiatan penyembelihan kambing dan cukur rambut Kayla dan dibarengi pengajian yang digelar Dimas dihadiri oleh para tetangga serta anak-anak panti asuhan yang sengaja mereka undang.


Semua orang mengucap syukur saat seluruh acara berjalan lancar, bahkan Kayla tampak sudah terlelap di gendongam Dimas setelah seluruh jemaah mendoakannya.


Para tamu sudah pulang, meninggalkan keluarga inti yang masih berada di sana. Mereka tampak sedang berkumpul di ruang keluarga, berbincang-bincang ini dan itu. Akan tetapi, semenjak acara selesai Irma tak banyak bicara. Ia yang duduk di samping Andre tampak menggenggam erat tangan si suami. Keringat dingin tiba-tiba muncul, kepalanya terasa sangat berat dan pusing.


"Bu, kenapa?" Andre melirik Irma yang sudah pucat.


"Mungkin kamu kecapean. Apa mau pulang sekarang atau menginap di sini?"


"Pulang saja, yuk! Di sini udah ada Tante Ana dan Mamah yang bantu jagain Kayla." Irma mengajak pulang suaminya.


Andre pun mengangguk, lantas meminta izin untuk pulang kepada semua orang yang ada di sana. Beberapa kali Naura dan Dimas meminta suami istri itu untuk tetap tinggal, tetapi Irma keukeuh mau pulang.


"Bubu dan Baba pulang dulu, ya! Besok kita main lagi." Irma juga berpamitan kepada Kayla sembari mencium kening bayi itu.


"Kak, beneran mau pulang?


Irma mengangguk pasti.


"Wajahmu pucat sekali, Kakak sakit?" tanya Naura yang menilik-nilik keadaan Irma dan terlihat tidak seperti biasa.


"Enggak, kok." Irma berkilah, padahal kepalanya sudah pusing tujuh keliling, bahkan Naura di hadapannya pun terlihat seperti ada banyak dan sejurus kemudian penglihatannya mengabur. Irma mengerjap sembari menggeleng, berharap penglihatannya kembali. Akan tetapi yang ada malah kebalikannya, semakin menggelap dan akhirnya tidak sadarkan diri.


"Kakak!" pekik Naura.

__ADS_1


Irma ambruk di hadapan Naura. Untung saja, Naura cepat menahan tubuh itu sehingga tidak menyentuh lantai.


"Kak, kamu kenapa? Apa yang terjadi?" tanyanya, panik. Naura menepuk pipi Irma, tetapi tidak ada respon.


"Bu, kenapa?" tanya Andre yang tak kalah panik.


Keluarga yang lain pun menghampiri Naura dan Irma. Mereka juga sangat panik. Baru saja semua orang bahagia, mungkinkah akan ada kepedihan lagi? Pikiran-pikiran buruk itu masih terus bergelanyut di kepala mereka.


Andre meraih tubuh Irma dari pangkuan Naura, memindahkannya ke kamar sesuai perintah Naura. Sementara itu, Naura menghubungi tetangganya yang berprofesi seorang dokter untuk memeriksa sang kakak.


Tidak selang berapa lama, dokter pun tiba bertepatan dengan Irma yang baru sadar dan langsung memeriksa keadaan Irma.


"Apa, Mbak Irma sudah telat mentruasi?" tanya si dokter sembari memeriksa perut Irma.


Irma mengangguk.


"Dia udah telat dua bulan lebih, Dok. Apa ada masalah? Apa itu penyebab istriku pingsan?" Andre ikut menjawab. Ia sangat penasaran dengan keadaan si istri dan berharap dugaannya benar adanya.


Si dokter cantik itu menampilkan senyum saat mendengar penuturan Andre. "Apa, Mbak sering mengalami pusing dan mual-mual?"


Irma menggeleng. "Hanya baru kali ini saja, Dok, kepalaku terasa muter-muter dan sedikit mual. Apa karena terlalu banyak makan rujak bebeg, ya?" tutur Irma, mengingat ia telah melahap rujak bebeg seperti orang kalap.


"Bisa jadi lambungnya sedang tidak bersahabat. Tapi dari pemeriksaanku sepertinya ada faktor lain," ujar Dokter itu. "Mbak Irma sedang mengandung," lanjutnya yang membuat semua orang terkejut bercampur bahagia.


"Mengandung? Aku ha-ha-mil, Dok?" tanya Irma tak percaya.


Si Dokter mengangguk.


Andre yang duduk di tepi ranjang, samping kepala Irma, tidak bisa menutupi kebahagiaannya. Ia langsung mencium pucuk kepala Irma.


"Kamu hamil, Sayang. Kita akan punya anak."


"Tapi itu tak mungkin. Aku, kan ...." Irma tak sanggup melanjutkan ucapannya. Hanya air mata yang mulai merembes keluar tanpa bisa terbendung lagi. Ia sangat senang mendengar ucapan dokter itu, tetapi ia juga takut kalau itu hanya angan-angannya saja.


"Tidak ada yang tidak mungkin, Mbak. Tapi, untuk tahu lebih jelasnya sebaiknya segera periksa ke dokter kandungan. Atau untuk pemeriksaan dini, Mbak, bisa menggunakan testpack. Tapi, maaf saya tidak bawa."


"Aku punya banyak. Bentar aku ambilin." Naura yang sudah curiga sejak lama sudah mempersiapkan benda yang disebutkan dokter. Ia pun bergegas mengambil testpack di kamar Kayla, lalu memberikannya kepada Irma.


"Semoga kita mendapatkan kabar gembira lagi," gumam Ranti yang mendapat anggukan dari Naura, Dimas, Ana, dan Bambang.


Semua orang menatap pintu kamar mandi, tempat Irma mencoba testpeck yang ditemani oleh Andre. Mereka sudah tak sabar melihat hasil benda tersebut yang keakuratannya tidak perlu dipertanyakan lagi.

__ADS_1


Cukup lama Irma dan Andre berada di kamar mandi, tetapi tak kunjung keluar membuat orang-orang malah dirundung cemas. Rasa takut kalau hasilnya tidak sesuai dan malah membuat Irma down lagi seketika menyeruak di pikiran mereka. Kecemasan mereka semakin menjadi, begitu mendengar tangisan Irma yang sangat kencang.


"Kakak kenapa?" Naura menerobos masuk saat mendengar tangisan Irma.


__ADS_2