
Hari sudah semakin larut, tetapi tak ada tanda-tanda Elsa akan pulang. Beberapa kali Ryan melirik jam dinding, dan dia hanya bisa mendesah pelan. Benar kata orang penyesalan itu datangnya terakhir. Mungkin itulah yang dirasakan Ryan saat ini. Ternyata tak semua hubungan yang berawal dari cinta akan selalu tetap indah, apalagi bila ada orang lain yang terluka dari hubungan itu. Apa Ryan menyesal? Tentu saja. Andai saja ia menuruti kedua orang tuanya, mungkin keadaan seperti ini tak akan terjadi.
Terkadang dengan teganya ia juga menyalahkan bayi mungil tak berdosa di hadapannya, mungkin semua tak akan seperti saat ini bila tak ada kehadiran makhluk kecil itu. Mungkin, mungkin, dan mungkin hanya kata itu yang terus telintas.
"Maafkan, Papah yang juga malah menyalahkanmu! Padahal ini semua murni kesalahan papah. Papah sayang kamu." Ryan meraih tangan mungil Alvino dan menciumnya.
Ryan kembali menatap Alvino yang begitu pulas tertidur, bahkan makhluk kecil itu sama sekali tak terganggu saat ia menciumi punggung tangannya yang selembut sutera. Ryan memperhatikan setiap pahatan yang Tuhan ciptakan untuk sang anak. Wajah yang manis, bulu mata yang lentik, hidung yang mancung, semuanya begitu menggemaskan bagi Ryan.
"Tapi—" Tiba-tiba Ryan terdiam, dahinya bahkan sampai mengkerung sepertinya lelaki itu memikirkan sesuatu. Namun, sejurus kemudian kepalanya menggeleng seakan-akan menolak pikiran itu. "Ah, mana mungkin," desahnya.
"Tidur yang nyenyak, ya, Sayang." Ryan mengepuk-epuk pantatt Alvino sambil menyenandungkan lagu ninabobo, membuat bayi yang tiba-tiba menggeliat dan hampir menangis itu terlelap kembali.
Nyanyian penghantar tidur terus terlantun dari mulut Ryan, dengan pikiran yang mulai berkelana entah ke mana. Banyak pertanyaan yang tiba-tiba saja muncul, tetapi sejurus kemudian ia menolaknya. Hingga akhirnya suara Ryan semakin melemah, lalu tak bersuara sama sekali. Ia tertidur di kursi di samping tempat tidur Alvino dengan tangan yang sesekali mengepuk-epuk pantatt si bayi.
*
Sebuah suara membangunkan Ryan yang masih setia berada di samping Alvino. Ia menggerakkan badannya yang terasa pegal karena tertidur sambil duduk, lalu melirik kembali jam dinding yang jarum panjang dan pendeknya sudah menunjuk pada angka yang sama—dua belas. Ryan benar-benar dibuat geram oleh derap kaki yang masuk ke kamar sebelah sambil bersenandung ria.
__ADS_1
"Papah tinggal sebentar, ya!" Ryan mencium kening Alvino, lalu pergi ke kamarnya dari pintu darurat yang sengaja ia buat sebagai penghubung kamar dirinya dengan kamar sang anak.
Ryan tiba di kamar, bertepatan dengan Elsa yang juga baru tiba di kamar.
"Habis dari mana, selarut ini baru pulang?" tanya Ryan, mengagetkan Elsa yang sedang menutup pintu.
"Biasa nge-gyim biar tubuhku cepat ideal kembali. Habis itu ada acara arisan sama teman-teman," jawab Elsa, "Mas belum tidur?" tanya kemudian, begitu melihat Ryan sedang berdiri di depan pintu menuju kamar Alvino dengan tangan terlipat di dada dan mata yang menatap tajam ke arahnya. "Apa Alvino rewel? Bukannya ada Ayu? Buat apa kita bayar dia mahal-mahal kalau masih kamu juga yang bangun tengah malam kalau dia rewel," ujar Elsa dengan santainya sambil berjalan ke arah meja rias, lali melucuti perhiasan yang menempel di tubuh, tanpa memedulikan tatapan membunuh dari Ryan.
"Kenapa harus serba Ayu? Bukankah ada kamu ibunya. Seharusnya kamu yang mengurus anakmu," jawab Ryan begitu dingin dengan tatapan yang tak pernah teralihkan dari Elsa.
"Tugas baby sister yang memang mengurus anak kita. Kenapa aku harus repot-repot? Mengandung dan melahirkannya saja sudah bikin susah. Lihatlah sudah dua bulan tubuhku masih belum ada perubahan! Kalau efeknya selama ini, aku bakal mikir dua kali buat hamil," tukas Elsa yang malah mementingkan tubuhnya daripada buah hatinya sendiri.
"Apa kau mengataiku ibu durhaka?" Elsa membalikkan tubuhnya, menatap tajam ke arah sang suami yang juga menatapnya tak kalah tajam. Tak terima disebut sabagai ibu durhaka.
"Kalau bukan ibu durhaka apa lagi? Berapa kali kau memberikan waktumu untuk Alvin selama dua bulan ini? Satu jam? Dua jam? Atau setengah jam? Sepertinya lima menit pun tidak. Kau hanya sibuk dengan duniamu sendiri." Suara Ryan kini mulai meninggi.
"Lalu apa bedanya dengan dirimu? Bahkan dirimu itu sudah di cap sebagai anak durhaka!" hardik Elsa yang juga tak kalah emosinya.
__ADS_1
Mendengar ucapan Elsa, amarah Ryan semakin membumbung tinggi. Ia berjalan ke arah Elsa yang masih berdiri di depan meja cermin. Rahangnya sudah mengeras, bahkan urat-urat di tangan sudah menegang. Lelaki itu mengangkat tangan, bersiap melemparkan sebuah tamparan keras di pipi Elsa. Elsa memejam dibuat ketakutan saat melihat tangan Ryan sudah berjarak sangat dengan wajah yang baru saja ia servis di salon.
"Aku memang anak durhaka, karena dibutakan cinta gilamu. Tapi setidaknya aku sedang memperbaiki semuanya. Tidak, seperti dirimu yang semakin hari malah semakin gila," ujar Ryan sembari menunjuk hidung sang istri yang jarak mereka kini sudah sangat dekat. "Satu lagi, aku sudah memecat Ayu. Jadi, mulai besok kau jaga sendiri Alvino tanpa adanya pembantu," lanjut Ryan, berbohong, lalu berlalu. Ia tak ingin benar-benar menampar istrinya itu. Cukup sekali ia melakukan KDRT dan ia menyesalinya, tak ingin mengulang lagi.
"Apa kau sudah gila kenapa memecat Ayu? Apa kau tahu? Aku mati-matian mengembalikan tubuhku ini juga untuk kamu. Kenapa sekarang jadi aku yang serba salah? Aku tak mau kamu berpaling ke lain hati." Rasa takut Elsa, seketika menghilang saat mendengar pengasuh Alvino di pecat.
"Aku tak perlu semua itu, yang aku butuhkan kau jaga Alvino. Malah aku bisa saja berpaling ke lain hati jika kau terus begini," ujar Ryan sambil berjalan ke arah kamar Alvino.
"Apa ini gara-gara mantan istri sialanmu itu?" Tiba-tiba Elsa malah membawa-bawa Irma ke dalam masalah mereka.
"Apa hubungannya dengan Irma?" Ryan yang sudah diambang pintu, membalikkan kembali tubuhnya saat permasalahannya malah merembet ke mana-mana.
"Kau pikir aku tak tahu? Bukankah kalian habis ketemuan?" cecar Elsa.
Permasalahan yang semakin merembet ke mana-man itu pun malah berujung panjang. Keduanya bertengkar saling menyalahkan, bahkan membawa-bawa Irma yang tak tahu apa-apa. Ditambah lagi, Ryan yang malah membanding-bandingkan Elsa dengan Ryan membuat tengah malam mereka semakin panas.
Sementara itu, di kamar lain seorang wanita yang menjadi perbincangan di sana-sini sedang membolak-balikkan badannya di atas kasur. Matanya tak bisa diajak terpejam. Kedua telinganya terasa sangat panas.
__ADS_1
"Hawa malam ini panas banget, sampai-sampai telinga kiri dan kananku panas semua." Irma bangun dari tempat tidurnya, lalu menyalakan kipas angin. "Kata orang kalau telinga panas, itu ada yang lagi ngomongin kita. Siapa yang doyan banget aku jadi biang gosip?" seloroh Irma sambil mengipasi telingaya dengan tangan.