
Sebuah angkutan kota berhenti di dekat pertigaan, tepatnya di seberang toko kue 'Duo Princess'. Seorang wanita turun dari bangku depan, setelah memberikan dua lembar uang lima ribuan.
"Makasih, Pak," ujar wanita itu yang tak lain adalah Irma.
"Sama-sama, Neng. Jangan keseringan maen sendiri, Neng! Kata orang kalau calon pengantin itu wangi, suka banyak marabahaya yang ngintai dari berbagai alam." Si sopir yang merupakan tetangga sekitaran rumah Irma, mencoba mengingatkan. "Dulu aja ada gadis yang dua hari sebelum menikah maen mulu, pulang-pulang tinggal nama." Bahkan, si sopir yang masih percaya tahayul itu sampai merinding mengingat kejadian waktu silam.
Irma hanya tersenyum, tanpa ada niatan membantah. Meskipun ia tak percaya dengan tahayul, tetapi berhati-hati memanglah harus. "Iya, Pak. Terima kasih sudah mengingatkan. Ini juga cuma mau liat baju saja terus pulang lagi."
"Hati-hati, Neng. Lain kali kalau keluar ajak keluarga atau siapa jangan sendiri!" peringatnya lagi.
Irma kembali mengangguk. Setelah angkutan umum itu melaju kembali, wajah Irma langsung berseri. Dilihatnya, toko kue yang semenjak lamaran tak pernah lagi ditengok. Ia begitu merindukan toko kuenya, aroma tepung, aroma selai dan berbagai aroma kue yang dipanggang, dikukus serta digoreng terasa langsung menelisik hidung.
"Aku merindukanmu!" Senyum mengembang dengan mata yang pernah tak pernah teralihkan dari bangunan yang mulai ramai pengunjung itu. Irma pun lantas menyeberang, tak sabar ingin melihat perkembangan toko kue yang digarapnya bersama ibu dan adiknya, yang menurut Naura perkembangannya minggu-minggu ini menaik pesat.
__ADS_1
Wanita itu berjalan terlalu terburu-buru. Rasa rindunya terhadap bangunan di seberang, membuatnya tak memperhatikan sekitar. Irma menyeberang begitu saja dan bertepatan dengan itu sebuah mobil melaju sangat kencang.
"Irma, awas!"
Tid! Tid ....
Teriakkan seseorang dan bunyi kelakson yang sangat panjang menyadarkan Irma yang sudah melangkah ke tengah jalan. Ia begitu terkesiap, saat melihat sebuah mobil melaju sangat kencang ke arahnya. Bahkan, saking terkejutnya ia malah diam mematung.
"Aww ...." teriak Irma dan kedua telapak tangan menutupi wajah dengan mata yang sudah terpejam. Mobil hanya berjarak beberapa centi dari tubuh Irma, sedangkan pikirannya sudah melayang entah ke mana. Baru saja supir angkutan umum memperingatkannya, dan sekarang marabahaya itu benar-benar datang menghampiri. Tragedi yang akan merenggut nyawa sudah ada di depan mata.
-
-
__ADS_1
"Maaf!" ujar Irma sembari beringsut dari tubuh yang telah menjadi tamengnya.
Tak ada jawaban, hanya terdengar rintihan pelan dari mulut orang itu.
"Maaf, pasti sakit. Apa ada yang terluka?" tanya Irma lagi. "Terima kasih su- dah ... menolongku," lanjutnya dengan suara yang semakin pelan, begitu melihat wajah orang yang sudah rela mengorbankan keselamatan untuk menolongnya.
"Aku tidak apa-apa," jawab orang itu, meski dari suaranya terdengar kalau ia tidak baik-baik saja. "Apa kau tidak apa-apa?" Matanya menatap sekilas kepada Irma yang sudah duduk bersebelahan, lalu ia pun dengan susah payah berusaha untuk bangun.
Irma yang tadinya hendak membantu membangunkan orang itu, malah membisu begitu menyadari siapa yang telah menolongnya. 'Kenapa meski dia yang menolongku? Haruskah aku berterima kasih? Tapi kesakitan yang dia dapat masih belum sebanding dengan kesakitanku.' Entah setan mana yang merasuki Irma, tiba-tiba saja keegoisan merasuki dirinya.
"Apa ada yang luka?" tanyanya lagi, tetapi Irma masih saja membisu dengan pikirannya sendiri. "Sepertinya kau tidak apa-apa." Akhirnya, orang itu menyimpulkan sendiri karena tak mendapat jawaban dari wanita di sampingnya. "Kalau begitu aku pamit dulu! Hati-hati kalau menyeberang! Bukankah sebentar lagi kamu mau menikah?" ujarnya lagi, lalu mencoba beranjak dari sana meskipun tertatih-tatih. Seluruh tubuhnya terasa sakit, apalagi di bagian sikutnya terasa sangat sakit dan perih. Tak lupa ia juga memunguti barang belanjaan yang berserakan karena berusaha menolong Irma.
Irma masih terdiam, ia menatap punggung lelaki yang mulai melangkah pergi. Hingga, matanya tertuju pada lengan lelaki itu yang tampak mengelupas, bahkan darah sampai mengucur dari sana. Irma tak dapat memungkiri, ia membenci lelaki itu, tetapi haruskah ia membiarkan orang yang telah menolongnya pergi begitu saja tanpa ada niatan menolong lagi, saat melihat orang itu terluka? Walau bagaimana pun berkat lelaki itu ia selamat dari maut. Berkat lelaki itu pula ia masih diberi kesempatan bertemu dengan sang pujaan hati.
__ADS_1
"Ikutlah, aku obati dulu lukamu!" Irma menurunkan egonya. Ia mengejar dan menarik lelaki itu untuk mengobati luka si lelaki di dalam toko.