
Dimas memarkirkan mobilnya di depan rumah. Ia baru saja sampai di rumah yang sudah lima hari hanya jadi tempat persinggahan saja—pulang hanya sesekali, itu pun tidak sampai dua jam. Senyum tertampil di wajah lelaki yang sudah tampak kusut itu. Kantung matanya saja sudah seperti panda karena kurang tidur. Namun, kali ini ia pulang dengan senyum yang mengembang, tidak seperti hari yang lalu—pulang dengan bermuram durja.
Kaki Dimas melangkah memasuki rumah sembari memanggil-manggil si Buah Hati. Benar kata Andre, ia harus semangat melewati hari demi hari. Ia harus menjadi kekuatan bagi Naura untuk segera bangun, juga bagi Kayla.
"Kay, Kayla Sayang! Papa pulang, Nak," teriak Dimas.
Dimas pun mencari keberadaan sang anak. Hinga sosok yang dicarinya ditemukan, Kayla tampak sedang digendong Ana di ruang tengah. Dimas pun langsung menghampirinya.
"Sudah pulang, Dim?" tanya Ana.
Dimas mengangguk sambil mencium tangan Ana, lantas mencium Kayla. Namun, belum sempat ciumannya mendarat, Ana bergeser.
"Kamu mau ngapain?" tanya Ana, menjauhkan si cucu dari bibir anaknya.
"Mencium anakku, Mah. Aku kangen sama dia."
"Mandi dulu sana! Baru nanti puas-puasin cium anakmu. Ingat kamu tuh habis dari luar! Banyak kuman dan bakteri yang ikut masuk." Ana mengingatkan.
__ADS_1
Dimas kembali mengangguk. Ia tahu kondisi bayi masih sangat rentan, sehingga dirinya harus benar-benar steril. Lelaki itu pun beranjak ke kamar untuk membersihkan tubuh. Ucapan orang-orang pagi ini benar semua.
Setelah mandi, Dimas bergegas kembali ke bawah menemui Kayla yang sedang bersama dua wanita yang menyebut mereka sendiri nenek dan oma. Ia mengambil Kayla dari gendongan Ana, lalu menciumi bayi yang sedang tidur itu sampai terbangun.
"Kenapa setiap papa pulang kamu sedang tidur? Apa tidak mau bermain dengan papa?" ujar Dimas sembari menggerakkan hidungnya yang menempel di hidung mungil Kayla.
Seoalah mendengar dan paham yang diucapkan Dimas, bayi itu langsung membuka mata. Meskipun awalnya menangis, lama-lama Kayla nyaman di dalam gendongan Dimas. Dimas menggendong dan mengajak Kayla bermain cukup lama, memperat kedekatan diantara ayah dan anak, hingga ia kembali mengembalikan bayinya kepada Ranti. Sementara itu, dirinya harus ke kantor.
"Aku titip Kayla, ya, Mah," ucap Dimas kepada Ana dan Ranti yang dijawab anggukan keduanya. "Kayla Sayang, papa kerja dulu, ya! Nanti pulang kerja sebelum ke tempat mama, papa main dulu sama kamu," lanjut Dimas kepada sang buah hati sambil mengusap wajah bayi mungil nan menggemaskan itu, lalu menciumnya.
Sebagai abdi negara, Dimas harus bersikap profesional. Meski enggan untuk meninggalkan Kayla maupun Naura, tetapi ia tetap harus menjalankan kewajibannya. Ia pun berangkat ke tempat di mana dirinya mengabdi dengan sedikit perubahan. Dimas tak lagi semurung beberapa hari ke belakang.
Informasi sudah di depan mata saat Nadia sudah sadar dan dinyatakan bisa diintrogasi. Mereka dapat mengintrogasi Nadia tentang kelompok yang sudah menjadi incaran kepolisian, tetapi kelompok itu bagaikan hantu, susah untuk tersentuh. Namun, lagi dan lagi pihak kepolisian harus gigit jari saat mendapati kenyataan wanita itu sudah tidak bernyawa di kamar rawatnya. Jalan lebar menuju pemberontak itu pun kembali menyempit.
"Kau bisa mengintrogasiku tentang senjata api itu kalau aku masih hidup," ujar Nadia saat itu sebelum Andre dan Dimas keluar dari ruang rawatnya.
Dimas dan Andre tak mengindahkan ucapan Nadia karena mereka merasa penjagaan di sana sangat aman, tidak mungkin wanita itu berbuat aneh. Dimas berjanji ia sendiri yang akan mengintrogasinya setelah menemui Naura.
__ADS_1
Namun,beberapa jam setelah Dimas menemui Nadia. Nadia dinyatakan tewas karena menelan racun yang entah di dapat dari mana, bahkan polisi pun masih menyelidiki hal itu padahal penjagaan kamar Nadia dibuat seketat mungkin.
"Aku tak menyangka karena ingin membunuhku kamu sampai bergabung dengan kelompok seperti itu. Bahkan, kamu rela mati demi mereka daripada membagikan informasi kepada kami." Dimas menatap foto Nadia berseragam sebuah organisasi yang menjadi incaran polisi. Foto yang diberikan bersama beberapa file yang di dapat kepolisian.
Hingga sebuah panggilan pun mengagetkan Dimas.
"Dim, kamu kemana saja? Istriku menelponmu berkali-kali." Andre menghampiri Dimas. Wajahnya terlihat sangat panik.
"Aku habis dari dalam. Ponselku di silent," papar Dimas, sembari mengambil ponsel di saku celana. Benar saja, Irma sudah menelponnya sampai berpuluh-puluh kali. "Ada apa? Apa terjadi sesuatu dengan Ara?" tanya Dimas, panik.
"Itu—"
Ucapan Andre terpotong oleh ponsel Dimas yang kembali menerima panggilan masuk. Tanpa babibu, Dimas pun langsung menggeser tombol hijau.
"Halo, Kak. Ada apa?" tanya Dimas begitu panggilan tersambung. "Apa?!" Ketegangan semakin mendominasi wajah yang tadi pagi sudah mulai tersenyum itu saat mendengar kabar dari si penelpon yang tak lain adalah Irma. "Baik, aku akan segera ke sana," tukas Dimas, lalu mengakhiri panggilan itu.
Dengan tergesa-gesa, ia pergi ke rumah sakit. Pikirannya kembali kacau.
__ADS_1
Sampai bertemu lagi di hari terakhir up sebelum sayonara. 😊😊🤗