Janda Cantik Milik Pak Polisi

Janda Cantik Milik Pak Polisi
S2 - 3


__ADS_3

3


Andre berjalan mendahului Irma untuk membuka pintu. Mulutnya terus komat kamit merutuki tamu yang terus menekan bel berkali-kali. Dengan kekesalan yang menggunung, Andre membuka kunci dan menarik gagang pintu dengan kasar. 


"Kau itu pagi-pagi sudah buat onar di rumah orang! Tak bisakah bertamunya agak siangan dikit?" omel Andre sambil membuka pintu. 


"Apa mamah mengganggu kalian?" 


Tiba-tiba suara Ranti membuat Andre membisu sambil melongo. Ia berpikir kalau yang ada di depan itu adalah orang yang tadi disebutnya tukang kredit panci, jadi ketika pintu dibuka Andre main hajar saja. Namun, siapa yang dilihat Andre saat ini? Ibu mertuanya sedang berdiri di hadapannya dengan wajah yang tampak terkejut karena Andre yang main mengomel tidak jelas. 


'Kenapa jadi mamah? Ke mana orang itu?' 


"Mamah ganggu kalian, ya? Ya, sudah, kalau ganggu nanti mamah balik lagi saja," ujar Ranti lagi sambil berbalik hendak meninggalkan kediaman anak dan menantunya. 


Melihat Ranti yang sudah berbalik, membuat Andre  tersadar dan langsung mencegahnya untuk pergi. "Enggak, Mah. Mamah enggak ganggu, kok," ucap Andre. "Tadi aku pikir tukang kredit panci. Soalnya tadi ada tukang kredit panci, pagi-pagi sudah bikin gaduh." Andre mencoba menjelaskan. 


"Tukang kredit panci?" Ranti menyipitkan sebelah matanya mendengar ucapan Andre. Setahunya hari minggu, tukang kredit panci juga libur. 


 "Iya, Mah. Sudahlah, enggak penting juga. Maafkan Andre! Andre udah salah kira," lanjutnya sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. 


'Tidak apa. Mamah ke sini cuma mau nganterin lontong sayur. Dari kemarin, istrimu nitip ini kalau mamah ke pasar. Apa dia ada?" 


Andre mengangguk, lalu mempersilakan Ranti masuk. "Ada. Masuk saja, Mah." 


Ranti pun mengangguk, lalu mengayunkan kakinya memasuki rumah sang menantu. Akan, tetapi baru beberapa langkah ia langsung berhenti dan berbalik lagi. 


"Ada apa, Mah?" 


"Mamah lupa. Tadi di depan ada Ryan mau bertamu ke rumah kalian, tapi sepertinya ada telepon jadi dia angkat telepon dulu. Mamah ajak masuk sekalian, ya!" ujar Ranti sambil keluar untuk memanggil Ryan. 


"Jadi dia masih di sini? Aku kira dia udah bener-bener minggat." Andre menepuk jidatnya sendiri sambil membuang napas dengan kasar. 

__ADS_1


Beberapa saat sebelum Andre membuka pintu yang menekan bel berkali-kali memanglah Ryan. Namun, karena ada sebuah panggilan, Ryan menjauh dari pintu untuk menerima panggilan masuk. Bertepatan dengan itu, Ryan berpapasan dengan Ranti yang baru pulang dari pasar dan hendak memberikan lontong sayur pesanan Irma. 


Setelah bersalaman dan berbasa-basi,  Ryan meminta izin untuk menerima telepon dan Ranti menggantikannya berada di depan pintu. 


"Yan, katanya mo ketemu Andre! Sini!" Dari ambang pintu, Ranti melambaikan tangannya ke arah Ryan yang masih sibuk dengan benda pipih yang menempel di telinga. 


Ryan tersenyum sambil mengangguk. "Iya, Mah, sebentar. Mamah duluan saja." 


Begitu mendengar jawaban Ryan, Ranti pun lantas masuk tanpa menunggu lelaki itu. Sementara itu, Ryan masih sibuk dengan bicara dengan seseorang di seberang sana menggunakan bahasa asing. 


Tanpa sepengetahuan lelaki jangkung itu, ada seseorang yang diam-diam sedang memerhatikannya dari atas motor matic yang terparkir di halaman rumah Andre. 


'Dua bulan di luar negeri, membuat dia semakin tampan saja,' gumamnya dalam hati dengan senyum tipis yang menghiasi wajah. 'Ya, Tuhan. Wi, apa yang kamu pikirkan?' Sejurus kemudian wanita itu menggeleng-gelengkan kepalanya sendiri. 


"Tidak ikut masuk?" 


Ryan yang sudah selesai menelpon menyapa Dewi, membuat wanita yang sedang menjernihkan pikirannya itu terkesiap dan tanpa sengaja menggoyangkan motor yang sedang didudukinya.


"Eh ... eh ...." Dewi hampir saja terjatuh bersama motor yang kehilangan keseimbangannya. Untung saja dengan sigap Ryan memegang kepala motor. 


"Ti-tidak. Anda tidak mengagetkan, hanya saja aku sedang melamun jadi tidak fokus," jawab Dewi dengan malu-malu. 


"Aku mau masuk. Apa tidak ikut masuk juga?" 


Dengan sedikit kikuk, Dewi menolak ajakan lelaki itu. "Tidak. Aku menunggu Tante Ranti di sini saja. Lagian sebentar lagi kami akan ke toko." 


Ryan hanya ber-oh ria, lalu pergi meninggalkan Dewi yang sedang mencoba mengontrol kinerja jantung yang tiba-tiba memompa dan mengalirkan darah dengan sangat cepat, bahkan Dewi merasa sesuatu akan meledak bila lama-lama mengobrol dengan Ryan. 


'Ada apa dengan jantungku? Ini tidak benar.' Dewi memegang dadanya yang sudah seperti bedug bertalu-talu. 


***

__ADS_1


Ryan masuk ke rumah mantan istrinya dengan senyum tipis yang tersungging di bibirnya. Bukan, karena akan bertemu dengan Irma, tetapi karena melihat tingkah Dewi yang hampir saja jatuh dari motor yang sedang diam. Sejatinya, ia telah sangat-sangat merelakan Irma. Sekarang, Ryan dan Irma hanya menjalin silaturahmi sebagai saudara saja. 


"Assalamualaikum." Ryan mengucap salam, saat tiba di ruang tengah di mana Irma, Andre, dan Ranti berada. 


"Waalaikumsalam." Ketiganya menjawab salam sambil menoleh ke arah suara dengan mimik wajah yang berbeda. Senyum Irma dan Ranti langsung tersenyum melihat kehadiran Ryan. Berbeda dengan Andre yang langsung membuang muka dan tampak kesal. 


"Masuklah, Nak!" ucap Ranti, sembari beranjak dari tempat duduk. Ranti yang hendak pergi ke toko, hanya mengantarkan pesanan Irma dan langsung pergi kembali. 


"Ya, Tuhan. Itu muka kenapa seperti baju kusut seperti itu?" ledek Ryan, begitu Ranti telah pergi. 


"Kenapa pulang ke Indo? Udah enak tinggal di situ ketemu bule bahenol setiap hari," sarkas Andre. 


"Bule bahenol tidak menggoda. Sepertinya akan lebih menggoda kalau ketemuan sama istri orang," jawab Ryan dengan seringai lebar menghiasi wajah, menggoda Andre yang masih saja sering cemburu kepadanya. "Kau itu, Dre, masih saja cemburu. Tenang saja, aku tidak akan  mengganggu hubungan kalian. Bukankah selama ini yang sering hubungan denganku itu kamu bukan istrimu?" 


Ya, setelah pernikahan Irma dan Andre, hubungan Andre dan Ryan pun membaik. Mereka memutuskan untuk berteman, meskipun sering dihiasi perdebatan-perdebatan kecil karena kecemburuan Andre yang terlalu besar. 


"Ba, jangan begitu! Dia tamu, lho. Ingat kita itu harus mengagungkan tamu," ucap wanita bergamis tosca yang senada dengan pasmina yang dikenakannya.


"Nah, itu denger kata-kata Bu Ustadz," ujar Ryan lagi semakin menggoda Andre. "Aku ke sini cuma mau ngucapin selamat atas kehamilan istrimu secara langsung. Aku turut bahagia, kalian sebentar lagi akan menjadi orang tua yang seutuhnya," lanjut Ryan dengan tulus. 


Niat Ryan ke rumah itu untuk mengucapkan selamat atas kehamilan Irma yang belum sempat ia ucapkan langsung. Karena saat mendapatkan kabar baik itu, Ryan sudah berada di Paris.  "Sekalian bawain ini! Titipan istrimu. Kalau enggak dibeliin, aku gak mau tanggung resiko anakmu jadi tukang ngences." Ryan memberikan paperbag berisi coklat alain ducasse—coklat khas Perancis, beserta miniatur menara Eiffel dan France soap kepada Andre.  Ryan sadar diri, sekarang apapun yang diberikan kepada Irma harus atas seizin suami Irma sendiri.


"Terima kasih, Mas," ucap Irma. 


"Terima kasih apaan, Bu? Itu coklat beli pake uang Baba. Baba transfer sama dia," sarkas Andre.


"Tapi kalau enggak ada Mas Ryan yang pulang ke Indo, coklatnya juga gak bakal datang Baba," jawab Irma. "Lagian kenapa sih, sensi amat sama dia? Tenang saja aku hanya milikmu," lanjut Irma yang juga menggoda Andre. 


"Noh, denger! Ingat jangan kesel-kesel. Entar anaknya mirip aku baru tahu rasa." 


"Mana ada yang begitu. Aku yang buat, ya pasti mirip aku. Mana ada mirip orang lain. Apalagi mirip kau. Ih, amit-amit," tukas Andre, menyahuti ucapan Ryan sambil memukul sofa tiga kali, hingga berujung Ryan diusir dari rumah Andre karena terus membuat si calon ayah itu kesal setengah mati. 

__ADS_1


Sementara itu, Irma hanya geleng-geleng oleh pertengkaran yang tidak serius dari mereka. Irma bahagia, suami dan mantan suaminya bisa bersahabat dan menjalin silaturahmi dengan baik. Tidak ada lagi dendam di masa lalu yang mereka bawa. Semuanya sudah saling melepaskan dan mengikhlaskan dengan takdir yang diterima oleh masing-masing. 


"Fix rencana makcomblangin Ryan dan Dewi harus segera dipercepat. Bahaya, kalau dia lama-lama di Indo, bisa-bisa aku punya riwayat darah tinggi dini," umpat Andre saat Ryan sudah pergi.  


__ADS_2