
Hari terakhir di kota kelahiran Andre merupakan hari paling berkesan dalam hidup Irma. Dari atas ketinggian ia menikmati hamparan kebun teh yang tampak begitu hijau nan indah. Di temani sang pujaan hati yang telah melamarnya, meskipun tak semulus rencana awal.
Hari terakhir di sana, Andre benar-benar memanjakan wanitanya dengan mengajak Irma menikmati berbagai pesona alam, yang akan membuat wanita itu meminta Andre mengajaknya kembali ke tempat itu lagi.
Puas dengan penjelajahannya, mereka pun kembali dengan membawa hati mereka yang dipenuhi taman bunga yang telah berhasil mengukir sejuta kebahagiaan dan melupakan setiap rasa perih. Keduanya berjanji hari ini adalah hari terakhir mereka membahas hal yang belum pasti. Mereka pasrahkan semuanya kepada Sang Maha Pencipta.
Raja siang telah kembali ke haribaan, bergantikan dewi malam dengan kerudung hitamnya menyapa setiap penghuni alam. Andre dan Irma yang berencana melakukan perjalanan malam pun telah selesai bersiap. Andre memilih perjalanan malam supaya mereka tidak bergelut dengan teriknya matahari yang menurut perkiraan cuaca beberapa hari ke depan akan sangat panas.
"Sebelum berangkat makan malam bersama dulu, ya, Dre! Makanannya sudah siap tinggal nata di meja," ujar Rita begitu melihat Andre dan Irma yang sudah rapi sedang bercengkerama dengan anggota keluarga lainnya di ruang tengah.
__ADS_1
"Baik, Mah." Andre mengiakan ucapan ibunya.
Rita pun kembali ke dapur setelah memdengar jawaban Andre, diikuti Irma juga yang hendak membantu calon ibu mertuanya menyiapkan makanan di atas meja. Begitu semua sudah siap, keluarga besar Andre pun makan malam bersama sekaligus makan malam perpisahan untuk Andre dan Irma.
Kebiasaan di keluarga Andre, mereka selalu makan dalam keadaan diam. Setelah membaca doa bersama, ruang makan akan terasa begitu hening, hanya suara denting sendok dan garfu yang beradu di piring yang terdengar di ruangan itu. Mereka sibuk dengan makanannya masing-masing sampai doa selesai makan kembali diucapkan yang dipimpin oleh salahsatu anggota keluarga.
"Tunggu dulu, jangan bubar dulu!" ujar Ahmad, setelah makan malam selesai dan semua orang hendak meninggalkan ruang makan. Mereka pun kembali duduk rapi dan bersiap mendengarkan setiap kata yang akan dilontarkan ayah mereka.
"Apa ayah akan menikahkan kami?" Entah pertanyaan macam apa yang keluar dari mulut Andre. Berjuta kupu-kupu memenuhi ruang di dalam dadanya. Gembira tak terkira membuatnya serba salah tingkah. Ia memang baru saja melamar wanita itu secara pribadi di atas paralayang, tetapi Andre tak menyangka orang tuanya akan melamar secara resmi secepat itu. Bahkan Andre sendiri belum berbicara apa pun kepada lelaki paruh baya itu.
__ADS_1
"Memangnya apa tujuan kalian menjalin hubungan ini? Sampai jauh-jauh kamu kenalkan Irma kepada Ayah? Bukankah untuk mempersuntingnya?" tanya Ahmad kemudian.
"Ya, memang benar. Aku cuma kaget saja, ayah tiba-tiba nyuruh kami urus persyaratan nikah." Andre memamerkan rentetan gigi putihnya. Benar juga ucapan ayahnya. Toh, itulah yang ia harapkan, lalu kenapa ia malah bertanya lagi. Harusnya ia berterima kasih karena secepat itu kedua orang tuanya menerima sang pujaan hati.
"Nak Irma, enggak keberatan kan kalau kalian segera menikah?" tanya Ahmad kepada Irma.
Mendapatkan pertanyaan seperti itu, Irma hanya bisa menggeleng dengan wajah sudah seperti kepiting rebus disiram saus tomat.
"Kalian sudah cukup dekat, sebaiknya cepat diresmikan sebelum timbul fitnah sana-sini. Ayah percaya sama kalian. Kalian bisa jaga diri, tapi omongan orang siapa yang bisa nge-rem. Kalian sudah dewasa, pasti kalian ngerti maksud ayah," lanjutnya lagi.
__ADS_1
Banyak wejangan yang Ahmad berikan kepada dua sejoli itu. Ahmad berharap kedua pasangan itu bisa menjaga batasan masing-masing sebelum hari pernikahan itu terlaksana. Ahmad tahu jiwa muda sedang berkobar dalam diri anaknya, ia juga pernah merasakan masa muda itu. Akan tetapi, dirinya yang hidup di lingkungan beragama, tak mau Andre terjerumus dalam tindakan terlarang dalam agama. Meskipun atas dasar suka sama suka.
Andre dan Irma hanya terdiam, mendengarkan setiap kata yang terucap dari lelaki tertua di keluarga Andre itu. Andre sendiri, selalu sekuat tenaga tak melebihi batas. Meskipun, ia orangnya nyeleneh, tapi tak pernah meminta apapun yang belum menjadi haknya, bahkan bibir sekalipun. Hanya satu yang Andre langgar, memeluk wanita itu. Dan, itu kesalahan yang mungkin sudah diketahui sang ayah, sehingga ia diceramahi panjang dikali lebar sebelum mereka melakukan perjalanan jauh.