Janda Cantik Milik Pak Polisi

Janda Cantik Milik Pak Polisi
S2- 15


__ADS_3

15


Cinta itu memang aneh bisa datang kapan saja dan di mana saja, tanpa mengenal siapa dan bagaimana semua itu bisa terjadi. Pertama bertemu dengan Ryan, Friska masih biasa-biasa saja, bahkan ia terbilang acuh tak acuh kepada lelaki itu karena sikap Ryan yang cuek dan juga terlihat sombong saat Irma mengenalkannya. Namun, dipertemuan kedua, entah kenapa Friska terasa tersihir oleh duda satu anak itu. Jantungnya berdegup sangat kencang saat pandangannya bertemu dengan manik hitam Ryan. Ryan yang baik hati mau membayarkan belanjaan dan membantu Friska yang kehabisan bensin, membuat Friska semakin terenyuh dan memuja lelaki itu.


Setelah berbalas chat tadi pagi, Friska dan Ryan memutuskan untuk makan siang bareng di sebuah cafe dekat sebuah hotel yang tidak jauh dari tempat magang Friska. Jam makan siang telah tiba dan saat ini Friska sudah sampai di tempat yang mereka sepakati.


Friska pun lantas masuk ke cafe tersebut. Dari ambang pintu, ia mengedarkan matanya pada setiap pengunjung di sana, mencari seseorang yang sudah memiliki janji dengannya. Namun, sepertinya lelaki itu belum sampai karena Friska sama sekali tidak melihatnya.


"Sepertinya dia belum datang," gumam Friska sambil berjalan mencari tempat kosong dengan tangan dan mata yang sibuk pada ponsel yang dipegangnya, mencoba menghubungi Ryan.


"Aww ...." Friska yang tidak memerhatikan jalan karena terlalu sibuk dengan ponsel sampai menabrak seseorang yang dari lawan arah. "Maaf, tidak sengaja," ujar Friska dengan kepala masih menunduk melihat ponsel.


Sementara itu, orang yang ditabrak Friska hanya menampilkan seutas senyum saat melihat gadis di hadapannya. Bukannya meminta maaf dengan benar, Friska malah langsung pergi tanpa melihat orang yang ditabraknya.


"Kamu mau ke mana?" tanyanya, saat Friska kembali melangkah.


"Eh!" Mendengar suara orang yang ditabraknya, spontan, Friska langsung menghentikan kakinya dan berbalik kembali ke belakang.


"Kamu mau ke mana? Maen tubruk saja, maen pergi gitu aja." Orang itu memamerkan lengkungan senyumnya dengan tangan yang terlipat di depan dada, membuat gadis di hadapannya semakin terpesona.


"Kakak! Maaf," ucap Friska tidak enak hati. "Tapi sejak kapan, Kak Ryan ada di sini? Kok, gue, eh, aku baru liat," tanyanya. Friska yang tadi sempat memindai cafe tersebut tidak melihat keberadaan Ryan, tetapi tiba-tiba lelaki itu tertabrak olehnya dari arah berlawanan.


"Makanya jangan maen hp mulu! Orang segede gini masih tidak kelihatan," ujar Ryan, kemudian duduk di kursi kosong, tepat di samping mereka bertabrakan. "Duduklah, kakak sudah memesan meja di sini," lanjut Ryan, yang ternyata sudah datang lebih awal dan telah memilih tempat duduk bagi mereka.


"Tapi, tadi aku sempat mencari-cari Kakak, tapi enggak ada," jelas Friska. "Makanya, gue mau hubungi kakak. Eh, maaf, bahasanya masih penyesuaian. Masih kadang khilaf. Kata gue-nya pengen ikut mulu." Friska tersenyum kikuk sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia sedang berusaha menghilangkan kata lo dan gue dari bahasa sehari-harinya, tetapi masih sering lupa.


"Tidak masalah. Sudah kakak bilang senyamannya saja. Tidak ada undang-undangnya juga kata lo-gue dilarang," jawab Ryan, kemudian menjelaskan kalau dirinya baru kembali dari kamar mandi dengan tangan yang melambai memanggil pelayan.


Seorang pelayan menghampiri Friska dan Ryan dengan membawa buku menu di tangan. Karena niat mereka bertemu untuk makan siang, keduanya pun lantas memesan makanan. Sambil menunggu pesanan mereka disajikan, keduanya mengobrol ke sana kemari. Meskipun lebih banyak Friska yang mendominasi obrolan mereka, banyak sekali hal-hal yang gadis itu tanyakan.


"Kenapa aku jadi berasa jadi wartawan, ya, dari tadi nanya mulu. Maaf, ya, Kak! Pasti risih, ya?" Friska merasa tidak enak hati dengan kelakuannya yang maen ceracas-cerocos sana-sini. 'Jaga image dikit, Fris! Lo itu malu-maluin banget!' Friska menasehati dirinya sendiri.

__ADS_1


"Tidak masalah, Fris. Bukannya ada pepatah yang bilang tak kenal maka tak sayang. Biar makin kenal ya, salah satunya dengan tanya-tanya," jawab Ryan dengan seutas senyum yang tertampil.


'Belum kenal aja gue udah sayang, gimana kalau udah kenal? Bisa mabok cinta tujuh pengkolan ini mah,' gumam Friska dalam hati, serta senyum yang juga menghiasi bibirnya.


Tidak lama kemudian makanan mereka datang, Ryan dan Friska pun makan bersama diselingi dengan obrolan-obrolan ringan dari keduanya.


Di saat mereka sedang makan siang bersama tanpa mereka sadari dua orang berseragam polisi juga memasuki cafe tersebut.


"Bukannya itu Friska?" Dimas menunjuk ke arah Friska dan Ryan berada.


Lelaki di samping Dimas yang tidak lain adalah Andre langsung melihat ke arah yang ditunjuk Dimas. Benar saja, adiknya sedang duduk di sana bersama seorang pria yang tidak diketahui wajahnya karena membelakangi mereka.


"Dia dengan siapa? Sepertinya akrab sekali?" tanya Dimas lagi, begitu melihat Friska yang sedang mengumbar senyum saat berbicara dengan lelaki itu.


"Aku tidak tahu. Samperin, yuk!"


"Udahlah adikmu sudah besar. Jangan ganggu dia! Mereka cuma sedang makan siang saja." Dimas mencegah Andre. "Ingat tujuan kita ke sini untuk bertemu Ryan, bukan untuk grebek orang yang lagi makan siang." Dimas mengingatkan tujuan mereka sampai datang ke cafe itu di jam istirahat.


"De, sedang apa di sini?" tanya Andre begitu sampai di tempat Friska yang berhasil membuat adiknya itu terkejut, sampai tersedat makanan.


Friska mendongak ke arah suara sambil terbatuk-batuk dengan wajah yang sudah memerah karena kaget serta sesak karena sesuatu tersangkut di tenggorokannya.


"Minumlah!" Dengan cepat, Ryan menyodorkan minuman kepada Friska dan langsung diteguk habis oleh gadis itu.


Sementara itu, Andre dan Dimas tidak kalah terkejutnya saat melihat orang yang bersama Friska adalah orang yang hendak mereka temui.


"Kau?" Andre menatap Ryan dengan sejuta tanda tanya.


"Iya ini aku. Apa kau sudah mulai pikun?" jawab Ryan dengan begitu santai.


Andre menatap tajam Ryan, lalu beralih ke arah Friska yang sudah menyelasaikan masalahnya dengan makanan yang tersangkut. Gadis itu hanya bisa menelan ludahnya untuk membasahi tenggorokan yang teras kering kembali, padahal baru saja diguyur dengan segelas es jeruk.

__ADS_1


"De, sedang apa di sini?" tanyanya


"Seperti yang kakak liat, aku lagi makan," celetuk Friska, yang membuat Ryan dan Dimas mengulum senyum.


"Emang siapa yang bilang kamu lagi berenang? Maksudku kenapa bisa sampai nyasar ke sini? Memangnya di kantor Bara tidak ada cafetaria-nya?" tanya Andre penuh selidik. "Terus kenapa bisa makan bareng sama duda tengil ini?" lanjut Andre sambil menunjuk Ryan.


"Janjian," jawab Friska santai


"What?!" tandas Andre dengan mata yang sudah membulat sempurna.


Melihat kakaknya yang sudah dalam mode waspada, Friska mulai menyadari kalau Andre tidak suka dengan jawabannya. "Santai, Kak. Aku hanya makan siang saja dengan Kak Ryan sebagai ucapan terima kasih kepada teman kakak itu," ucap Friska menjelaskan.


"Ucapan terima kasih?" Andre menyipitkan sebelah matanya.


"Iya. Kak Ryan yang membayarkan coklat dan bensin waktu itu," jelas Friska. "Dan semua itu juga gara-gara Kakak yang nyuruh aku beli coklat," lanjutnya, menyalahkan Andre.


"Apa itu benar, Yan?" selidik Andre kepada Ryan, yang dijawab anggukan lelaki itu.


Andre pun bernapas lega. Ia berpikir berarti bukan Ryan lelaki yang sedang diincar Friska.


"Dan, sekarang karena biang keroknya ada di sini. Maka yang traktir makanan aku dan Kak Ryan adalah Kak Andre," ujar Friska dengan senyum yang mengembang. "Dan berhubung sebentar lagi jam makan siangku berakhir, aku pamit dulu. Sampai jumpa!" Friska beranjak, lalu pergi dari sana.


"Aku antarkan saja, Fris!" tawar Ryan yang langsung mendapat pelototan dari Andre.


Friska yang mendengar itu pun langsung berbunga dengan senyum yang merekah, tetapi sejurus kemudian senyumnya menghilang saat melihat tatapan tajam Andre kepada Ryan.


"Tidak usah, Kak. Aku sudah pesan taxi online," jawab Friska, lalu pamit.


Selepas kepergian Friska, Andre menatap tajam Ryan seolah-olah pandangannya itu bersiap melucuti lelaki yang ditatapnya.


"Tatap mata Ojan!" Dimas yang melihat keadaan itu pun malah menggoda keduanya.

__ADS_1


"Jangan bilang kau mau mendekati adikku?"


__ADS_2