
Andre dan Irma tidak perlu berlama-lama tinggal di butik. Baju yang mereka pesan langsung pas tanpa perlu harus dirombak ini dan itu. Hanya tinggal finishing, baju mereka siap dipakai dengan sempurna.
Selepas urusan mereka di butik selesai, keduanya pun kembali ke toko kue di mana sepasang suami istri sudah menunggu. Jika tadi saat berangkat, Andre hanya memerlukan waktu beberapa menit untuk sampai ke butik. Lain halnya saat mereka pulang, meskipun jarak yang mereka tempuh sama tetapi waktu yang mereka tempuh perbandingannya berkali-kali lipat.
"Apa bedanya sama jalan kaki? Kalau dari butik sampai toko memakan waktu hampir satu jam. Katanya mo kerja lagi?" Kali ini wanita yang baru saja turun dari motor mengomeli Andre yang mengendarai motornya seperti siput.
"Katanya jangan kenceng-kenceng, dibawa pelan masih ngomel aja."
"Ya, pelannya yang normal aja jangan ngesot juga." Irma mengerucutkan bibirnya, menurutnya semakin ke sini Andre semakin menyebalkan saja.
"Jangan manyun entar aku hilap!" ujar Andre yang malah menggoda Irma.
"Tahu ah ...." Irma membalikkan badan, lalu melenggang ke dalam toko.
"Tempe aja." teriak Andre yang sedang memarkirkan motor, kemudian menyusul Irma.
Sementara itu, di dalam toko si ibu hamil sedang hilir mudik di depan meja kasir seperti setrikaan. Ia begitu khawatir dengan keadaan kakaknya setelah mendengar cerita dari Dewi.
"Duduk dulu! Entar dedenya kecapean ngikutin mamanya mondar-mandir mulu. Ingat kata dokter jangan banyak pikiran! Kakakmu pasti tidak apa-apa, bukankah tadi kita juga melihat dia baik-baik saja." Dimas menarik Naura supaya duduk di kursi yang sudah ia sediakan.
"Tapi, mendengar dia hampir tertabrak buat aku kepikiran terus."
"Sebentar lagi pasti juga mereka pulang." Belum kering ludah Dimas, tiba-tiba pintu terbuka lebar dan menampakkan Irma yang berjalan masuk. "Tuh, umurnya panjang!" Dimas menunjuk Irma.
Naura bernapas lega melihat kakaknya sudah kembali, segera ia berhambur ke pelukkan sang kakak, membuat yang dipeluk kebingungan sendiri.
"Ada apa ini?"
__ADS_1
Bukannya menjawab, Naura memandang Irma dari atas sampai bawah, bahkan menyuruh kakaknya itu memutar. "Ada apa sih? kenapa malah diputer-puter kayak gangsing gini?"
"Apa ada yang sakit?" tanya Naura.
Irma hanya menggeleng.
"Beneran enggak ada yang sakit?" tanya Naura lagi.
"Memangnya aku habis nyiksa calon istriku? Sampai-sampai kamu introgasi dia kayak gitu?" Andre melipat kedua tangan di depan dada saat melihat kelakuan Naura.
Naura menoleh ke arah Andre. Sekarang giliran Andre yang ditatap Naura dari atas sampai bawah. Namun tatapan itu bukan tatapan khawatir, melainkan tatapan singa lapar yang siap melahap mangsanya. Dengan kedua tangan yang bertengger di pinggang, mata elang Naura menatap tajam Andre.
"Kenapa jadi horor gini, ya?" Andre yang tadinya mau pura-pura tak menerima dengan ucapan Naura, malah dibuat mati kutu oleh tatapan yang seakan akan mengulitinya. "Ra, aku kagak nyiksa Irma!" ujarnya lagi, melihat Naura menghampirinya.
"Terus?" tanya Naura yang masih menatap tajam lelaki di hadapannya.
"Apa???" pekik Naura. Kedua matanya melotot sempurna. Belum sembuh keterkejutannya karena sang kakak hampir tertabrak, malah ditambah oleh ucapan Andre.
Melihat keterkejutan Naura, Andre tersadar kalau wanita itu belum mengetahui kisah yang satu itu. Andre menoleh ke arah Irma yang langsung mendapat gelengan dari si wanita yang berjarak setengah meter dengannya. Ia lantas menggerakkan kepalanya ke arah lelaki yang berdiri di depan kasir, dan langsung melihat Dimas yang seakan-akan sedang menebas lehernya sendiri dengan tangan.
'Salah jawab kayaknya.' Andre menelan ludahnya sendiri.
"Gila kamu, Dre! Kurang puas buat kakakku shok apa? Udah hampir ketabrak kamu malah tambah-tambahin bawa dia kebut-kebutan," cecar Naura sembari memukul lengan Andre.
"Apa tabrakan?" Sekarang Andre pun dibuat terkejut oleh pernyataan Naura. Tanpa menjawab pertanyaan Naura, lelaki itu langsung menghampiri Irma. "Mbak Say, kapan mau ketabrak? Kenapa enggak kasih tahu? Apa ada yang luka?" tanya Andre, sembari mengulang apa yang dilakukan Naura terhadap Irma.
"Kalian itu apa-apaan, sih? Aku bukan gangsing yang main putar-putar saja. Aku tidak apa-apa. Kalau enggak percaya tanya aja sama Dewi," protes Irma. "Iya, kan, Dew?"
__ADS_1
"Syukurlah kalau tidak apa-apa." Andre menghela napas lega.
"Alhamdulilah, Mbak Irma tidak kenapa-napa. Tadi si Mbak ditolong orang baik jadi bisa selamat. Bahkan, tadi Mbak Irma sempat mengobati lukanya di sini." Dewi ikut menimpali.
"Baik sekali orang itu. Siapa dia? Aku mau berterima kasih kepadanya," tanya Andre.
Mendengar pertanyaan Andre, Irma langsung menelan salivanya sendiri yang terasa begitu seret di tenggorokan. Ia takut malah akan terjadi kesalahpahaman.
"Aku tidak kenal, Pak. Tapi, dia cukup lama di sini. Cuman, sepertinya dia kaget gitu pas liat Mbak Naura masuk. Malah, dia sampe keluar dari pintu belakang," ujar Dewi, mengingat reaksi Ryan yang tampak terkejut melihata kedatangan Naura dan Dimas.
"Kamu kalau ngomong ngasal aja! Dia kira aku tukang palak apa?" seloroh Naura.
"Dia siapa, Mbak? Aku mau berterima kasih langsung kepadanya." tanya Andre lagi.
"Dia ... dia ...." Irma dibuat bingung sendiri. Ada rasa sesal, telah meminta bantuan kepada Dewi. Hingga akhirnya, ia memberanikan diri menyebut nama lelaki itu. "Ryan." Terpaksa, ia menyebut namanya daripada suatu saat mereka tahu dari mulut orang lain.
"Apa???" Rampak sekar dari suara Dimas, Naura dan Andre menggema di toko kue mengagetkan Dewi yang tak mengerti apa-apa. Sementara itu, Irma yang sudah bisa memprediksi reaksi mereka hanya bisa mengangguk.
"Kok, bisa?" tanya Naura tak percaya.
Irma hanya mengedigkan bahu. Ia sendiri tak paham kenapa Ryan tiba-tiba baik, bahkan rela menolongnya.
Berbeda dengan Andre. Ia yang sedari tadi memegang tangan Irma, seketika langsung melepaskan genggamannya.
"Pantas saja tak mau bercerita. Dia toh yang nolong," ujar Andre lalu pergi. "Dim, balik ke kantor yuk!" ujarnya lagi kepada Dimas tanpa menoleh lagi ke arah Irma.
"Mas! Jangan salah paham," teriak Irma yang tak dihiraukan Andre.
__ADS_1