
Seunit mobil melesat membelah keramaian jalan. Namun, suasana di dalam mobil tidak lagi sehangat sebelumnya. Para penghuni mobil bagaikan orang-orang asing yang tidak saling kenal, saling membisu dengan pikiran masing-masing. Hanya suara deru mesin yang menemani kebersamaan dua keluarga itu.
Irma yang duduk di bangku belakang, hanya bisa memainkan ujung-ujung kukunya saat mendapati suasana yang begitu dingin nan mencekam itu. Air mata pun tanpa terasa menitik lagi, semakin lama semakin banyak. Ketakutan telah memenuhi isi kepala wanita yang empat hari lagi akan berubah status. Namun kini, kebahagiaan dan rencang-rencana indahnya bersama Andre berada di ujung tanduk. Bagimana jika keluarga Andre berubah pikiran di detik-detik terakhir pernikahan mereka? Mungkinkah Irma akan sanggup menerima kesakitan lagi, bahkan bisa jadi lebih sakit dari yang sebelumnya.
'Seharusnya aku jangan terlalu terlena dengan kebahagiaan yang kudapat, karena pada akhirnya hal seperti pasti terjadi. Mana ada orang tua yang mau memberikan anak kesayangan mereka kepada orang sepertiku? Seharusnya kamu sadar dari awal, Ir! Seharusnya kamu tak terlena dengan kebahagiaan semu itu.' Tangannya menyeka air mata yang masih terus mengalir. Ingin rasanya Irma berteriak dan menumpahkan segala rasa yang begitu menyesakkan dada. Lagi dan lagi takdir mempermainkannya.
Ranti yang duduk di samping Irma, hanya bisa merangkul sang anak, mencoba menenangkan. "Semua pasti baik-baik saja," bisik Ranti seraya mengelus kepala Irma yang tertutup jilbab. Ia bisa merasakan ketakutan yang Irma rasakan. Semoga saja itu juga harapan Irma. Namun, ia tak bisa berucap. Ia hanya bisa menenggelamkan wajahnya di pelukan Ranti.
Sementara itu, Rita seakan-akan tak peduli. Wanita yang beberapa waktu lalu terus memanggil Irma 'sayang', kini hanya membisu tanpa sekali pun mau melihat keadaan Irma yang sudah kacau. Ia memilih acuh dengan raut yang tak lagi bisa diartikan.
Saling diam para penumpang mobil, mengantarkan mereka hingga tiba di rumah. Begitu mobil sudah terparkir, mereka keluar dari mobil.
"Masuklah dulu! Kita selesaikan pembahasan di kedai tadi." Kalimat itu terucap dari mulut Rita, setelah cukup lama membungkam mulutnya sendiri. Namun, ekspresi masih datar, bahkan sama sekali tak melihat wajah lawan bicaranya. Ia langsung melangkah memasuki rumah.
Irma hanya mengangguk, lalu mengikuti Rita.
"Maafkan sikap istri saya!" Ahmad merasa tak enak hati dengan sikap Rita, langsung meminta maaf kepada Ranti dan Irma. Sebagai seorang lelaki dan kepala keluaraga yang mengerti soal agama, ia mencoba berpikir dengan kepala dingin. Sejak awal, Ahmad tak sepenuhnya meyalahkan Irma, bahkan ia sadar betul setiap insan terlahir dengan segala kurang dan lebihnya.
"Silakan masuk!" lanjutnya, mempersilakan masuk Irma dan Ranti sembari membuka pintu yang sempat tertutup kembali oleh kekuatan super Rita yang membuka dan menutup pintu dengan kasar.
"Saya memakluminya, Pak. Di sini anak saya yang salah. Ia belum memberitahukan semuanya, jadi wajar kalau Mbak Rita marah. Apalagi dia tahu dengan cara yang tidak enak." Ranti memaklumi perasaan Rita.
"Mari, kita bicarakan lagi ini baik-baik di dalam. Kamu tak perlu khawatir, semuanya akan baik-baik saja, Nak!" Ahmad mengusap lembut kepala Irma dengan seutas senyum, membuat Irma mendapatkan sedikit ruang tuk bernapas.
"Terima kasih, Yah."
__ADS_1
Mereka memasuki rumah yang sudah disuguhi oleh wajah masam Rita di sofa dengan kedua tangan terlipat di depan dada, matanya menatap tajam kepada tiga orang yang baru saja memasuki rumah.
"Kenapa hawanya jadi horor gini, ya?" gumam Friska. Ia yang ada di rumah dibuat kebingungan saat melihat kedatangan ibunya dengan keadaan tidak bersahabat, bahkan sapaan Friska pun tak digubris oleh si ibu.
Friska semakin dibuat bingung saat melihat mata Irma yang digandeng Ranti tampak memerah karena tangisan. Ditambah lagi, mereka juga langsung duduk, tetapi tidak ada percakapan hangat dari mereka. Semua masih saling membisu.
Hingga, tiba-tiba dua orang lagi masuk ke rumah, dengan seseorang yang langsung berhambur kepelukkan Irma.
"Kak, apa kau tidak apa-apa? Apa dia menyakitimu lagi?" tanya Naura sembari memeluk Irma. Irma hanya menggeleng, tetapi air mata menjawab semuanya.
Naura mendapat kabar kejadian di kedai dari Andre. Ia berniat menanyakan kelancaran sidang kepada Irma, tetapi panggilannya tak kunjung tersambung, kemudian menghubungi Andre dan malah mendapatkan kabar mengejutkan itu. Ia yang khawatir dengan keadaan Irma pun memutuskan tuk segera pulang. Tanpa sengaja, Naura bertemu Andre di tengah jalan dan memilih ikut bersama lelaki itu.
"Maafkan aku! Seharusnya tadi ikut saja ke kantor," ujar Naura, merasa bersalah karena tidak ada saat kakaknya membutuhkan. Irma hanya diam. Berada dalam pelukkan Naura sedikit menenangkan hatinya.
"Ehm ...." Sebuah deheman pun menggema di ruang tamu, membuat semua orang menoleh ke arah suara. Naura yang masih memeluk Irma pun mengurai pelukkannya dan membenarkan posisi duduk.
"Semua sudah kumpul. Apa bisa kalian jelaskan yang diucapkan wanita lambe tadi?" lanjut Rita menatap tajam ke arah Irma dan Andre. "Mamah mau to the point. Apa yang diucapkan istri mantan suamimu itu benar?" tanyanya kepada Irma dengan nada mengintimidasi.
Irma melirik Naura. Sang adik tersenyum sembari memegang tangan Irma, menyalurkan kekuatan. Irma pun mencoba meraup oksigen banyak-banyak dari ruangan itu, lalu mengeluarkan karbondioksida secara perlahan.
"Be-benar, Mah. Aku di vonis mandul oleh dokter," jawab Irma.
"Hal sepenting itu kamu rahasiakan dari saya?" tanya Rita, bahkan ia sudah tak menyebut mamah lagi.
"Sabar, Mah. Jaga emosimu! Nanti darah tinggimu naik," Ahmad menggenggam jemari istrinya, meminta Irma lebih tenang.
__ADS_1
"Bagaimana aku bisa sabar. Kita ditipu abis-abisan oleh dia," sanggah Rita sembari menunjuk Irma yang masih menunduk. "Padahal aku sudah menaruh harapan banyak, kita akan menimang cucu dari Andre. Lalu bagaimana sekarang?" Cairan bening pun membasahi pipi Rita.
Andre tak terima Irma semakin dipojokkan mamahnya. "Mah, jangan salahkan Irma! Aku yang melarangnya memberitahu kalian," ucapnya, angkat bicara.
"Jadi kamu tahu keadaan calon istrimu, tapi kamu tak malah meminta dia merahasiakannya?"
"Maaf, aku pikir itu cukup kami saja yang tahu. Bukankah yang menjalani hubungan itu juga kami. Aku tak mempermasalahkannya, menurutku itu cukup."
"Dan kamu tak pernah memikirkan perasan mamah, hah? Kalau calon istrimu tak bisa mengandung, bagaimana kamu bisa punya anak? Apa kamu tidak dengar ucapan Pak Humas tadi, hah? Dia juga bilang fungsi pernikahan salahsatunya untuk menambah keturunan. Lalu, kalau begini, bagaimana urusannya?"
"Kalau tentang anak, bukankah kita bisa adopsi anak?" Andre juga tak mau kalah.
"Itu beda lagi, Dre!"
"Apa bedanya sama-sama ngurus anak juga 'kan?" Andre semakin kesal dengan setiap ucapan Rita yang semakin menyudutkan Irma.
"Beda tetap saja beda. Sebaiknya kita pikirkan ulang pernikahan ini. Semua ini juga demi kebaikan kamu ke depannya," sarkas Rita yang membuat semua orang terperangah. Semua orang di sana tak percaya, wanita yang selalu menyanjung-nyanjung Irma itu bisa berubah dalam beberapa jam. Lantas, ia beranjak dari tempat duduk, bagi Rita keputusannya sudah final.
"Mah, yang benar saja. Pernikahan tinggal berapa hari lagi, Mamah gak bisa ambil keputusan sendiri! Aku cinta sama Irma dan aku akan tetap menikah dengan Irma."
"Kalau gitu langkahi dulu mayatku." Sifat keras kepala Rita yang sudah melekat di diri ibu tiga anak itu sudah mengkontaminasi akal sehatnya.
"Mah!!!" teriak seluruh keluarga Andre, tak percaya dengan ucapan Rita.
Sementara itu, Ranti dan Irma hanya bisa menitikkan air mata dengan keputusan itu. Semua kelemahan memang ada pada Irma, tak ada yang bisa disangkal.
__ADS_1