Janda Cantik Milik Pak Polisi

Janda Cantik Milik Pak Polisi
84


__ADS_3

"Ara pergi menggunakan motor. Tolong kejar dia! Aku takut dia berbuat nekad, dia pergi dengan segudang amarah. Kamu tahu sendiri kalau dia lagi ngamuk. Aku takut dia kenapa-napa, apalagi ia lagi hamil besar. Aku mau mengejarnya, tapi tidak ada lagi motor. Susul dia, ya, Mas!" Irma berujar tanpa jeda begitu pintu terbuka lebar, membuat Andre yang membuka pintu langsung terperangah.


"Hah?!"


Masalah di rumah belum selesai, Naura sudah mencari mangsa baru. Padahal, tanpa Naura turun tangan pun, Andre sudah berjanji akan membuat perhitungan terhadap mereka.


"Mas!" Irma menggoyang-goyangkan kedua lengan Andre. Menyadarkan lelaki itu yang malah terdiam. "Tolong susul Ara! Atau kalau tidak mau, aku pinjam motormu saja. Biarkan aku yang menyusulnya," lanjut Irma dengan air mata yang tak bosan keluar dari kedua pupil indahnya. Ia sangat khawatir terjadi sesuatu dengan adiknya.


"Eh, iya. Maaf, aku malah bengong! Terlalu syok dengan bom atom yang tiba-tiba meledug," ujar Andre dengan seutas senyum yang coba ia tampilkan, sedangkan tangannya mengusap bulir bening di pipi sang kekasih. "Jangan menangis lagi! Percayalah semuanya akan baik-baik saja."


Bukannya berhenti, air mata di mata Irma malah semakin terjun bebas saat Andre menenangkannya. Kejadian hari ini benar-benar mengguncang Irma. Seperti apa pun ia mencoba kuat, tetapi Irma tak sekuat itu. Kegagalan dalam hubungan pertama masih menjadi momok mengerikan baginya. Spontan, Irma memeluk Andre, menumpahkan air mata dan semua ketakutannya di dada bidang si calon suami.


"Mas, aku takut!" ucap Irma disela tangisnya.


"Tidak ada yang perlu ditakutkan, semuanya akan baik-baik saja. Tidak akan terjadi apa-apa dengan hubungan kita." Andre mengusap lembut pucuk kepala Irma, menenangkan.


"Tapi—"


"Tidak ada tapi-tapi. Semuanya akan baik-baik saja." Andre tak memberi kesempatan Irma tuk melanjutkan kata-katanya. Lelaki itu pun langsung mengurai sedikit pelukannya, lalu memegang dagu Irma. "Lihatlah aku!" ucap Andre. Membuat Irma sedikit mendongak, sehingga mata keduanya pun saling bertemu. "Aku tidak akan mengingkari semua janji-janji kita. Anggap saja kita sedang melaksanakan ujian akhir seperti di sekolah dulu, sebelum kita mendapatkan predikat lulus dan ijazah. Tidak ada yang perlu ditakutkan. Semua akan baik-baik saja dan kita akan tetap menikah seperti yang sudah direncanakan."


"Lalu kalau Mamah masih tetap tidak setuju?"


"Aku tahu Mamah. Dia orang baik dan selalu mementingkan kebahagiaan anak-anaknya di atas segalanya. Hari ini, ia hanya kaget dan tidak bisa berpikir jernih. Bersabarlah! Dia hanya butuh waktu untuk mencerna semua yang terjadi," tutur Andre, meyakinkan Irma dengan penuh kelembutan.


Tak ada jawaban dari Irma. Ia kembali mengeratkan pelukannya kepada Andre. Meskipun Andre terus meyakinkannya, tetapi melihat Rita yang begitu murka, membuat keraguan tak serta merta menghilang dari hatinya.

__ADS_1


"Tidak akan ada yang bisa memisahkan kita. Kita akan tetap bersama sampai ajal menjemput," lanjut Andre lagi saat mendapati Irma masih diam. "Kamu percaya sama aku, kan?"


Masih tidak ada suara. Akan tetapi, kepala Irma mengangguk, memberikan jawaban.


'Aku memercayai semua ucapannmu. Tapi, aku takut, ketika kamu dipilihkan untuk memilih salahsatu. Aku tak mau kehilanganmu dan aku juga gak mau kamu jadi anak durhaka. Aku juga menyayangi Mamah Rita aku tidak mau dia terluka.'


"Sebagai anaknya, aku juga meminta maaf atas sikap mamah yang keterlaluan sama Mbak Say. Mbak Say mau memaafkan kekhilafan mamah, kan?" ujar Andre lagi yang juga dijawab anggukkan Irma.


Walaubagaimana pun, Irma juga sadar kenyataan itu tak mudah diterima untuk semua orang dan ia memahaminya.


"Apa kita akan terus berpelukkan seperti ini? Rumput tetangga pada liatin, lho!" goda Andre, setelah cukup lama mereka berpelukkan. "Kalau dipeluk terus, gimana aku nyusul Ara-nya, Mbak Say?"


Ara? Bukankah awal Irma menemui Andre untuk meminta lelaki itu menyusul Naura yang pergi ke rumah Elsa. Kenapa malah melupakan tujuan awalna menemui Andre? Ia malah terbawa suasana dengan kekalutan masalah yang menerpa. Lalu, saat melihat Andre ada di hadapannya, Irma tak bisa menyembunyikan kekacuan hati dan bergegas memeluk Andre.


Dengan malu-malu, Irma melepaskan pelukannya. "Maaf!" ujar Irma seraya menunduk.


"Mas, ih!" Senyum tersungging di wajah yang sudah kenyang oleh tangis itu. Irma juga menghadiahi Andre cubitan di lengan yang semenjak tadi memberikannya ketenangan.


"Ya, Tuhan. Ucapan terima kasihnya gak asyik bener. Orang lain kalau berterima kasih dikasih kiss kek, ini malah dicubit." Andre berpura-pura merajuk sambil mengusap lengannya yang kena patil tangan Irma.


"Mau dicubit lagi?"


"Mau peluk aja lagi," jawab Andre, menggoda Irma. Ia tahu betul kalau kesadaran Irma sudah kembali seratus persen, mana mau wanita itu main peluk-peluk dirinya. Jadi, di saat ada masalah ada hikmah tersendiri bagi Andre.


"Mas!!!" Irma bersiap mencubit kembali Andre. Andre yang terus menggodanya, membuat Irma tersipu.

__ADS_1


"Nah, gitu senyum, kan cantik. Kalau nangis jelek." Andre mengusap pucuk kepala Irma. "Sudah, ah, aku susul Ara dulu. Kalau terjadi apa-apa dengan istrinya, aku bisa digantung Dimas," ujar Andre, lalu beranjak menuju motor yang masih terparkir di halaman dengan kunci yang masih menempel. Diikuti Irma yang juga berjalan dibelakangnya.


"Jangan nangis lagi! Entar telurku terancam keutuhannya," lanjutnya mengingat ancaman dari calon adik iparnya, membuat keduanya saling melempar senyum.


"Aku berangkat, ya!"


"Hati-hati!"


Andre mengangguk, lalu melajukan motornya. Akan tetapi, baru keluar halaman rumah, tiba-tiba Andre menghentikan motor.


"Ada apa, Mas? Apa aku harus ikut?" tanya Irma, menghampiri.


"Enggak usah. Tapi, aku nyusul Ara ke mana, ya?" tanya Andre dengan senyum yang tersungging.


Irma meminta maaf karena lupa memberitahukan alamat Ryan. Setelah mendapatkan alamat yang dituju dengan kecepatan tinggi Andre membelah jalanan, menuju alamat tersebut. Mengingat sifat Naura, membuat Andre khawatir takut Naura tidak bisa mengontrol diri dan malah akan membahayakan Naura sendiri dan kandungannya.


Setelah memakan perjalanan yang cukup lama, Andre pun tiba di sebuah rumah sesuai alamat yang diberikan Irma. Ia langsung memasuki gerbang yang masih terbuka dan memarkirkan motornya sembarang arah.


"Apa yang terjadi?" Andre terkejut dengan keadaan depan rumah yang sudah berantakan, bahkan pot-pot bunga sudah terpecah belah. "Apa ini kelakuan calon adik iparku? Ya, Tuhan si singa betina enggak nyadar ia lagi bunting. Gimana kalau dia malah brojol di sini? Kalau terjadi apa-apa, apa yang harus aku katakan pada suaminya?" Andre mengacak-acak rambutnya sendiri.


Melihat keadaan depan rumah yang kacau balau dan mengingat kebarbaran Naura, membuatnya semakin khawatir.


Andre pun bergegas masuk ke dalam rumah yang pintunya juga terbuka lebar. Ia memindai setiap ruangan yang dilewatinya, tetapi tak ada pertanda Naura ada di sana. Tempat itu sunyi seperti tak berpenghuni. Rasa khawatir semakin menyeruak, bagaimana kalau Elsa atau Ryan berbuat apa-apa dengan Naura? Meskipun Andre tahu, Naura itu tak sama dengan Irma, tetapi kondisi Naura tidak mendukung—wanita itu sedang hamil tua. Hingga, suara yang dikenalnya terdengar dari sebuah ruangan.


"Mati kau!" suara itu jelas terdengar di telinga Andre berbarengan dengan suara benda yang dipukul-pukul.

__ADS_1


"Apa yang dilakukan Naura?" Andre segera menuju sumber suara. Jangan sampai Naura berbuat sesuatu yang bisa merugikan dirinya sendiri.


__ADS_2