
Meskipun dalam keadaan hamil tua, tak menjadi hambatan bagi Naura untuk menikmati pantai dengan berbagai fasilitas yang mendukung. Kata lelah seperti tidak pernah ada pada kamus Naura saat ini, yang ada hanyalah kebahagiaan yang tak terhingga.
Setelah puas bersepeda, Naura mengajak sang suami pindah kendaraan menggunakan kuda. Ia menikmati pinggir pantai dengan menaiki kuda berdua bersama sang suami.
Bosan dengan kuda, ia menyeret suaminya untuk berjalan kaki di bibir pantai merasakan sinar ultraviolet yang menembus kulit bersamaan dengan dinginnya air laut yang membasahi kaki. Senyum terus terukir dari wajah yang sedang berlarian ke sana kemari di atas pasir basah, menanggalkan bekas kaki di sana yang kemudian hilang tersapu air laut.
"Sayang, jangan lari-lari!" Beberapa kali Dimas memperingati wanitanya, tetapi tak diindahkan.
Kebahagiaan Naura bertemu dengan pantai sepertinya membuatnya lupa diri kalau ia sedang berbadan dua dengan perut yang sudah besar, sehingga membuat ngilu orang yang melihat.
"Eh ... eh ...." Naura yang sedang berlari kecil terkesiap saat seseorang mengangkat tubuhnya.
Ya, Dimas yang takut terjadi sesuatu pada anak dan istrinya karena ke-hiperaktif-an sang istri, langsung melebarkan langkahnya menyusul Naura, lalu menggendong wanita itu ala bridal style. Tak peduli meskipun jadi tontonan pengunjung lain.
Mendapati Dimas yang tiba-tiba menggendong, sponta Naura melihat kesekililingnya dan tampak orang-orang sedang memperhatikan mereka, membuat ia lantas bersembunyi di dada sang suami. Malu. "Papol turunin! Malu diliatin banyak orang."
"Mau lari-larian ke mana lagi? Mau sekencang apa? Ayo!" ujar Dimas, tanpa melihat ke arah Naura. Bahkan, tanpa mengindahkan ucapan Naura, ia terus berjalan membawa wanitanya. Rasa khawatir kepada keadaan sang istri membuat lelaki itu tidak bisa menutupi kekesalannya saat Naura tidak memedulikan ucapannya.
"Maaf." Sadar sang suami sedang kesal, Naura lantas meminta maaf. "Maaf, Papol, aku terlalu antusias." Ia menatap wajah sang suami yang masih memalingkan muka, penuh sesal.
Dimas tak menjawab, ia terus melangkah sampai berhenti di area kursi santai yang berjajar rapi, lalu menurunkan Naura di salahsatu kursi santai tersebut.
__ADS_1
"Maaf." Naura menatap wajah Dimas sembari menggenggam erat tangan lelaki yang hendak duduk di kursi samping Naura. "Maaf, aku salah," ujarnya lagi, memelas.
Huft! Dimas membuang napas kasar, tak kuasa melihat wajah sang istri yang begitu memelas. Lantas, ia duduk di tepi kursi Naura. Tangannya meraih tangan yang sedang menggenggam tangan Dimas satu lagi. Kedua mata Dimas menatap Naura yang ada di hadapannya. Tatapan lelaki itu masih terlihat tajam membuat Naura langsung menunduk, tanpa berani berucap lagi. Di dalam hati, Naura terus merutuki dirinya sendiri. Sebuah maaf masih belum didapat dari lelaki yang terasa sedang melucutinya dengan tatapan membunuh, dan sebuah cairan bening pun menetes membasahi pipi.
Tanpa sepengetahuan Naura, sejurus kemudian tatapan Dimas sudah berubah teduh kembali, bahkan ia menampilkan seutas senyum saat sang istri tertunduk dengan rasa bersalahnya. Dimas menarik dagu Naura, membuatnya bisa menatap wanita itu lagi.
"Kenapa malah menunduk? Lihatlah aku!" ujar Dimas. "Kamu nangis?" tanyanya lagi, melihat air mata meleleh di pipi sang istri dan langsung mengusapnya.
"Maaf, telah membuatmu marah."
Dimas menangkup wajah Naura dengan seutas senyum yang tertampil. "Aku tidak marah hanya sedikit kesal saja," ujarnya, lalu menarik Naura ke dalam dekapannya. "Sayang, kamu tahu kan aku melarangmu berlari-larian karena khawatir kepada keadaanmu? Aku tidak mau terjadi sesuatu kepada dirimu. Bermainlah dengan wajar, ingat kamu itu tidak sendiri! Kasian debay kalau kamu kecapean, dia juga bakal kecapen."
Naura mengangguk. Kali ini ia tak menyanggah sedikit pun. Sadar sesadar-sadarnya, ia telah dibuat kalap oleh kegirangannya sendiri. Naura pun berjanji tidak akan mengulanginya lagi.
Naura kembali mengangguk.
"Ok, tunggu sebentar, ya!" Dimas beranjak dari kursi, lalu menghampiri pedagang air kelapa muda yang tak jauh dari tempat mereka berada.
Naura dan Dimas meneguk air kelapa muda segar di bawah payung teduh dengan mata yang memandangi birunya air laut dan langit yang sesekali dilewati awan putih. Tampak beberapa orang yang sedang bermain voly pantai serta orang-orang yang bersatu bermain pasir dan air laut tak luput dari pandangan suami istri tersebut.
"Kalian sedang ngapain di sini?" Tiba-tiba Andre menghampiri Naura dan Dimas dengan pakaian yang sudah basah semua.
__ADS_1
"Menikmati angin sepoy-sepoy sembari meneguk air kelapa muda yang begitu menyegarkan," jawab Dimas sembari mendekatkan sedotan dari kelapa di tangannya ke mulut. Namun, belum sempat sampai di mulut, Andre merebut kelapa hijau itu.
"Kalau neguk tuh kayak gini!" Andre membuang sedotannya, lalu meneguk air kelapa itu langsung sampai habis. "Segernya! Makasih," lanjutnya sembari memberikan kelapa yang sudah kering.
"Habis?" Dimas menyipitkan matanya mendapati air kelapanya ludes tak bersisa, bahkan sampai ia membalikkannya pun tidak ada air sedikit pun. "Sungguh ... ckckck ...." geleng-geleng.
Andre hanya nyengir kuda sambil menggeser kaki Dimas yang sedang selonjoran, lalu duduk di sana. "Bumil, apa enggak mau gabung sama kita?" tanya Andre kepada Naura. "Noh, kakakmu nyuruh aku ngajak kamu maen pasir di sana." Ia menunjuk ke arah Irma yang sedang membuat istana pasir. Irma yang juga sedang melihat ke arah mereka langsung melambai.
Naura menoleh ke arah suaminya. Ingin ikut bergabung dengan kakak dan kakak iparnya, tetapi kali ini ia tak mau membuat Dimas kesal lagi. Ia tak mau bermain apapun tanpa seizin si suami.
"Ayo, maen pasir!" ucap Dimas, sembari menyodorkan tangan ke arah Naura.
"Boleh?" tanya Naura, memastikan.
"Tentu saja, asal jangan renang ke tengah."
Dengan wajah yang sumringah, Naura meraih tangan yang minta digaetnya. "Ayo!" Jangan tanya sesenang apa, sejak tadi ia sudah gatal ingin basah-basahan sambil main pasir. Namun, urung diungkapkan karena takut Dimas kesal lagi.
"Dikasih mantra apa, istrimu jadi kalem super nurut gitu?" tanya Andre kepada Dimas saat tubuh mereka dikubur pasir oleh Naura dan Irma. Ia melihat ada yang aneh pada Naura, setiap mau melakukan sesuatu selalu bertanya kepada Dimas terlebih dahulu dan langsung diam saat Dimas melarang.
"Rahasia," tutur Dimas sambil memperhatikan Naura dan Irma yang sedang bermain air, saling menciprati dengan senyum yang tak pudar dari wajah keduanya.
__ADS_1
Liburan berempat mereka terus berlanjut sampai sore hari. Mereka menikmati beberapa tempat wisata di sana yang aman bagi Naura. Bermain ke cagar alam, memberi makan hewan-hewan dilindungi. Tidak lupa juga mereka menikmati pemandangan bawah laut dengan biotanya termasuk ikan hiu dan pari di sebuah akuarium terbesar di ASIA yang terletak di tempat mereka berlibur. Lalu, menjelang sore dua pasang suami istri itu mengakhiri penjelajahan mereka dengan menikmati menu nasi liwet di sebuah pemancingan dengan lauk hasil pancingan sendiri yang dipasak langsung oleh mereka.