Janda Cantik Milik Pak Polisi

Janda Cantik Milik Pak Polisi
92


__ADS_3

Dengan di pimpin pemuka agama setempat, acara pengajian sebelum hari pernikahan pun terlaksana dengan sangat khidmat. Seluruh keluarga mengucap syukur, rangkaian acara demi acara di hari min satu telah berjalan lancar. Setelah acara selesai, dua keluarga itu pun kembali ke rumah masing-masing untuk beristirahat, mempersiapkan diri untuk acara besok yang tentunya akan lebih melelahkan dari hari ini.


Begitu pun dengan sang calon pengantin perempuan, dengan gaun muslimah yang dikenakannya, Irma masuk ke kamar dan diikuti sang adik sejak tadi terus mengekorinya.


"Tumben ngekor mulu. Enggak kasian sama papolmu dianggurin terus?" tanya Irma sembari membuka kerudung, lalu gaun yang dipakainya.


Berganti pakaian di hadapan Naura merupakan hal biasa bagi Irma, bahkan Naura pun tampak acuh. Si ibu hamil itu lebih memilih berbaring di atas kasur yang mungkin besok akan menjadi milik Andre.


"Udah izin untuk seharian ini aku sama Kakak. Sebelum si Andre memilikimu seutuhnya." Naura yang sedang berbaring di atas kasur memamerkan rentetan giginya.


Irma menoleh sembari menyipitkan sebelah matanya. "Diizinin?"


"Diizinin dong," jawab Naura dengan bangganya. "Meskipun agak manyun dikit," lanjutnya sambil mengangakat sebelah tangan dan menekan ujung telunjuk dengan ibu jarinya. Mengingat detik-detik saat Dimas yang terus merajuk, karena terus diangguri. Bahkan, saat meminta izin untuk tidur bersama Irma, Naura harus membujuk lelaki itu dengan rayuan-rayuan yang membuat Dimas terbang ke langit ke tujuh.


"Dasar!" Irma yang sedang mengambil baju ganti hanya geleng-geleng.


"Aku hanya ingin menghabiskan malam ini bersama kakak tersayangku, terus berbagi kasur dan cerita kayak dulu lagi. Sebelum kasur ini kamu bagi dengan Andre," ujar Naura sambil menepuk tempat kosong di sebelahnya.


"Terserah kamu sajalah."


Setelah selasai berganti pakaian, Irma juga ikut bergabung dengan sang adik. Menjatuhkan tubuhnya di tempat yang tadi ditepuk Naura. Keduanya tidur bersampingan dengan mata mereka menatap langit-langit kamar. Sudah lama, Naura dan Irma tidak menghabiskan waktu untuk tidur sekamar seperti itu. Pembicaraan dari mereka pun mengalir, berbagi cerita ini dan itu.


"Tapi sepertinya Mamah Rita belum bisa sepenuhnya menerimaku," ujar Irma disela-sela permbicaraan mereka.


"Enggak usah dipikirin, terpenting keluarga yang lain mendukung. Siapa tahu nanti dia luluh lagi. Enggak pun, enggak apa-apa, Kakak kan gak tinggal serumah sama dia. Jadi aman, gak bakal liat muka sensinya dia."


"Hush! Kamu itu, ya." Tangannya menepak bahu Naura. "Tapi, ngomong-ngomong, terima kasih selalu ada untuk kakak. Kamu selalu membantu kakak di setiap waktu." Irma menggerakkan kepalanya, melihat sang adik yang masih menatap langit-langit kamar.


"Itulah gunanya saudara. Selalu ada kapan pun dan di mana pun." Naura juga menoleh ke arah Irma sembari memamerkan ginsul pemanis senyumnya itu.

__ADS_1


"Aku sayang Kakak," lanjutnya, lantas memeluk wanita yang besok akan ratu sehari itu.


"Aku juga sayang kamu." Irma pun membalas pelukkan Naura.


'Semoga kita bisa seperti ini terus sampai nenek-nenek."


"Tentu saja kita akan tetap seperti ini. Tidak akan ada yang mengubah hubungan kita sampai kapan pun."


Naura mengangguk pelan, lalu mengeratkannya pelukannya. Cukup lama mereka berpelukkan, hingga sebuah ketukkan terdengar dari pintu kamar Irma.


"Kakak buka pintu dulu!" Irma melepas pelukkannya, lalu beranjak membuka pintu.


"Kenapa aku menangis?" tanya Naura pada dirinya sendiri saat Irma meninggalkannya. Ia pun segera menghapus air mata yang tanpa permisi meluncur di pipi, membuat Naura kebingungan sendiri. 'Sepertinya hormon dalam tubuhku sedang tidak stabil,' gumamnya lagi berspekulasi.


"Siapa, Kak?" tanya Naura kepada Irma, sedikit berteriak.


Belum sempat Irma menjawab, seorang anak kecil berlari masuk ke kamar dengan mobil-mobilan dan dot di tangan.


"Tidak apa-apa, Kak. Zi biar tidur di sini saja," jawab Irma dengan seutas senyum yang tertampil.


Anak kecil itu memang sudah sangat dekat dengan Irma, bahkan saat ia menginap di rumah Rita pun Zidan selalu tidur bersamanya. Meskipun Anisa merasa tak enak hati meninggalkan Zidan, tetapi anak itu tetap bersikeras untuk tetap tinggal bersama Irma. Bahkan, Zidan sampai bersembunyi di balik selimut karena tidak mau diajak kembali. Terpaksa, Anisa meninggalkan anaknya bersama Irma dan Naura.


"Hei, anak kecil! Mamahmu udah pergi, sini gak usah ngumpet lagi." Naura yang sejak tadi memperhatikan tingkah Zidan langsung meminta anak itu membuka selimut, takutnya Zidan kehabisan napas karena terlalu lama bersembunyi di balik selimut tebal.


Perlahan, anak kecil itu membuka selimut yang menutupi kepalanya. Melihat ke sekeliling, hanya tampak Irma dan Naura ada di kiri dan kanannya sembaru tersenyum. Tidak ada Anisa disana, ia pun langsung keluar dari selimut, lalu duduk.


"Zi mau tidul dengan Ateu, tapi dilalang Mamah," ujar Zidan dengan kepala menunduk sembari memainkan mobil-mobilan di tangannya, takut Irma melarang juga.


"Tapi bertiga sama Ateu Ara juga. Enggak apa-apa?" tanya Naura.

__ADS_1


Zidan mendongak ke arah Naura. Mata polosnya menatap Naura, memperhatikan dari atas sampai perut. Zidan pun menggeleng.


"Bukan beltiga, tapi belempat ama dede bayi," celoteh Zidan yang membuat Naura dan Irma tertawa oleh tingkah anak kecil itu.


"Ya, ampun gemas sekali." Naura mengacak-acak rambut Zidan saking gemasnya. "Ya, sudah, katanya mo tidur berempat, sekarang udah malam Zidan langsung tidur. Besok kita liat Om dan Tante Zidan jadi pengantin," lanjut Naura.


"Peantin itu apa?" Bukannya mengiakan akan tidur, Zidan malah mempertanyakan ucapan Naura yang belum dimengerti oleh anak seusianya.


"Aku salah ngomong sama anak kecil. Kakak aja yang jelaskannya." Naura melempar pertanyaan kepada Irma, sedangkan dirinya memilih tuk meluruskan tubuhnya lagi.


Irma mengulum senyum, lalu mendekati Zidan. "Zi, mau dengerin dongeng?" tanya Irma, mengalihkan pertanyaana anak kecil itu dan dijawab anggukan antusias oleh Zidan.


Irma pun langsung membaringkan Zidan di tengah-tengah ia dan Naura. Kemudian, ia menceritakan sebuah dongeng penghantar tidur. Hingga, tidak selang berapa lama, Zidan tertidur dengan dot masih setia di mulut.


"Selamat tidur, Sayang!" Irma mencium kening Zidan, lalu mengambil dot yang maish menempel di mulut anak kecil itu.


Semua perbuatan Irma terhadap Zidan tidak luput dari perhatian si ibu hamil. Naura yang sedang memiringkan tubuhnya dengan satu tangan sebagai penyangga kepala itu pun menatap Irma dan Zidan secara bergantian. "Kakak, sayang sama Zidan?" tanya Naura.


"Tentu saja. Siapa yang tidak sayang kepada anak selucu dia?" jawab Irma dengan tangan yang masih mengelus-elus pucuk kepala Zidan.


Naura mengangguk-angguk sambil mengubah posisi tidurnya, berbaring dengan bantal sedikit lebih tinggi. "Iya, juga, sih. Aku yang baru bertemu dua kali bertemu saja udah sayang sama dia." Naura membenarkan ucapan Irma. "Tapi, kalau nanti anakku lahir, apa kakak akan menyayanginya juga?"


"Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja aku akan menyayanginya."


"Anak kucing aja kau sayang, apalagi anakku ya, Kak?" Naura memamerkan rentetan giginya.


"Nah, itu kamu tahu."


"Nanti bantuin Papol jaga anakku, ya! Sayangi dia layaknya anak sendiri," lanjut Naura sembari mengelus perutnya yang semakin membesar.

__ADS_1


Irma tidak menjawab. Ia menatap sang adik, mencoba menyelami arti perkataan yng keluar dari mulut Naura. Merasa tidak ada sahutan, Naura pun menoleh dan mendapati Irma yang masih menatapnya dengan rasa bingung.


"Maksudku tolong bantuin aku jaga debay kalau nanti aku sedang sibuk. Kita jaga dia bareng-bareng! Anakku, anakmu juga. Bukankah kita selalu berbagi dalam hal apapun?" Naura meralat ucapannya. "Kecuali suami. Itu gak boleh dibagi-bagi. Udah, ah, aku ngantuk mo tidur," lanjut Naura lagi, kemudian memilih untuk mengistirahatkan matanya.


__ADS_2