
"Tega banget kamu. Mas. Ngasih bunga kok, ladang nyuri." Irma mengerucutkan bibir saat Andre tertawa begitu lepas, mengingat darimana bunga itu di dapat.
"Maklum dalam kondisi darurat," jawab Andre dengan tawa yang susah direm dari mulutnya itu. "Apa Nek Minah marah-marah?" tanyanya lagi, tawanya semakin menggelegar membayangkan nenek-nenek, yang giginya tinggal dua di depan itu, marah-marah sambil berkacak pinggang.
"Darurat kepalamu!" Melihat tawa Andre yang semakin menjadi, Irma menghadiahi lelaki itu cubitan di pinggang. "Dia ampe mencak-mencak gak karuan, ampe yang nyuri mo dia kutuk jadi panci. Iya, kali, besok aku nikah sama panci." Bukannya mereda, tawa Andre malah semakin menjadi saja. "Udahlah, ketawa aja yang puas. Biar aku balik lagi aja ke toko. Fiting bajunya lain waktu aja kalau ketawamu sudah puas." Irma membalikkan badannya hendak kembali ke toko, pura-pura merajuk.
Dengan segera, Andre pun menarik tangan Irma cukup kuat, membuat wanita itu langsung putar badan dan jatuh tepat di depan Andre yang hampir tak berjarak. Andai saja tak ada tangan Irma yang menjadi penyekat, wajah keduanya pasti sudah saling beradu.
"Mbak Sayang, kurang dekat." Andre menggoda Irma, mendapati posisi mereka sangat dekat, bahkan mereka bisa merasakan deru napas pasangannya.
Spontan, Irma pun sedikit menjauh. "Mas, ini apa-apaan sih? Gimana kalau jatuh dari motor? Yang ada entar aku ketiban kamu sama motor." Andre yang menariknya dalam keadaan masih duduk di atas motor langsung mendapat omelan Irma.
"Tapi enggak, kan?"
"Tau, ah!" Irma memalingkan wajah dari lelaki yang terus saja menggodanya.
"Udah jangan ngambek lagi dong! Iya, maaf. Tadi aku kasih bunganya hasil ngambil dari halaman Nek Minah. Sekali-sekali ngerjain Nenek pelit itu, tak apalah!" ujar Andre yang langsung mendapat pelototan dari Irma, meskipun yang diucapkannya benar adanya. "Memang pelit, kan? Udah terkenal juga," Andre mencoba membela diri yang malah membuat Irma semakin melotot.
"Iya, maaf. Enggak boleh berbicara seperti itu kepada yang lebih tua. Nanti aku ganti bunganya, sekaligus minta maaf sama dia." Tak ingin mendapat pelototan yang ketiga kalinya, Andre pun mengucapkan sesuatu yang ingin Irma dengar.
"Nah, gitu dong! Itu baru calon imamku yang soleh." Irma memamerkan senyum termanisnya yang selalu berhasil membuat dada Andre dipenuhi berjuta kupu-kupu.
"Ya, Tuhan. Baru dikasih senyum saja aku sudah kelepek-kelepek, gimana kalau nanti dikasih surabi? Bisa-bisa aku dibuat bertekuk lutut olehnya," gumam Andre sangat pelan.
"Ngomong apa, Mas?"
__ADS_1
"Eh, enggak." Andre terkesiap dengan pertanyaan Irma. "Cuma penasaran dengan reaksi Nek Minah." Ia memamerkan kembali rentetan giginya.
Irma pun dengan antusias menceritakan kejadian selepas Andre pergi. Bagaimana paniknya Nek Minah saat bunga kesayangan yang akan dipersembahkan kepada si cucu hilang, dan bagaimana paniknya Irma pula yang harus menyembunyikan bunga di tangannya karena tak ingin kena semprot oleh si nenek yang sedang marah-marah. Kedua sejoli itu malah keasyikan berbincang-bincang di depan toko sampai melupakan tujuan mereka sebenarnya.
"Bukannya kalian mau fiting baju? Kenapa malah asyik panas-panasan di sini?" ucap seorang pria mengagetkan keduanya.
"Orang mo nikah itu luluran, spa, biar kulitnya mulus dan glowing. Nah, ini malah berjemur di tepi jalan. Berjemur di pantai, Mas, Mbak!" imbuh seorang wanita yang bergandengan dengan pria tadi.
Merasa diingatkan oleh sepasang suami istri itu, Andre pun langsung menghidupkan motornya. "Keasyikan ngobrol, di tepi jalan pun terasa di Hawai," jawab Andre tanpa menoleh ke arah sepasang suami-istri tersebut. "Mbak Say, ayo! Istirahatku gak lama." Andre meminta Irma segera naik dan langsung tancap gas. "Makasih, adek ipar sudah mengingatkan!" teriaknya dari motor yang sudah melesat.
Berpacu dengan waktu yang terus berkurang, terpaksa Andre mengendarai sepeda motornya dengan kecepatan tinggi. Bahkan Irma sampai ketakutan dan berpegangan sangat erat kepada lelaki yang seminggu lagi akan sah menjadi suaminya.
Sesampai di tempat yang ditunjuk sang mamah atas rekomendasi mamahnya Dimas, Andre langsung turun dan segera masuk ke dalam butik yang bersebelahan dengan salon itu. Pemilik butik tersebut pun dengan segera menyambut kedatangan Andre.
"Selamat siang, Pak Andre! Mau fiting baju sekarang, ya?"
"Tante silau sama baju. Sudah semestinya hormat sama polisi," ujar pemilik butik itu yang usianya tak jauh dari usia Ana.
"Hormat sama bendera, Tan."
"Ah, kamu bisa saja." Pemilik butik itu memukul pelan bahu Andre. "Ngomong-ngomong kamu fiting baju sendiri? Calon istrinya mana?" lanjutnya.
"Tante kalau bercanda jangan gitu banget! Udah ah, mana bajuku? Waktuku tidak banyak." Andre meminta baju yang hendak ia coba.
Namun, si pemilik butik malah celingak-celinguk melihat tak ada orang yang datang bersama Andre.
__ADS_1
"Mbak, baju pengantinku mana? Si Bosnya malah ngelamun enggak jelas," pinta Andre kepada pekerja yang ada di sana.
Si pekerja pun dengan sigap langsung mengambil baju yang diminta Andre.
"Dre, kamu nikah sama manusia bukan sama hantu kan?" tanya wanita itu lagi.
"Tante Dian kalau ngomong jangan ngasal! Wanita cantik melebihi bidadari, Tante sebut hantu. Tega sekali, Tante, ini."
"Kalau bukan hantu mana orangnya?" tanya wanita yang bernama Dian itu. Karena memang tak ada siapa-siapa di sana dan ia juga belum pernah bertemu dengan Irma, sedangkan ukuran dan detail-detail baju untuk Irma didapatnya dari Ana, tanpa pernah sekali pun bertatap muka langsung dengan custumer.
"Tan, calon istriku ngejugrug segede gini masa gak ke ..." Kesal Irma terus disangka hantu, Andre langsung menunjuk ke samping dan betapa terkejutnya ia saat mendapati Irma tak ada di sampingnya.
"Engga apa, Dre?"
"Tan, Irma mana? Tadi aku masuk bareng dia?" tanya Andre panik.
"Mana Tante tahu, dari tadi kamu datang sendiri." Dian menimpali.
"Ya, Tuhan. Irma nyangkut di mana?" Andre mengacak-acak rambutnya sendiri.
"Pak, ini bajunya!" Seorang pekerja yang dimintai baju oleh Andre, menghampiri.
Tanpa memedulikan ucapan si pekerja butik, Andre langsung keluar. Mencari Irma yang entah tersangkut di mana.
"Dia mau ke mana, Bu?" tanya si pekerja keheranan.
__ADS_1
"Dia kira calon istrinya apaan ampe nyangkut segala?" Dian malah geleng-geleng, tawanya pecah melihat kelakuan Andre.