Janda Cantik Milik Pak Polisi

Janda Cantik Milik Pak Polisi
S2 -25


__ADS_3

Di saat Andre sedang sibuk menimang-nimang Kayla yang rewel, di tempat lain Friska sedang menikmati udara pagi di sekitaran taman kota yang begitu sejuk. Udaranya masih bersih, karena belum banyak aktifitas kendaraan bermotor yang beropersai. Ia yang sudah terbiasa lari pagi di setiap wekend, sengaja mengawali sabtu pertama di sana dengan jogging ke taman kota meskipun sendirian.


Bukan tidak ingin membantu sang kakak yang sedang kewalahan mengurus Kayla. Akan tetapi, saat Friska mencoba menggendog anak kecil itu tangisnya malah semakin kencang, hingga berujung dengan pengusirannya oleh Andre. "Ah ... kamu itu kayak mak lampir jadi Kayla makin kejer nangisnya," rutuk Andre saat itu. Friska pun memilih untuk pergi daripada mendengar lengkingan tangisan Kayla.


"Wajah cantik imut kayak gini di samain sama mak lampir, dasar kakak enggak ada akhlak," gumam Friska, begitu mengingat perkataan sang kakak sebelum dirinya keluar dari rumah. "Lihat, orang-orang saja sampai terpana dengan kecantikanku yang paripurna," gumamnya lagi, saat beberapa orang yang juga sedang lari, memperhatikannya dengan mata yang tidak berkedip. Bahkan, ada yang terang-terangan menggodanya meskipun Friska sama sekali tidak menggubris.


Friska pun menikmati area taman kota yang selalu menjadi tempat car free day setiap akhir pekan. Meskipun sendirian tidak menyurutkan niat Friska untuk membakar kalori di dalam tubuhnya itu.


"Sendirian aja, Neng!" Tiba-tiba seseorang berpakaian sedikit urakan mendekati Friska.


Friska melirik sekilas ke arah sumber suara yang sedabg berjalan di sampingnya. "Iya," jawabnya singkat.


"Kalau gitu abang temenin, ya!"


Dengan lancang lelaki itu menggenggam tangan Friska dan menggodanya.


"Anda jangan lancang!" Spontan, dengan penuh emosi Friska melepaskan tangan yang tanpa permisi mengenggamnya. Tadi memang ada yang menggodanya, tetapi hanya sebatas lewat suara. Tidak ada yang berani memegang seperti itu.


"Jangan galak-galak, Neng, entar cantiknya luntur!" ujarnya yang malah semakin menggoda Friska dengan tangan yang main colak-colek sana sini.


"Dan anda jangan berani-berani mengganggu saya, kalau anda tidak ingin berakhir menginap di rumah sakit dan paling parah menginap di hotel prodeo," ancam Friska, sambil menepis tangan yang menyentuhnya.


Mendengar perkataan Friska, lelaki yang tadi bersikap so lembut berubah menjadi beringas. "Sombong sekali kau ini? Apa kau tidak tahu siapa aku?" Lelaki itu mengcekal tangan Friska dengan sangat kuat.


"Aku tidak perlu tahu lelaki urakan sepertimu yang suka mengganggu orang lewat. Lepaskan!" Friska mencoba melepaskan tangannya dari cengkraman lelaki itu, tetapi kekuatan orang itu terlalu kuat.

__ADS_1


Sementara itu, orang-orang yang berlalulalang di sana tidak ada yang berani mendekati dan menolong Friska. Mereka semua enggan berurusan dengan lelaki itu yang terkenal sebagai preman di sana.


"Aku menyapamu dengan sangat baik, tapi kau malah membuatku marah. Hingga memmbuatku semakin ingin bermain-main denganmu," ujarnya dengan seringai jahat, sambil melambaikan tangan kepada beberapa orang yang berdiri tidak jauh dari tempat mereka berada.


"Menyapa tidak sopan saja disebut menyapa baik. Lalu bagaimana menyapa tidak sopan versinya dia?" rutuk Friska. 'Mimpi apa aku semalam, pagi-pagi buta kayak gini udah disuguhkan preman pasar macam mereka?' Friska melihat teman-teman orang itu semakin mendekat. 'Ayo, Fris! Cari ide, buat kabur dari mereka. Tidak akan ada yang menolongmu kalau bukan dirimu sendiri,' gumamnya, menyadari orang-orang di sana tidak ada yang peduli.


"Pak Polisi!" teriak Friska tiba-tiba yang membuat lelaki itu spontan melepaskan genggamannya.


Tidak ingin membuang kesempatan, Friska pun dengan cepat lari menjauh dari mereka. "Masih takut sama polisi, masih saja mau jadi preman. Mending bocan saja sambil ngempeng di ketek emak-mu di rumah sana!" teriak Friska sambil berlari.


"Hei, kau!" hardik lelaki itu yang merasa dibohongi, lalu mengejar Friska bersama anak buahnya.


Friska sendiri terus berlari sekencang mungkin. Ia yang awalnya hanya berniat joging malah lari maraton dengan kecepatan penuh karena tidak ingin terkejar oleh para preman tadi. Tidak sia-sia Friska pernah menjadi juara pertama lari maraton, dengan mudah gadis itu tidak terkejar lagi mereka. Namun, satu hal yang menjadi masalah sekarang, Friska tidak tahu sedang berada di wilayah apa. Ia sudah berlari sangat jauh menyusuri jalanan raya, bahkan batas car free day sudah terlewati sejak tadi.


Friska kebingungan sendiri. Ia menatap pertigaan jalan di hadapannya, entah jalan mana yang mau diambil? Ditambah lagi ponselnya tertinggal di rumah, membuat Friska semakin bingung, hingga sebuah teriakan mengagetkannya.


"Tolong hentikan kereta dorongnya! Hei, siapa pun di sana, tolong hentikan kereta dorongnya! Anakku di dalam sana," teriak seseorang.


"Oh, ya ampun!" Friska dikejutkan oleh kereta dorong yang berjalan sendiri di hadapannya dengan kondisi jalanan yang sedikit menurun serta seseorang yang berlari sambil melambai-lambai dan terus berteriak memintanya untuk menghentikan kereta dorong tersebut.


"Oh, tidak!" Dan yang lebih mengejutkan lagi, saat Friska menoleh ke belakangnya sebuah mobil besar sedang melaju dengan sangat kencang dengan jarak yang hanya terpaut beberapa meter saja. Jika kereta dorong itu terus melaju sudah dipastikan kereta itu akan bertabrakan dengan mobil itu.


Dengan cepat, tanpa memedulikan mobil yang semakin mendekat, Friska berlari ke tengah dan mendorong kereta itu ke tepi. Telat sedikit saja, bukan hanya si anak yang ada di kereta dorong, tetapi Friska juga akan terbentur dengan mobil truk yang sedang melaju dengan kecepatan tinggi.


"Aww ...." Friska membawa kereta dorong itu ke trotoar, tetapi karena terburu-buru ia tidak memperhatikan pembatas trotoar dan jalan. Gadis itu terjatuh dengan tangan yang masih mencoba mempertahankan anak di kereta tidak terjatuh. "Tenanglah jangan menangis, kamu tidak apa-apa," ucap Friska sambil menahan kereta dorong itu supaya tidak melaju lagi dengan tubuh yang sudah tergeletak di trotoar. Karena kakinya yang sakit, ia tak sanggup bangun.

__ADS_1


"Sayang kamu tidak apa-apa?" ucap seseorang kepada si anak, lalu mengambil si anak dari kereta dorong itu. Berkali-kali ia menciumi jagoannya yang hampir saja celaka karena kecerobohannya sendiri. "Sayang, maafkan papa! Papa sudah teledor," ucapnya sambil memeluk erat anaknya itu.


Sementara itu, Friska sedang meringis kesakitan. Kakinya semakin terasa sangat sakit. Namun, ia juga lega tidak terjadi apa-apa pada anak itu.


"Mbak, apa mbak tidak apa-apa? Terima kasih sudah menolong anak saya." Lelaki itu menghampiri Friska yang wajahnya masih terhalang rambut.


"Kakiku sakit," jawab Friska sambil meringis.


"Fris?" Spontan lelaki itu menyebut nama Friska, saat merasa kenal dengan suara gadis yang menolong anaknya.


Friska sendiri langsung menyibakkan rambutnya saat mendengar orang yang menyebut namanya dan ia juga hafal betul suara itu dan mendongak ke arah suara.


"Kakak!" pekik Friska, begitu melihat Ryan ada di hadapannya. "Jadi, yang aku tolong itu Alvino?" Friska sedikit tidak percaya. "Oh, ya, Tuhan. Ternyata dunia ini sempit sekali," ucapnya diakhiri dengan ringisan. Kakinya semakin sakit.


Ryan pun tidak kalah terkejutnya. Ia langsung membangunkan Friska. "Maaf, gara-gara kakak kamu jadi seperti ini. Terima kasih sudah menolong Al."


"Sama-sama, Kak."


"Apa yang sakit?" tanyanya lagi, melihat gadis di hadapannya terus meringis dengan air mata yang mulai menetes.


"Kakiku sakit, Kak. Sepertinya terkilir," jawab Friska.


"Kalu gitu coba kakak lihat!"


Ryan hendak melihat kaki Friska, tetapi dengan cepat Friska menolaknya. Friska yang trauma dipijat orang lain malah meminta lelaki itu mengantarnya pulang.

__ADS_1


__ADS_2