Janda Cantik Milik Pak Polisi

Janda Cantik Milik Pak Polisi
35


__ADS_3

Andre mulai merasa khawatir, sudah berpuluh-puluh kali ia menghubungi nomor Irma, tetapi tak ada satu panggilan pun yang diterima oleh wanita itu.


"Bagaimana ini? Kenapa gak diangkat mulu, sih?" gerutu Andre sambil hilir mudik di depan Friska. Perasaan lelaki itu, mulai tak tenang. Ia takut dengan kejadian ini, Irma malah akan semakin jauh darinya. "Angkat, Ir! Please angkat!"


"Kak, bisa gak sih, nelponnya gak usah sambil mondar-mandir? Kepalaku yang abis mabuk perjalanan, malah tambah puyeng liat dirimu ke sana kemari di depan muka," omel Friska, yang malah mendapat pelototan Andre. "Ya, terserahmu saja! Lagian aku cuma numpang liburan doang," lanjutnya, saat melihat mata sang kakak sudah siap menelannya hidup-hidup.


Tak ada lagi pembicaraan dari mereka. Friska lebih memilih diam sambil menikmati kripik super pedas yang sedikit bisa mengurangi rasa mualnya, membiarkan Andre yang masih sibuk dengan ponsel. Entah masih menghubungi sang gebetan, atau sedang apa? Kalau sudah mendapatkan pelototan, Friska akan memilih diam dan tak peduli. Karena jika ikut campur, dia sendiri yang malah akan kena imbasnya.


"Ah, dia benar-benar merajuk! Nunggu besok kelamaan." Andre melemparkan tubuhnya ke sofa.


Melihat sang kakak yang tampak begitu frustrasi, membuat Friska sedikit iba. 'Kasian kali nasibmu, Kak. Enggak ada mujur-mujurnya kalau soal cinta.' Friska pun mendekati Andre dan mencoba menenangkannya. "Sabar, Kak, jangan dulu berpikir yang bukan-bukan! Siapa tahu benar kata mamahnya, dia memang sudah tidur jadi gak bisa angkat telepon. Positive thinking dulu! Jangan negative mulu," imbuhnya sambil menepuk bahu lelaki yang sudah sangat kusut itu.


"Ya, benar juga katamu," desah Andre, mencoba menenangkan pikirannya.


"Aku memang selalu benar." Friska memamerkan lesung pipit yang tertampil saat ia tersenyum, begitu manis. "Mau?" Gadis itu menyodorkan kripik yang sedang dipegang. "Lumayan pedasnya bisa jadi penawar, jika besok dia benar-benar meninggalkanmu," lanjutnya, menggoda Andre.


"Dasar adik durhaka, malah doain yang enggak-enggak!" Andre menepak tangan Friska.


"Kakak!" pekik Friska saat mendapati kripik yang dipegangnya tumpah ke muka.


"Ups! Sorry!" Sebenarnya, Andre hanya bercanda memukul tangan Friska, tak menyangka kalau kripik singkong super pedas itu akan tumpah di si adik.


"Kakak, balas dendamnya gak asyik. Mataku perih!"

__ADS_1


"Maaf, gak sengaja. Lagian salah sendiri, kakak lagi pusing bercandanya gak lucu." Andre berujar sembari membersihkan muka sang adik.


"Mataku masih perih. Tiup, Kak!" rintih Friska


"Sini, coba kakak liat!" Andre mendekati wajah Friska, hendak meniup mata  Friska yang masih dikucek-kucek oleh pemiliknya karena perih. "Jangan dikucek mulu!"


Lantas, Andre menangkup wajah sang adik, membuat jarak diantara begitu sangat dekat. Bertepatan dengan itu, Naura baru saja tiba di rumah Andre. Ia yang langsung menerobos masuk, melihat jelas mereka yang sangat dekat, sehingga ibu hamil itu semakin salah paham. Ia yang dari rumah sudah membawa emosi, melihat kedekatan mereka membuat emosinya semakin membuncah.


Naura yang sedang berdiri di samping ikan koki, tanpa sadar ia langsung meraih wadah ikan koki dan menjinjingnya, mendekati lelaki yang masih meniup mata Friska.


"Andre! Apa-apaan ini? Apa kau sudah bosan hidup, hah?" Naura mengguyur Andre dengan air dari wadah ikan koki hampir ¾ wadah.


"Aww ... dingin!" pekik Andre, terkejut tiba-tiba ada orang yang mengguyurnya.


"Apa-apaan sih, ini?" Andre mengumpat kepada orang yang telah membuat basah kuyup, padahal tidak hujan.


"Apa? Kau masih nanya apa? Ini apa-apaan?" tanya Naura menunjuk ke arah mereka berdua dengan tak kalah galaknya.


Mendapati Naura yang siap menerkam iti, membuat nyali Andre tiba-tiba menciut.


"Eh, kamu Ra! Kamu salah paham, Ra." Andre bicara dengan sangat hati-hati.


"Kak, apa kau menghamili anak orang? Dia siapa? Apa dia yang dari tadi kau hubungi?" bisik Friska dengan mata yang tak berhenti memandang Naura dari atas sampai bawah.

__ADS_1


"Kalau bicara jangan ngaco! Dia itu—"


"Kak Dimas!"


Belum sempat Andre menjelaskan, tiba-tiba Dimas juga sampai di dalam rumah Andre dan ia sangat terkejut melihat sofa dan kedua orang di depannya sudah basah kuyup.


"Kalian kenapa basah-basahan?" tanya Dimas keheranan, lalu matanya tertuju pada sang istri yang masih menenteng wadah ikan hias yang airnya tinggal sedikit. 'Ya, ampun, Ra!'


Friska begitu terpukau saat melihat kedatangan sahabat kakaknya. Refleks, ia langsung memanggil Dimas dan berlari ke arah lelaki itu, tanpa mendengarkan jawaban Andre.


"Dia itu istrinya Dimas," jawab Andre, tetapi sayang jawabannya telat. Friska sudah memeluk Dimas, tanpa mendengarkan ucapannya. "Masalah baru lagi!" gumam Andre sembari menepuk jidat.


Sementara itu, mata elang yang tadi siap menerkam Andre, kini beralih ke arah sang suami.


"Kak Dimas, apa kabar? Aku sangat merindukanmu," ucap Friska sambil memeluk lelaki yang sedang mematung karena terkejut oleh perlakuanya.


"Kabar baik, Fris. Tapi, bisakah lepaskan pelukanmu!" Dimas berusaha melepaskan pelukan Friska, apalagi melihat Naura yang sudah mendekat ke arahnya masih dengan menenteng wadah ikan hias. "Jangan sampai sisa air di wadah itu mengguyurku juga," lanjutnya.


"Apa kau mau aku mengguyurmu juga?" sarkas Naura dengan emosi yang semakin menjadi, mungkin jika dalam komik di kepalanya itu sudah mengeluarkan tanduk dan asap hitam.


"Tidak, Sayang. Kau telah salah paham."


"Sayang?" Friska melonggarkan pelukkannya, menatap bergantian Dimas dan Naura.

__ADS_1


"Iya, sayang karena aku istrinya. Jadi, jauh-jauh dari suamiku jika kau tak mau aku sumpalkan ikan koki ini ke mulutmu," ancam Naura. Ia menarik baju Friska, membuat gadis itu mundur menjauh dari Dimas. "Kalau kakakku cuma bisa memecahkan telur ayam dua kilogram. Kalau aku bisa memecahkan telur kalian berdua. Awas saja, kalau kalian berani macam-macam denganku!" Naura menunjuk Dimas dan Andre bergantian, membuat dua lelaki yang mengerti maksud Naura langsung menelan salivanya yang tiba-tiba terasa seret.


__ADS_2